Jayapura (ANTARA) - Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menawarkan strategi Papua Pacific Gateway kepada Menteri Luar Negeri Sugiono sebagai upaya memperkuat peran Papua dalam mendukung diplomasi Indonesia di kawasan Pasifik melalui pendekatan olahraga, budaya, dan pariwisata.

"Pada Selasa (30/6) kami bertemu Menteri Luar Negeri Sugiono di Kantor Kementerian Luar Negeri di mana pada pertemuan tersebut memaparkan konsep yang menempatkan Papua sebagai pintu gerbang hubungan Indonesia dengan negara-negara Melanesia dan Pasifik," kata Fakhiri.

Menurut dia, pendekatan melalui olahraga, budaya, dan pariwisata merupakan bentuk diplomasi lunak (soft diplomacy) yang dinilai efektif untuk membangun hubungan antarmasyarakat sekaligus memperkuat citra positif Papua di mata dunia.

"Kami juga membahas bagaimana kegiatan olahraga menjadi jembatan, kemudian budaya dan pariwisata menjadi pendekatan yang paling lunak untuk membangun pandangan positif tentang Papua," ujarnya.

Fakhiri menjelaskan kehadiran atlet, wisatawan, maupun delegasi dari negara-negara Pasifik di Papua diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi mereka untuk melihat secara langsung perkembangan daerah sehingga mampu membangun pemahaman yang lebih baik mengenai Papua.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi Papua mengusulkan agar Kementerian Luar Negeri berperan sebagai koordinator lintas kementerian dan lembaga sehingga implementasi strategi Papua Pacific Gateway dapat berjalan secara terpadu.

"Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi Papua meminta Kementerian Luar Negeri berperan sebagai koordinator lintas kementerian dan lembaga agar implementasi strategi tersebut dapat berjalan secara terpadu," katanya lagi.

Pemerintah Provinsi Papua menargetkan pelaksanaan awal program dimulai pada Agustus 2026 dengan mengundang sejumlah negara Pasifik mengikuti agenda olahraga internasional di Papua, termasuk peluang penyelenggaraan Piala Kemerdekaan U-18 di Jayapura.

"Melalui strategi Papua Pacific Gateway kami juga mendorong penguatan koridor budaya Melanesia, pengembangan sektor pariwisata, peningkatan konektivitas internasional melalui Bandara Sentani dan Bandara Frans Kaisiepo Biak, serta kerja sama lintas batas dengan Papua Nugini guna menjadikan Papua sebagai wajah Indonesia di kawasan Pasifik," ujarnya.