Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Di tengah aktivitasnya sebagai nelayan di pesisir Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Mawar Riyadi harus berulang kali berhadapan dengan penyakit yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian warga setempat: malaria.
Baca juga: Harga Cabai di Pasar Induk Metro Turun Pedagang Sebut Pasokan Melimpah
Ia mengaku bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi beberapa kali terserang penyakit tersebut sepanjang hidupnya sebagai nelayan.
“Kalau takut sih tidak, karena memang sudah seperti penyakit endemik di sini. Tapi kalau sudah kena, memang sangat menderita,” kata Riyadi kepada Tribun Lampung, Rabu (1/7/2026).
Pengalaman berulang itu membuatnya cukup mengenali tanda-tanda awal penyakit. Menurut Riyadi, gejala biasanya dimulai dari demam yang disertai tubuh menggigil, nyeri sendi, serta rasa lemas yang menyebar ke seluruh badan.
“Awalnya demam, badan terasa linu, kemudian kepala pusing,” ujarnya.
Ia menuturkan, kondisi demam tidak selalu menetap sepanjang hari. Dalam beberapa kasus, tubuh sempat terasa membaik pada pagi hari, namun keluhan kembali muncul saat siang hingga malam.
“Kalau pagi badan terasa enak, nanti siang mulai demam lagi. Menjelang sore sampai malam biasanya menggigil,” katanya.
Pengalaman berulang sakit malaria juga membuat Riyadi memahami pola pengobatan yang ia jalani. Ia biasanya melakukan pemeriksaan darah setelah beberapa hari demam untuk memastikan diagnosis sebelum mendapatkan obat khusus malaria.
“Biasanya diperiksa darah dulu untuk memastikan, setelah itu baru diberi obat malaria,” ujarnya.
Riyadi mengaku selalu menjalani pengobatan di UPTD Puskesmas Hanura dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk menghabiskan seluruh obat yang diberikan, meski gejala sudah mereda.
“Obatnya harus dihabiskan sekitar satu minggu walaupun badan sudah terasa enak,” katanya.
Ia menambahkan, pengalaman sakit berulang membuatnya lebih waspada terhadap gejala yang muncul, terutama karena penyakit tersebut bisa kembali kambuh jika tidak ditangani secara tuntas.
“Kadang sudah terasa sehat, tapi malamnya demam lagi,” ujarnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia juga melihat sejumlah rekan sesama nelayan mengalami keluhan serupa. Kondisi itu membuat malaria seolah menjadi risiko yang melekat pada aktivitas mereka di kawasan pesisir.
“Beberapa teman juga sempat kena beberapa bulan lalu,” katanya.
Riyadi menduga lingkungan sekitar, termasuk area tambak yang sudah tidak beroperasi, turut berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Meski demikian, ia menegaskan hal tersebut hanya berdasarkan pengamatannya sebagai warga.
“Menurut saya mungkin karena tambak yang sudah tidak aktif, jadi tempat nyamuk berkembang,” ujarnya.
Ia berharap upaya pengendalian malaria di wilayah pesisir Teluk Pandan terus diperkuat, baik melalui layanan kesehatan maupun perbaikan lingkungan, agar kasus yang berulang di kalangan nelayan dapat ditekan.
Wilayah Endemis Malaria
Tingginya kasus malaria di wilayah kerja UPTD Puskesmas Hanura ternyata tidak tersebar merata di seluruh Kecamatan Teluk Pandan. Dari 10 desa yang ada, hanya enam desa pesisir yang ditetapkan sebagai lokus malaria karena memiliki habitat alami nyamuk Anopheles, vektor penyebab penyakit tersebut.
Kepala UPTD Puskesmas Hanura, Nazlina Mayanti, mengatakan enam desa yang masuk wilayah endemis malaria yakni Sukajaya Lempasing, Hurun, Hanura, Sidodadi, Gebang, dan Batu Menyan.
Sementara desa-desa yang berada di kawasan perbukitan atau pegunungan tidak termasuk wilayah endemis karena jauh dari lokasi perkembangbiakan nyamuk.
“Di Kecamatan Teluk Pandan ada 10 desa, tetapi yang menjadi daerah endemis hanya enam desa di sepanjang garis pantai. Desa-desa yang berada di atas gunung tidak masuk karena jauh dari tempat perindukan nyamuk malaria,” kata Nazlina kepada Tribun Lampung, Rabu (1/7/2026).
Menurut dia, keberadaan nyamuk Anopheles sangat dipengaruhi kondisi lingkungan.
Berbeda dengan jenis nyamuk lainnya, Anopheles berkembang biak di kawasan air payau yang banyak ditemukan di sepanjang pesisir Teluk Pandan.
“Walaupun di daerah pegunungan juga ada nyamuk, jenisnya berbeda. Nyamuk malaria hidup di daerah pesisir, di sekitar air payau,” ujarnya.
Nazlina menjelaskan, bahkan di enam desa endemis tersebut tidak seluruh dusun menjadi wilayah penularan malaria.
Kasus hanya terkonsentrasi di dusun-dusun yang berada di sekitar garis pantai, terutama yang berdekatan dengan tambak, rawa, laguna, kolam, kubangan, maupun saluran air yang menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk.
“Enam desa itu pun tidak semuanya menjadi kantong malaria. Yang menjadi lokus hanya dusun-dusun tertentu yang berada dekat tempat perindukan nyamuk,” katanya.
Berdasarkan pemetaan UPTD Puskesmas Hanura, kantong-kantong penularan malaria tersebar di sejumlah dusun pesisir yang memiliki karakteristik lingkungan sesuai habitat Anopheles.
Di Desa Sukajaya Lempasing, wilayah yang menjadi lokus meliputi Dusun 3 Laut dan Dusun 7 Mutun yang dikelilingi tambak, laguna, rawa, kubangan, kolam, sungai, serta saluran air.
Di Desa Gebang, penyebaran malaria tercatat di lima dusun, yakni Tanjung Jaya, Seribu, Induk, Hilir, dan Suko Agung. Seluruhnya memiliki kombinasi habitat berupa tambak, rawa, kolam, selokan, maupun kubangan yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.
Sementara di Desa Hanura, kantong malaria berada di Dusun B dan Dusun C yang berada di kawasan pesisir dengan tambak, rawa, laguna, serta kubangan. Di Desa Sidodadi, wilayah yang menjadi lokus adalah Dusun 1 dan Dusun 2 yang dikelilingi tambak, laguna, rawa, kolam, kubangan, dan saluran air.
Adapun di Desa Batu Menyan, penyebaran malaria terkonsentrasi di Dusun Ketapang, Dusun Cibeurem, serta kawasan RT 7, RT 8, dan RT 9 yang berada di sekitar kawasan pesisir dengan habitat nyamuk berupa laguna, rawa, kolam, kubangan, dan saluran air.
Sementara itu, di Desa Hurun, sejumlah dusun pesisir juga masuk dalam lokus malaria karena berada di sekitar tambak, laguna, rawa, kubangan, dan genangan air payau yang menjadi habitat Anopheles. Wilayah-wilayah tersebut terus menjadi sasaran surveilans, pemeriksaan aktif, penyemprotan, serta pemantauan rutin oleh petugas Puskesmas Hanura.
Nazlina menegaskan, pemetaan hingga tingkat dusun menjadi dasar seluruh program pengendalian malaria. Penanganan tidak dilakukan secara menyeluruh di tingkat desa, melainkan difokuskan pada dusun-dusun pesisir yang memiliki risiko penularan paling tinggi.
“Kami tidak menyasar satu desa secara keseluruhan. Penanganan difokuskan pada dusun-dusun yang memang berada di sekitar pesisir dan dekat tempat perindukan nyamuk,” ujarnya.
Selain memetakan wilayah penularan, Puskesmas Hanura juga mengidentifikasi sejumlah titik utama perkembangbiakan nyamuk malaria. Salah satunya berada di kawasan tambak terlantar di Desa Hanura yang selama ini menjadi habitat Anopheles.
Data Puskesmas Hanura menunjukkan sebagian besar lokasi perindukan berada di tambak yang tidak lagi produktif, laguna, rawa, kubangan bekas tambak, saluran air, hingga kolam yang tidak terawat.
Menurut Nazlina, karakteristik lingkungan tersebut menjadi faktor utama yang membedakan wilayah pesisir dengan desa-desa di kawasan perbukitan sehingga penyebaran malaria lebih terkonsentrasi di sepanjang garis pantai.
“Karena tempat perindukannya memang banyak sekali di daerah pesisir. Itulah sebabnya penyebaran malaria terkonsentrasi di dusun-dusun dekat pantai, bukan di seluruh desa,” tegasnya.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)