TRIBUNJOGA.COM- “Kalau dia beneran sayang, harusnya ngabarin.”
“Beliin makan itu bare minimum.”
“Jemput pasangan? Bare minimum.
Kalimat-kalimat seperti itu belakangan ini sering muncul di media sosial, terutama di TikTok ataupun X.
Banyak juga konten yang membahas tindakan sederhana dalam hubungan, seperti mengabari, mengingat hal penting, atau menunjukkan perhatian kepada pasangan, lalu menyebutnya sebagai bare minimum.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap sebagai standar paling dasar yang seharusnya dilakukan seseorang dalam sebuah hubungan.
Adanya fenomena ini kemudian memunculkan berbagai pendapat.
Sebagian orang menilai tindakan-tindakan tersebut memang merupakan bentuk kepedulian yang sudah seharusnya diberikan kepada pasangan.
Namun, tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan kasih sayangnya.
Lantas, benarkah semua tindakan yang kini disebut bare minimum memang merupakan standar dasar dalam hubungan?
Ataukah media sosial yang perlahan membentuk ekspektasi baru tentang bagaimana seseorang seharusnya menunjukkan rasa sayang?
Secara harfiah, bare minimum berarti batas paling minimum atau standar paling dasar yang dapat diterima.
Dalam konteks hubungan, istilah ini merujuk pada perilaku dasar yang diperlukan agar hubungan dapat berjalan dengan sehat.
Bentuknya meliputi komunikasi yang terbuka, saling menghormati, kejujuran, menjaga komitmen, serta memberikan rasa aman kepada pasangan.
Berbeda dengan effort atau usaha lebih, bare minimum merupakan fondasi yang memang seharusnya ada dalam sebuah hubungan.
Meski istilah bare minimum baru popular melalui media sosial, pembahasan mengenai hal-hal mendasar yang membuat hubungan tetap sehat sebenarnya sudah lama dikaji.
Dalam penelitiannya, John Gottman menunjukkan bahwa hubungan yang langgeng tidak dibangun oleh tindakan romantis yang besar, melainkan atau kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Gottman menjelaskan bahwa perhatian sederhana, komunikasi yang saling menghargai, serta kemampuan merespons pasangan merupakan fondasi penting dalam menjaga kualitas hubungan.
John Gottman juga memperkenalkan konsep turning toward yaitu saat seseorang memilih untuk merespons perhatian atau kebutuhan emosional pasangannya, bukan mengabaikannya.
Respons sederhana seperti mendengarkan cerita, merespons ajakan untuk berkomunikasi, atau menunjukkan kepedulian terhadap keadaannya merupakan bagian dari proses membangun kedekatan emosional yang dilakukan secara berulang.
Artinya, perhatian kecil memang memiliki peran penting dalam hubungan.
Namun, perhatian tersebut bukan dinilai dari dari bentuknya melainkan dari konsistensi dan makna yang dibangun di antara kedua pihak.
Dengan demikian, tindakan seperti saling menghormati, bersikap jujur, hingga menjaga komunikasi lebih tepat dipahami sebagai fondasi hubungan atau bare minimum dalam sebuah hubungan.
Sementara itu, memberikan hadiah, kejutan atau mengajak date romantis dapat menjadi effort atau usaha lebih yang mempererat hubungan, tetapi bukan satu-satunya tolak ukur kasih sayang.
Selain itu, cara setiap orang mengekspresikan rasa sayang juga tidak selalu sama.
Konsep ini dikenal dengan The Five Love Languages yang diperkenalkan oleh Gary Chapman.
Menurut Chapman, seseorang umumnya memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan maupun menerima kasih sayang.
Cara tersebut dapat diwujudkan melalui kata-kata apresiasi (words of affirmation), waktu bersama (quality time), tindakan membantu (acts of service), pemberian hadiah (receiving gifts), maupun sentuhan fisik (physical touch).
Konsep ini memang sering digunakan untuk membantu pasangan memahami cara masing-masing mengekspresikan kasih sayang.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa love language bukan satu-satunya penentu hubungan yang bahagia.
Penelitian menunjukkan bahwa seseorang cenderung lebih puas dalam hubungan ketika menerima kasih sayang sesuai dengan yang disukainya.
Meski begitu, hubungan yang sehat juga ditentukan oleh faktor lain, seperti komunikasi yang baik, komitmen, kemampuan menyelesaikan masalah, serta saling memahami kebutuhan satu sama lain.
Dengan begitu berarti tidak semua orang akan mengekspresikan rasa sayangnya melalui tindakan yang sama.
Ada pasangan yang lebih sering menunjukkan perhatian dengan memberi hadiah, sementara yang lain lebih nyaman jika mengungkapkannya melalui kata-kata, dan bentuk perhatian lainnya.
Dengan kata lain, seseorang yang tidak terbiasa memberikan hadiah belum tentu kurang peduli terhadap pasangannya.
Sebaliknya, hadiah pun tidak selalu menjamin hubungan yang sehat apabila komunikasi, kejujran, dan rasa saling menghargai belum terbangun dengan baik.
Dan di sinilah muncul pertanyaan. Ketika semakin banyak konten yang menyebut berbagai bentuk perhatian sebagai bare minimum, apakah standar tersebut benar-benar berasal dari kebutuhan dasar dalam hubungan, atau justru terbentuk dari ekspektasi melalui apa yang setiap hari muncul di media sosial?
Media sosial memang tidak dapat dipungkiri telah mengubah cara banyak orang memandang hubungan yang romantis.
Melalui algoritma, pengguna dapat dengan mudah menemukan video yang menampilkan pasangan saling memberi kejutan, membelikan makanan, mengantar dan menjemput, dan sebagainya.
Tidak sedikit konten yang kemudian menyebut tindakan-tindakan tersebut sebagai bare minimum, seolah-olah itulah standar yang seharusnya ada dalam setiap hubungan.
Padahal, tidak semua tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai bare minimum.
Sebagian memang merupakan bentuk perhatian yang menjadi dasar dalam hubungan, sementara sebagian lainnya dapat dipahami sebagai effort yang bentuknya dapat berbeda-beda pada setiap pasangan.
Perbedaan inilah yang sering kali luput dalam perbincangan di media sosial.
Di era media sosial, seseorang dapat dengan mudah membandingkan hubungan yang dimiliki dengan hubungan orang lain yang muncul.
Ketika terus-menerus melihat pasangan lain mendapatkan bunga maupun hadiah yang romantic, tanpa disadari muncul anggapan bahwa perlakuan tersebut merupakan standar yang semestinya ada dalam setiap hubungan.
Atau orang-orang menyebutnya “standar TikTok.”
Media sosial memang dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap hubungan romantic. Penelitian menjelaskan bahwa media sosial berperan dalam membentuk ekspektasi, cara berkomunikasi, hingga tingkat kepuasan dalam menjalani hubungan.
Semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin besar pula kecenderungannya membandingkan hubungannya dengan hubungan orang lain.
Hal ini dapat memengaruhi cara seseorang menilai hubungannya sendiri.
Foto ketika diberi bunga, video diberi hadiah, dan sebagainya belum tentu menggambarkan keseluruhan dinamika hubungan yang dijalani pasangan tersebut.
Konflik, perbedaan pendapat, maupun proses saling memahami satu sama lain sering kali tidak terlihat di layar.
Karena itu, konten di media sosial tidak selalu dapat dijadikan tolak ukur dalam sebuah hubungan. Setiap pasangan memiliki dinamika dan kebutuhan yang berbeda.
Setiap hubungan dibangun oleh dua individu dengan latar belakang, kepribadian, kondisi ekonomi, cara berkomunikasi, hingga kebutuhan emosional yang berbeda.
Apa yang dianggap sebagai bentuk perhatian dalam satu hubungan belum tentu memiliki makna yang sama dalam hubungan lainnya.
Namun, bukan berarti istilah bare minimum sama sekali tidak memiliki dasar.
Dalam hubungan yang sehat, memang terdapat sejumlah perilaku yang dapat dianggap sebagai fondasi, seperti saling menghormati, berkomunikasi secara terbuka, menjaga kejujuran, memegang komitmen, serta mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang sehat.
Sementara itu, kebiasaan seperti memberikan hadiah, membuat kejutan, mengirim bunga lebih tepat dipahami sebagai bentuk effort yang dapat disesuaikan dengan kemampuan, dan cara masing-masing pasangan dalam mengekspresikan kasih sayang.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat tidak dibangun berdasarkan standar yang dibuat orang lain di media sosial.
Karena itu, tidak semua hal yang viral dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai kualitas sebuah hubungan.
Sebab, tujuan sebuah hubungan bukanlah memenuhi standar yang sedang ramai di media sosial, melainkan membangun hubungan yang mampu membuat satu sama lain merasa dihargai, didengar, dan dicintai sesuai dengan kebutuhan
(MG- Mayumi Cinta Mahesi)