Dipicu Over Populasi dan Isu Makan Bergizi Gratis, Harga Telur Ayam Ras di Bali Merosot Tajam
Putu Dewi Adi Damayanthi July 02, 2026 01:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Para peternak ayam ras petelur di Bali, saat ini tengah menghadapi kondisi yang sangat sulit. 

Harga telur ayam di tingkat peternak (kandang) mengalami kemerosotan tajam, sementara di sisi lain, harga pakan ayam terus melonjak tanpa kepastian.

Kondisi ini salah satunya dirasakan oleh Putu Tedi, seorang peternak sekaligus penjual telur asal Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Bangli. 

Ia mengungkapkan bahwa harga telur jenis root (telur campur ukuran tanggung dan besar) di tingkat kandang kini anjlok hingga menyentuh angka Rp43.000 per krat (isi 30 butir). 

Baca juga: Harga Emas Batangan Hari Ini 2 Juli 2026, Emas 1 Gram di Galeri24 Singaraja Bali Rp2.627.000

Padahal sebelumnya, harga telur sempat mencapai masa kejayaan di angka Rp52.000 hingga Rp55.000 per krat.

"Per krat Rp52.000 paling tinggi. Kalau bawa ke hotel sampai Rp55.000. Tapi untuk sekarang, telur root bener-bener jauh ke angka Rp43.000. Jadi sekitar lagi Rp10.000. Sangat-sangat turun. Kita merasakan udah sampai, kita cuti juga jualan udah 3 minggu karena enggak bisa," ungkap Putu Tedi, Kamis 2 Juni 2026.

Menurut Putu Tedi, penurunan harga yang drastis ini sudah mulai terasa sejak sebulan terakhir, namun mencapai titik terparah hari ini. 

Ia menduga anjloknya harga dipicu oleh kelebihan pasokan (over populasi) akibat banyaknya peternak baru yang bermunculan. 

Hal ini awalnya dipicu oleh tingginya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu lalu. 

Namun, saat memasuki musim libur sekolah, permintaan pasar langsung merosot tajam.

Tak hanya faktor libur sekolah, Putu Tedi juga menyebut adanya isu di media sosial terkait pengalihan bahan pangan program tersebut yang turut memukul harga telur.

"Ini sih, sebelum turun ya udah mulai turun, karena ada isu yang saya dengar tuh MBG itu ada tuh di TikTok gitu, MBG emang disuruh pake kentang karena harga telur sangat naik. Diganti pakai kentang. Dari sanalah turun tuh. Semakin turun sampai ke Rp43.000, syok juga," terangnya.

Akibat penurunan permintaan yang sangat signifikan, persaingan di tingkat peternak menjadi tidak sehat. 

Banyak peternak terpaksa banting harga demi memastikan stok telur mereka habis terjual sebelum kualitasnya membusuk.

Putu Tedi mengakui dampak lesunya pasar ini memotong volume penjualannya secara ekstrem. 

Dari yang biasanya mampu mendistribusikan ribuan krat per minggu ke para pengepul untuk disebar ke pasar dan hotel di seluruh Bali, kini angkanya turun drastis.

"Permintaan sangat turun. Makanya orang-orang pada lomba-lomba jual lebih murah lah biar diambil, kita takut busuk. Dulu saya jualan per minggu bisa sekitar 3.000 krat per minggu dulu. Sekarang bener-bener cuman kalau saya pribadi ya 500 krat lah," keluhnya.

Beban peternak semakin berat karena di saat harga jual telur merosot, biaya produksi justru melambung tinggi. 

Lonjakan harga pakan ayam dilaporkan terjadi seiring dengan menguatnya mata uang dolar AS, mengingat bahan baku pakan seperti kedelai masih bergantung pada jalur impor.

Peternak kini menagih komitmen dan janji pemerintah yang sebelumnya sempat menyatakan akan membantu menstabilkan harga pakan. 

Nyatanya, harga pakan di lapangan terus merangkak naik secara berkala tanpa ada tanda-tanda penurunan.

"Pas dolar, ya. Dari isu dolar naik. Karena kan semua bahan pakan tuh kedelai kan impor semua, semua transaksi pakai dolar. Inginnya kita Pemerintah kan ada pernah janji waktu ini dah sama peternak-peternak  tapi ternyata kita kenyataannya Rp18.000 per kilo sekarang. Inginnya sih gitu, cuman dibantu ke pakan, enggak usah dinaikin terus. Sekarang naiknya terus, gitu. Pakan itu naiknya terus, enggak sekali doang. Bisa kita enggak tahu besok naik lagi," tutup Putu Tedi penuh harap.

Kini para peternak di kawasan Bangli dan Bali pada umumnya hanya bisa berharap ada intervensi nyata dari pemerintah, baik untuk menstabilkan harga pakan maupun membantu menyerap hasil panen telur agar roda perekonomian mereka kembali berputar normal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.