Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Rantai penularan penyakit malaria yang terus membayangi warga di kawasan pesisir Kabupaten Pesawaran, Lampung, memantik reaksi keras dari legislatif.
Baca juga: Rusaknya Hutan Mangrove Dinilai Jadi Biang Kerok Tingginya Kasus Malaria di Pesawaran
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pesawaran, Muhammad Rinaldi, menegaskan bahwa strategi perang melawan malaria tidak akan pernah tuntas secara berkelanjutan jika pemerintah daerah hanya mengandalkan sektor pelayanan kesehatan dan pembagian obat semata.
Infrastruktur buruk dan abainya tata ruang lingkungan dinilai menjadi hulu utama yang memanjakan nyamuk Anopheles selaku vektor penyakit untuk terus berkembang biak dengan subur di permukiman warga.
Rinaldi mengungkapkan, jajarannya di parlemen kerap kali menerima jeritan dan keluhan langsung dari masyarakat pesisir, khususnya yang mendiami wilayah Kampung Baru, Kecamatan Marga Punduh, serta Desa Sukarame, Kecamatan Punduh Pidada, yang hingga kini masih menyandang status zona rawan penularan.
“Iya benar, saya sering mendapat keluhan dari masyarakat, biasanya dari Kampung Baru di Marga Punduh dan Sukarame di Punduh Pidada terkait malaria,” ujar Muhammad Rinaldi kepada Tribun Lampung, Rabu (1/7/2026).
Dari kacamata pengawasan legislatif, Rinaldi menilai performa dinas kesehatan melalui puskesmas di garda terdepan wilayah pesisir sebenarnya sudah menjalankan tugas kedinasan dengan sangat baik.
Ketersediaan draf logistik obat-obatan antimalaria maupun kesigapan tim medis dalam merawat para pasien yang tumbang dipastikan aman dan tidak mengalami kendala operasional yang berarti.
“Kalau puskesmas siap. Stok obat tersedia dan pelayanan maupun perawatan sejauh ini aman,” jelasnya.
Namun, politisi ini menggarisbawahi bahwa kesiapan medis tersebut akan menjadi sia-sia jika faktor eksternal di luar rumah sakit diabaikan.
Masalah fundamentalnya berada pada kondisi geografis dan infrastruktur pemukiman yang rusak, sehingga menciptakan ekosistem buatan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk secara masif.
Rinaldi membeberkan, tantangan berat penanganan malaria di Pesawaran saat ini murni terganjal sektor infrastruktur fisik.
Di satu sisi, kawasan pesisir tersebut dipenuhi oleh hamparan rawa alam serta ratusan petak bekas tambak udang atau ikan yang sudah telantar dan tidak lagi dikelola oleh pemiliknya.
Kondisi diperparah dengan hancurnya sejumlah ruas jalan penghubung antardusun di dalam desa.
Saban kali hujan turun, jalanan berlubang tersebut langsung berubah menjadi kubangan air tawar raksasa yang menetap lama karena buruknya sistem drainase.
Meskipun tim medis dari Puskesmas Punduh Pidada maupun Puskesmas Maja sudah rutin melakukan tindakan preventif berupa pengasapan (fogging) secara berkala ke rumah-rumah warga, langkah itu dinilai hanya sekadar peredam instan.
“Penyemprotan memang rutin dilakukan oleh puskesmas. Tetapi kalau sarang-sarang nyamuknya tidak dibenahi, ya kondisinya akan seperti itu terus. Apalagi di sana juga banyak kawasan rawa,” tukasnya masygul.
Berkaca dari kebuntuan tersebut, Komisi IV DPRD Pesawaran mendesak bupati untuk segera menerapkan strategi kolaborasi lintas sektor atau pentahelix.
Penanganan penyakit menular ini tidak boleh lagi dibebankan sepihak ke pundak jajaran tenaga kesehatan.
Rinaldi meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pesawaran segera turun ke lapangan guna mengaudit dan memperbaiki akses jalan dusun yang rusak demi mengeliminasi genangan air hujan.
Di saat yang sama, dinas yang membidangi perizinan usaha dan instansi penegak perda diminta proaktif melakukan survei lapangan serta mendata kepemilikan tambak-tambak mangkrak untuk dipaksa melakukan reklamasi atau penataan ulang lingkungan.
“Yang harus dilakukan sebenarnya Dinas PUPR memperbaiki jalannya. Kemudian dinas yang membidangi perizinan atau instansi terkait juga perlu melakukan survei terhadap tambak-tambak yang sudah tidak dimanfaatkan."
"Kalau infrastrukturnya dibenahi dan kawasan tambaknya ditata, Insya Allah jumlah kasus malaria bisa menurun drastis,” pungkas Rinaldi optimis.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)