Jokowi dan PSI Safari Politik ke Lampung, Respon Gerindra Riau
Nolpitos Hendri July 01, 2026 10:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Riau memilih tidak menanggapi secara khusus safari politik yang dilakukan Presiden ke-7 RI Joko Widodo  atau Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke sejumlah daerah.

Sebelumnya, Joko Widodo diketahui telah melakukan safari politik ke Provinsi Lampung. Sementara hingga kini belum ada informasi ataupun jadwal kunjungan serupa ke Provinsi Riau.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Riau, Ginda Burnama, mengatakan pihaknya belum membahas agenda safari politik tersebut di internal partai.

Menurut Ginda, seluruh kader Gerindra saat ini diarahkan untuk fokus menjalankan tugas dan bekerja membantu masyarakat sesuai arahan Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Presiden RI, Prabowo Subianto.

"Untuk itu kami tidak membahas hal tersebut. Pak Prabowo hanya berpesan kepada kami agar fokus bekerja membantu rakyat," ujar Ginda Burnama.

Ia menegaskan, perhatian Gerindra saat ini lebih diarahkan pada upaya mengawal program-program pemerintah dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Terkait munculnya informasi mengenai pembentukan relawan Gibran di sejumlah daerah yang disebut-sebut mulai dipersiapkan menghadapi Pemilu 2029, Ginda menyebut pihaknya juga belum pernah membahas persoalan tersebut.

"Yang menjadi fokus kami saat ini adalah menjalankan instruksi Ketua Umum, yakni bekerja sebaik-baiknya untuk membantu rakyat. Soal isu politik 2029 belum menjadi pembahasan di Gerindra Riau," jelasnya.

Safari Politik Jokowi di Lampung

Safari politik mantan presiden RI Joko Widodo atau Jokowi di Provinsi Lampung bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi sorotan menjelang Pemilu 2029.

Selama berada di Lampung pada 26-28 Juni 2026, Jokowi menghadiri sejumlah agenda PSI, menerima gelar adat, bertemu masyarakat, menyambangi kegiatan UMKM, hingga bersilaturahmi ke pondok pesantren.

Kehadiran Jokowi di sejumlah agenda PSI dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat citra partai yang kini dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

Namun, pengamat politik menilai popularitas Jokowi belum tentu otomatis mengerek suara PSI pada Pemilu 2029.

Pengamat politik sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Robi Cahyadi Kurniawan, menilai safari politik Jokowi di Lampung bukan sekadar agenda seremonial.

Menurut Robi, kunjungan itu dapat dibaca sebagai upaya Jokowi mengukur kembali popularitasnya di lapangan sekaligus melihat loyalitas pendukungnya.

“Safari ini menjadi upaya Pak Jokowi untuk mengukur kembali popularitas di lapangan, sekaligus melihat sejauh mana loyalitas pendukungnya dalam konteks keberlanjutan pengaruh politik keluarga,” ujar Robi Cahyadi Kurniawan saat dikonfirmasi, Minggu (28/6/2026).

Robi mengatakan, Lampung memiliki karakter politik yang menarik. Selain memiliki jumlah pemilih asal Jawa yang besar, Lampung juga memiliki masyarakat adat yang masih memegang nilai-nilai tradisional.

"Lampung memiliki karakteristik politik yang menarik karena menjadi salah satu daerah dengan jumlah pemilih asal Jawa yang besar, sekaligus memiliki masyarakat adat Lampung yang masih memegang nilai-nilai tradisional. Penganugerahan gelar adat kepada Jokowi dapat dibaca sebagai upaya membangun kedekatan simbolik dengan masyarakat adat," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Robi, secara geografis dan demografis, Lampung menjadi wilayah strategis untuk membangun komunikasi politik.

Gelar Adat Dinilai Tak Otomatis Jadi Dukungan Politik

Dalam kunjungannya, Jokowi menerima gelar adat Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).

Robi menilai penganugerahan gelar adat itu tidak bisa langsung dimaknai sebagai instrumen elektoral.

Menurut dia, gelar adat harus dilihat sebagai bagian dari tradisi masyarakat Lampung, khususnya adat Sai Batin, dalam memberikan penghormatan kepada tamu kehormatan.

“Gelar adat itu bersifat seremonial dan merupakan bentuk penghormatan. Dalam tradisi Sai Batin, hal tersebut lumrah dan tidak berkaitan langsung dengan konversi dukungan politik, khususnya pemilih pemula,” jelasnya.

Robi juga menyebut antusiasme masyarakat yang hadir dalam sejumlah agenda Jokowi belum tentu menjadi tanda dukungan politik kepada PSI.

"Antusiasme masyarakat lebih mencerminkan rasa ingin tahu terhadap sosok mantan presiden yang datang ke daerah mereka. Itu belum tentu menjadi indikator pilihan politik pada pemilu mendatang," pungkasnya.

Jokowi Dinilai Bisa Bantu Branding PSI

Robi mengatakan, kehadiran Jokowi dalam agenda Rakorda PSI dapat dilihat sebagai bagian dari strategi memperkenalkan PSI di daerah.
Menurut dia, PSI masih tergolong partai baru dan pada Pemilu 2024 belum mampu menembus ambang batas parlemen.

"PSI merupakan partai yang relatif baru. Pada Pemilu 2024 perolehan suaranya belum mampu melampaui ambang batas parlemen. Karena itu, kehadiran Jokowi bisa dipandang sebagai bagian dari strategi branding agar PSI lebih dikenal masyarakat, termasuk di Lampung," katanya.

Meski demikian, Robi menilai efek Jokowi terhadap suara PSI tidak bisa dianggap otomatis.

"Popularitas Jokowi belum tentu memberikan efek elektoral yang signifikan terhadap PSI. Saat Jokowi masih menjabat Presiden pun, PSI tetap belum mampu menembus parliamentary threshold," ujarnya.

Ia juga menegaskan, basis pendukung Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019 tidak dapat serta-merta dipindahkan menjadi dukungan untuk PSI.

“Tidak bisa langsung dipindahkan. Saat ini Pak Jokowi sudah tidak memiliki instrumen kekuasaan formal, sehingga pengaruh politiknya dalam mendorong PSI menjadi partai besar juga terbatas,” ujarnya.

Ceruk Suara PDIP Bisa Diperebutkan

Robi menilai hubungan politik Jokowi dan PDI Perjuangan yang semakin renggang sejak Pemilu 2024 ikut mewarnai kunjungan tersebut.

Menurutnya, kondisi itu terlihat dari minimnya keterlibatan tokoh-tokoh PDIP dalam penyambutan Jokowi selama berada di Lampung.

Jika PSI bergerak agresif, Robi menyebut masih ada peluang pergeseran sebagian basis suara, terutama dari pemilih cair yang selama ini dekat dengan partai-partai besar.

“Secara historis, karena Pak Jokowi pernah berangkat dari PDI Perjuangan, maka sebagian pemilih cair dari basis tersebut berpotensi menjadi ceruk suara yang diperebutkan,” katanya.

Namun, ia menilai pergeseran itu belum tentu signifikan. Sebab, suara partai tidak hanya dipengaruhi figur nasional, tetapi juga struktur partai, mesin politik, dan loyalitas pemilih lokal.

Data Suara: PSI Naik, tetapi Masih Jauh dari Partai Besar

Berdasarkan data rekapitulasi resmi KPU yang tercantum dalam sumber, suara PSI di Lampung memang meningkat pada Pemilu 2024 dibanding 2019.

Pada Pemilu 2019, PSI meraih 40.790 suara untuk Pileg DPR RI di Lampung. Pada Pemilu 2024, suara PSI naik menjadi 94.438 suara.

Namun, angka tersebut masih jauh di bawah partai besar seperti Gerindra dan PDI Perjuangan.

Pada Pemilu 2024, Gerindra meraih 812.259 suara, sedangkan PDI Perjuangan mendapat 705.518 suara di Lampung.

Perolehan Suara Pileg DPR RI di Lampung

Berikut data perolehan suara PSI dikutip dari Tribun Lampung :

Pemilu 2014

PDI Perjuangan: 901.401 suara
Gerindra: 495.667 suara

Pemilu 2019

PDI Perjuangan: 888.358 suara
Gerindra: 505.419 suara
PSI: 40.790 suara

Pemilu 2024

Gerindra: 812.259 suara
PDI Perjuangan: 705.518 suara
PSI: 94.438 suara

Jejak Suara Jokowi dan Gibran di Lampung

Lampung juga tercatat menjadi salah satu daerah dengan perolehan suara besar bagi pasangan yang terkait dengan Jokowi dalam Pilpres.
Pada Pilpres 2014, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla meraih 2.299.889 suara atau 53,07 persen di Lampung.

Pada Pilpres 2019, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin meraih 2.853.585 suara atau 59,34 persen.

Pada Pilpres 2024, pasangan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka meraih 3.554.310 suara atau 69,55 persen di Lampung.

Perolehan Suara Pilpres di Lampung

Pilpres 2014

Jokowi-Jusuf Kalla: 2.299.889 suara atau 53,07 persen dari total 4.333.813 suara sah.

Pilpres 2019

Jokowi-Ma’ruf Amin: 2.853.585 suara atau 59,34 persen dari total 4.808.974 suara sah.

Pilpres 2024

Prabowo-Gibran Rakabuming Raka: 3.554.310 suara atau 69,55 persen dari total 5.110.688 suara sah.

Meski angka tersebut menunjukkan kekuatan elektoral figur Jokowi dan keluarganya di Lampung, Robi menilai hal itu tidak otomatis menjadi modal suara bagi PSI.

Jokowi Pasang Target Pengenalan PSI 98 Persen

Dalam Rakorda PSI di Pondok Rimbawan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026), Jokowi menyinggung target besar PSI menjelang Pemilu 2029.

Ia menyebut pengenalan publik terhadap PSI saat ini berada di angka 78 persen, sedangkan target yang ingin dicapai adalah 98 persen.

"Berarti masih ada selisih 20 persen yang harus dikejar. Yang mengenal logo gajah PSI juga baru sekitar 48 persen. Ini harus terus dikenalkan," urainya.

Jokowi juga mengapresiasi struktur PSI Lampung yang disebut telah terbentuk hingga tingkat bawah.

“Saya sangat mengapresiasi DPC PSI Bandar Lampung karena sudah sekitar 92 persen menyusun struktur sampai tingkat kelurahan dan ranting. Itu juga yang menjadi alasan saya datang ke Lampung, karena pembentukan struktur PSI di tingkat kelurahan, desa, dan ranting di Lampung secara umum sudah mencapai lebih dari 90 persen,” ungkap Jokowi disambut gemuruh tepuk tangan kader.

Menurut Jokowi, struktur partai yang besar harus benar-benar bergerak dan hadir di tengah masyarakat.

“Ini akan menjadi mesin yang besar dan mesin yang kuat. Tetapi struktur itu harus menjadi mesin yang hidup dan bekerja. Saya selalu mengulang-ulang, mesin partai harus hidup dan bekerja,” tegasnya dengan nada artikulatif.

Kader PSI Diminta Rajin Takziah dan Kondangan

Jokowi meminta kader PSI tidak hanya bergerak melalui pendekatan politik formal.

Ia mendorong kader PSI hadir di ruang sosial masyarakat, termasuk dalam kegiatan warga seperti takziah dan hajatan.

“Kader PSI harus dekat dengan rakyat. Misalnya ada warga yang berduka, datang bertakziah. Ada hajatan (kondangan), datang. Kita ingin memiliki jiwa sosial yang baik sehingga kehadiran partai benar-benar dirasakan masyarakat,” cetus ayah Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep ini.

Jokowi juga mengaitkan Lampung dengan identitas gajah yang kini menjadi simbol PSI.

“Lampung identik dengan gajah. Itu juga menjadi satu di antara alasan kuat mengapa saya memilih datang dan turun langsung ke Lampung,” selorohnya.

Dalam pidatonya, Jokowi menegaskan bahwa target PSI pada Pemilu 2029 bukan hanya lolos ke Senayan.

Ia menyebut target partai jauh lebih besar, meski tidak menjelaskan secara rinci karena disebut sebagai urusan internal.

“Target kita bukan target kecil. Bukan hanya masuk Senayan. Kalau masuk Senayan saya kira pasti (lolos). Tetapi target yang kita pasang jauh lebih besar dari itu. Namun, itu urusan internal dapur partai,” pungkas Jokowi sembari melempar senyum tipis.

Jokowi juga memberi sinyal kedekatannya dengan PSI ketika ditanya soal jaket PSI yang dikenakannya.

"Kalau seseorang sudah memakai baju, artinya tahu sendiri," kata Jokowi.

Politisi Kawakan Lampung Bergabung ke PSI

Di tengah safari politik tersebut, PSI juga memperkenalkan sejumlah politisi lokal yang bergabung ke partai itu.

Nama-nama yang diperkenalkan antara lain mantan Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara, eks Ketua PPP Lampung Supriyanto, mantan Sekkab Lampung Utara Samsir, dan mantan anggota DPRD Lampung dari Fraksi PDIP, Sahlan Syukur.

Kehadiran tokoh lokal itu menjadi bagian dari upaya PSI memperkuat mesin politik di Lampung menjelang Pemilu 2029.

Safari Jokowi Juga Disambut Demo

Kunjungan Jokowi ke Lampung tidak hanya disambut pendukung dan kader PSI.

Pada Sabtu (27/6/2026), Forum Suara Masyarakat Lampung menggelar aksi demonstrasi di kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung.

Massa menyatakan penolakan terhadap kedatangan Jokowi ke Lampung dan mengangkat isu ijazah Jokowi.

Koordinator lapangan aksi, Gunawan Parikesit, menyebut massa ingin bergerak ke Gedung Rimbawan, lokasi Rakorda PSI Kota Bandar Lampung yang dihadiri Jokowi.

"Orang yang kita tolak, Jokowi, ada di Rimbawan. Kita akan ke sana!" pekik Gunawan.

Gunawan juga mengkritik kepemimpinan Jokowi selama dua periode sebagai presiden.

"Jokowi telah membuat negara hancur sehancur-hancurnya dan rakyat Indonesia miskin semiskin-miskinnya," tuding Gunawan.

Massa kemudian meneriakkan penolakan terhadap Jokowi.

"Usir Jokowi! Usir! Usir!" teriak ratusan wanita bergamis hitam.

Safari politik Jokowi di Lampung dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan PSI lebih luas, terutama karena partai itu sedang membangun struktur hingga tingkat akar rumput.

Namun, berdasarkan pandangan pengamat, popularitas Jokowi tidak otomatis berbanding lurus dengan suara PSI.

Kenaikan suara PSI di Lampung pada Pemilu 2024 menunjukkan adanya pertumbuhan, tetapi jaraknya masih jauh dibanding partai besar yang sudah memiliki mesin politik kuat.

( Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.