TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Warga Dusun Lelumpang, Desa Polewali, Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, kembali mengeluhkan kondisi jembatan penghubung antar desa yang juga menjadi satu-satunya akses menuju area perkebunan warga.
Pantauan Tribun-Sulbar.com, Kamis (2/7/2026), kondisi jembatan tampak memprihatinkan.
Lantai jembatan yang terbuat dari batang kelapa terlihat sudah lapuk dimakan usia.
Sejumlah batang kelapa mengalami keretakan, patah di beberapa bagian, dan bergeser sehingga membentuk celah serta lubang yang cukup besar.
Baca juga: Viral Siswa MI di Mamuju Ucap “I Love You” ke Prabowo, Sampaikan Jembatan Lapuk Segera Diperbaiki
Baca juga: 6 Tahun Warga Desa Pangiang Pasangkayu Pakai Jembatan Batang Kelapa Kini Dibuatkan Jembatan Besi
Permukaan jembatan juga tampak tidak rata. Beberapa batang kelapa terlihat melengkung dan mulai rapuh sehingga sangat membahayakan pengendara sepeda motor maupun pejalan kaki yang melintas.
Di sisi kanan dan kiri jembatan memang telah dipasang rangka besi sebagai pagar pengaman.
Namun, kondisi lantai jembatan yang rusak tetap menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan.
Jembatan tersebut memiliki ketinggian sekitar empat meter dari dasar sungai.
Jika pengendara kehilangan keseimbangan akibat roda kendaraan terperosok ke dalam lubang atau tersangkut pada lantai yang tidak rata, mereka berisiko terjatuh ke sungai di bawahnya.
Saat Tribun-Sulbar.com berada di lokasi, sejumlah pengendara tampak memperlambat laju kendaraan saat melintasi jembatan.
Mereka harus memilih jalur yang masih dianggap aman agar roda kendaraan tidak masuk ke sela-sela batang kelapa yang mulai renggang.
Di sekitar jembatan tampak hamparan kebun kelapa sawit yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat.
Setiap hari, warga menggunakan akses tersebut untuk mengangkut hasil panen maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Salah seorang warga, Adil, mengatakan kondisi jembatan tersebut sudah rusak sejak lama dan hingga kini belum mendapatkan perbaikan permanen.
"Sudah lama rusaknya. Tahun 2025 lalu sudah pernah ditinjau pemerintah bersama anggota DPRD, tapi sampai sekarang belum juga ada perbaikan," ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis.
Menurutnya, jembatan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat karena menghubungkan antar desa sekaligus menjadi satu-satunya jalur menuju kebun warga.
Ia mengaku kerusakan jembatan semakin mengkhawatirkan karena lubang pada lantai jembatan terus bertambah dan batang kelapa yang menjadi alas penyeberangan semakin lapuk.
"Bahkan sudah ada beberapa pengendara yang jatuh ke sungai karena roda motornya masuk ke lubang atau kehilangan keseimbangan akibat lantainya tidak rata," katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Adil, semakin berbahaya saat malam hari.
Minimnya penerangan membuat pengendara sulit melihat lubang maupun batang kelapa yang telah bergeser.
Meski demikian, warga tetap terpaksa melintasi jembatan tersebut setiap hari karena tidak memiliki jalur alternatif menuju kebun maupun ke desa tetangga.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Pasangkayu segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen agar aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan aman dan lancar serta tidak lagi mengancam keselamatan pengguna jalan. (*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan