Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Peningkatan harga bahan pokok diiringi dengan tahun ajaran baru 2026/2027 membuat sebagian banyak masyarakat memilih untuk menjual emas perhiasannya.
Baca Juga: Biaya Sekolah Tinggi, Gadai Emas di Pegadaian Gedong Meneng Naik 20 Persen
Pemilik Toko Mas, Nando, mengatakan tren penjualan emas mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kalau untuk saat ini, yang lebih banyak justru masyarakat yang menjual emas. Dalam satu minggu, dari Senin sampai Kamis saja, bisa sekitar 50 orang datang untuk menjual emas," ujar Nando saat ditemui Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, mayoritas emas yang dijual merupakan perhiasan seperti cincin, gelang, dan kalung.
Namun jika dibandingkan tahun lalu, angkanya tidak mengalami kenaikan yang signifikan.
Menurutnya tren jual emas saat memasuki tahun ajaran baru memang sudah menjadi hal biasa.
Sementara itu, transaksi emas batangan atau logam mulia juga mengalami kenaikan mengikuti pergerakan harga pasar.
Nando menjelaskan, harga emas mengalami penurunan sekitar Rp100 ribu per gram dalam sepekan terakhir.
Saat ini, harga jual emas 23 karat berada di kisaran Rp2,3 juta per gram.
"Penurunan cukup signifikan dalam waktu singkat," jelasnya.
Ia menambahkan, untuk transaksi pembelian kembali (buyback), toko menerapkan potongan sekitar tujuh persen dari harga jual sebagai bagian dari mekanisme perdagangan emas.
Nando juga meluruskan anggapan bahwa emas yang sudah dipakai akan mengalami penurunan kadar.
Menurutnya, kadar emas tetap sama, hanya beratnya yang dapat sedikit berkurang akibat pemakaian dalam jangka waktu lama.
"Yang berkurang itu biasanya beratnya karena gesekan saat dipakai bertahun-tahun. Misalnya dari 3 gram bisa menjadi 2,99 gram, tetapi kadar emasnya tetap sama," tutupnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Bintang Puji Anggraini)