POSBELITUNG.CO, BANGKA - Di Bangka Belitung, durian bukan sekadar buah musiman.
Di balik aromanya yang khas, tersimpan dua kisah berbeda tentang cara melahirkan buah berkualitas.
Satu lahir dari kebun modern dengan investasi ratusan juta rupiah, sementara yang lain tumbuh nyaris tanpa sentuhan teknologi, tetapi berhasil menjadi juara kontes.
Perbedaan itu tergambar dari Cumasi, varietas durian premium yang dibudidayakan secara intensif, dan Pancasona, durian lokal asal Desa Tuik, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, yang tumbuh alami di tengah kebun sawit.
Bagi Hans, pegiat durian premium yang dikenal sebagai Koko Durian Bangka, setiap pohon merupakan aset jangka panjang yang membutuhkan perhatian sepanjang tahun.
Baca juga: Belitung Expo 2026: Ada Job Fair, Bazar Durian, Artis hingga Menteri
Salah satu andalannya ialah Cumasi, varietas berciri khas memiliki satu juring pipih yang justru membuat daging buah terkonsentrasi pada sisi lain sehingga terasa lebih tebal.
Dengan bobot sekitar 1-2 kilogram, Cumasi memiliki daging berwarna kuning pekat, bertekstur lembut, berbiji kecil, serta memadukan rasa manis dan sedikit pahit yang menjadi ciri durian premium. Namun kualitas itu harus dibayar mahal.
Hans mengungkapkan, biaya perawatan satu pohon berumur sekitar 13 tahun mencapai Rp4 juta setiap tahun.
"Kalau orang lihat harga jualnya memang tinggi. Tapi yang tidak banyak diketahui, biaya merawat satu pohon saja sudah Rp4 juta setahun," ujarnya, Minggu (28/6/2026).
Baca juga: Cicipi Durian di Belitung Expo 2026, Wabup Belitung: Durian Air Malik Mantap
Biaya tersebut meliputi pupuk, pestisida, tenaga kerja hingga pemeliharaan rutin. Kenaikan harga pupuk turut menambah beban petani.
"Harga pupuk sekarang naik dari sekitar Rp350 ribu menjadi Rp600 ribu. Belum pestisida, tenaga kerja, perawatan kebun, dan kebutuhan lainnya," katanya.
Di kebun seluas sekitar setengah hektare di Desa Air Mesu, Kecamatan Pangkalan Baru, Bangka Tengah, Hans menanam sekitar 50 pohon Cumasi.
Nilai investasi yang telah digelontorkan mencapai sekitar Rp200 juta.
Menurutnya, kebutuhan modal sangat bergantung pada luas lahan dan sistem budidaya.
Kebun sederhana dapat dibangun dengan modal puluhan hingga ratusan juta rupiah, sedangkan kebun modern berskala besar membutuhkan investasi hingga miliaran rupiah.
Berbeda jauh dengan Cumasi, Pancasona justru lahir dari kesederhanaan. Pohon milik Gito itu tumbuh tanpa perlakuan khusus.
Selama bertahun-tahun, pohon tersebut dibiarkan berkembang mengikuti alam tanpa jadwal pemupukan maupun teknologi budidaya modern.
"Kalau pupuk mungkin kecipratan dari pupuk sawit itulah, soalnya itu pohon duriannya dekat pohon sawit," ujar Gito.
Meski tumbuh alami, Pancasona berhasil menjadi juara pertama Kontes Durian Lokal Desa Tuik 2026.
Buahnya memang tidak besar, tetapi memiliki warna kuning jingga cerah, aroma harum, tekstur creamy, daging tebal, serta tingkat kematangan yang dinilai sempurna.
Nama Pancasona pun memiliki makna tersendiri.
Menurut Gito, nama itu berasal dari gabungan kata "panca" dan "sona" yang menggambarkan lima pesona buah tersebut, yakni warna kuning cerah, rasa creamy, aroma harum, daging tebal, dan kematangan yang pas.
Keistimewaan itu hanya dimiliki satu pohon di antara lima hingga enam pohon durian yang tumbuh di kebunnya.
"Enggak banyak, saya cuma punya lima atau enam batang. Cuma satu pohon yang durian Pancasona itu," katanya.
Ironisnya, pohon yang melahirkan durian terbaik justru mulai mengalami penurunan produktivitas.
Musim ini hanya sekitar 30 buah yang berhasil dipanen karena sebagian besar cabangnya telah rusak.
"Yang berbuahnya itu hanya satu dahan, dahan-dahan lainnya sudah serpak, jadi enggak berbuah lagi," ujarnya.
Pohon yang diperkirakan berusia 15-20 tahun itu telah tumbuh menjulang hingga sekitar sembilan meter sejak Gito membeli lahan tersebut.
Di balik berkembangnya durian premium maupun durian lokal, kalangan akademisi mengingatkan adanya tantangan baru.
Akademisi Ekonomi Universitas Pertiba, Dr Juhari SE MM, menilai tingginya minat masyarakat menanam varietas unggulan menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian, tetapi berpotensi memicu kelebihan pasokan beberapa tahun mendatang.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat menjadikan durian sebagai investasi jangka panjang. Bahkan biji-biji durian premium kini banyak dikumpulkan untuk ditanam kembali sebagai calon kebun baru.
"Kalau semua pohon yang sekarang ditanam nanti sudah berbuah, tentu produksi akan jauh lebih banyak. Kalau pasarnya tidak berkembang, potensi banjir produksi sangat mungkin terjadi," ujarnya.
Ia mencontohkan harga Cumasi mulai menunjukkan tren penurunan akibat bertambahnya pasokan.
Jika sebelumnya mencapai Rp300 ribu hingga Rp350 ribu per kilogram, kini sebagian sudah ditawarkan sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per kilogram.
Menurut Juhari, karakter durian yang tidak dapat disimpan lama membuat harga sangat dipengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan.
Saat panen berlangsung serentak, petani cenderung menjual buah secepat mungkin agar tidak rusak sehingga harga mudah tertekan.
Karena itu, pengembangan industri pengolahan dinilai menjadi langkah penting agar nilai ekonomi durian tetap terjaga.
"Yang harus dipikirkan bukan hanya bagaimana menanam durian, tetapi juga bagaimana menyerap produksinya. Harus ada pasar yang lebih luas dan industri pengolahan," katanya.
Ia menilai prospek durian Bangka Belitung tetap sangat cerah. Namun, keberhasilan sektor ini tidak cukup hanya mengandalkan produksi buah segar.
Hilirisasi dan perluasan pasar harus dipersiapkan sejak sekarang agar peningkatan produksi pada masa mendatang tetap memberikan keuntungan bagi petani sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
(Posbelitung.co/Arya Bima Mahendra/Erlangga)