- Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan serangan terhadap Iran usai meningkatnya ketegangan di kawasan perairan strategis. Meski demikian, ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bentuk perang sembarangan, melainkan respons strategis atas situasi yang terjadi
Pernyataan itu disampaikan Vance pada Rabu (1/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia menyebut bahwa AS telah melakukan kombinasi aksi militer dan tekanan terhadap Iran.
“Kami menjatuhkan beberapa bom, kami menerapkan beberapa pengaruh, dan kami telah melakukan transit komersial gratis selama tiga hari terakhir,” ujar JD Vance, seperti dikutip dari pernyataannya.
Vance menjelaskan bahwa tindakan tersebut berkaitan dengan insiden di jalur pelayaran internasional, di mana Iran disebut menyerang kapal komersial.
Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu alasan utama di balik respons militer yang dilakukan AS.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah AS masih memiliki sejumlah opsi jika Iran kembali mencoba mengembangkan program nuklir atau mengancam negara-negara di kawasan.
“Jika Iran mencoba membangun kembali program nuklir, presiden punya pilihan, lagi, karena Anda,” kata Vance. Ia menambahkan, “Jika Iran mencoba mengancam tetangga mereka atau mendanai terorisme, kami punya pilihan, lagi, karena Anda.”
Meski demikian, Vance menekankan bahwa penggunaan kekuatan militer tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia menilai bahwa serangan tidak boleh dilakukan hanya demi menunjukkan kekuatan tanpa tujuan yang jelas.
“Apa yang kita tidak boleh lakukan adalah menjatuhkan bom hanya demi menjatuhkan bom, dan itulah yang presiden tidak akan pernah meminta Anda lakukan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa ketika keputusan untuk berperang diambil, maka harus disertai arahan yang jelas dari pemimpin negara.
Lebih lanjut, Vance menyampaikan bahwa operasi militer yang dilakukan AS disebut telah memberikan dampak terhadap situasi keamanan di kawasan, termasuk jalur perdagangan yang kembali lebih aman dalam beberapa hari terakhir.
Ketegangan di kawasan tersebut meningkat setelah sejumlah insiden terjadi di sekitar Selat Hormuz pada awal pekan. Kedua pihak saling menuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran juga diketahui telah menandatangani nota kesepahaman dengan tenggat waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan final terkait isu yang masih dinegosiasikan.
Program: Tribunnews Update
Host: Thalia Iza
Editor Video: Tegar Melani
Uploader: bagus gema praditiya sukirman