Lagu Ciptaan Om Zein Bupati Purwakarta Dianggap Tak Etis, Kontroversi Soal Lirik Semakin Makin Panas
Candra Isriadhi July 02, 2026 02:54 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kontroversi lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejad ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, masih terus menjadi perhatian publik.

Lagu tersebut menuai pro dan kontra setelah sejumlah liriknya dinilai menyinggung kaum perempuan.

Polemik yang berkembang pun memunculkan beragam tanggapan dari berbagai kalangan, termasuk Anggota DPR RI Atalia Praratya.

POLEMIK BUPATI - Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, dalam sambutannya pada pelaksanaan Salat Idul Fitri 1446 H, Senin (31/3/2025).
POLEMIK BUPATI - Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, dalam sambutannya pada pelaksanaan Salat Idul Fitri 1446 H, Senin (31/3/2025). (Dok./Diskominfo Purwakarta)

Di tengah perdebatan tersebut, budayawan Sunda Budi Setiawan, S.Li., M.Sn., yang lebih dikenal sebagai Budi Dalton, turut memberikan pandangannya mengenai kontroversi lagu tersebut.

Menurut Budi Dalton, polemik yang terjadi menunjukkan bahwa sebuah karya seni tidak lagi dimaknai hanya berdasarkan niat sang pencipta, tetapi juga dipengaruhi oleh cara masyarakat menafsirkan isi karya tersebut.

Ia menilai lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejad dapat dibaca sebagai sebuah teks budaya yang berada di persimpangan antara ekspresi seni, humor satiris, maskulinitas, hingga isu kesadaran gender.

“Lagu ini viral karena sejumlah liriknya dianggap menyinggung pengalaman biologis perempuan, seperti kehamilan, keguguran, menstruasi, dan atribut tubuh/perempuan. Media menyebut lagu ini dipersoalkan karena dinilai memuat stereotip terhadap perempuan, sementara Om Zein menyampaikan bahwa lagu tersebut dimaksudkan sebagai cerita tentang dirinya sendiri dan bukan untuk menyinggung pihak tertentu,” kata Budi Dalton saat dihubungi Tribun Jabar, Rabu (1/7/2026).

Baca juga: Bukan Cuma Kasus YTR, Taufik Hidayat Ternyata Pernah Bikin Keributan di Hotel Ini Pengakuan Karyawan

Lebih lanjut, Budi Dalton menjelaskan bahwa jika dilihat dari struktur penulisannya, lagu tersebut menggunakan pola lirik yang berulang.

Menurutnya, pola tersebut diawali dengan ungkapan rasa syukur karena dilahirkan sebagai laki-laki, kemudian dilanjutkan dengan perbandingan terhadap berbagai pengalaman biologis yang dialami perempuan.

Pandangan tersebut, menurut Budi Dalton, menjadi salah satu alasan mengapa lagu itu memunculkan beragam tafsir di tengah masyarakat.

Di satu sisi dipandang sebagai bentuk ekspresi seni dan humor, namun di sisi lain dianggap menyentuh isu sensitif yang berkaitan dengan perempuan dan kesetaraan gender.

Karena itu, ia menilai kontroversi lagu tersebut menjadi contoh bagaimana sebuah karya seni dapat memunculkan perdebatan ketika bertemu dengan beragam perspektif publik yang terus berkembang.

MINTA MAAF - Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, saat menghadiri kegiatan pelayanan publik di Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta. Saepul Bahri Binzein (Om Zein) minta maaf atas polemik lagu 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' yang dinilai menyinggung kaum perempuan. (Tribun Jabar/Deanza Falevi)

Menurut Budi Dalton, pola tersebut membangun sebuah ironi.

Rasa syukur yang seharusnya bersifat sakral justru bergeser menjadi pembenaran atas identitas laki-laki yang dibayangkan terbebas dari beban biologis maupun sosial yang dialami perempuan.

“Di titik inilah lagu menjadi problematis. Bukan karena laki-laki tidak boleh bersyukur, tetapi karena rasa syukur itu dibangun melalui pembandingan yang merendahkan pengalaman pihak lain,” katanya.

Budi Dalton menilai, dari sisi persona lirik, tokoh “aku” digambarkan sebagai laki-laki yang sadar dirinya “bejad”, tetapi tetap merasa diuntungkan karena terlahir sebagai laki-laki.

Baca juga: Klarifikasi Om Zein Bupati Purwakarta Usai Lagu Lalaki Langit Miliknya Dianggap Lecehkan Perempuan

Ia juga menyoroti judul lagu yang menurutnya mengandung kontradiksi.

“‘Lalaki langit’ memberi kesan tinggi, agung, atau maskulin secara heroik, sedangkan ‘lalanang bejat’ mengarah pada pengakuan tentang sisi rusak, nakal, atau cacat moral laki-laki. Jadi, lagu ini bisa dibaca sebagai satire terhadap laki-laki, laki-laki merasa luhur tetapi perilakunya justru bejad,” ujarnya.

Namun, menurut Budi, satire tersebut tidak sepenuhnya berhasil karena humor yang dibangun justru menggunakan tubuh dan pengalaman perempuan sebagai objek olok-olok.

“Masalahnya, satire itu tidak sepenuhnya berhasil karena bahan humornya justru memakai tubuh dan pengalaman perempuan sebagai objek olok-olok,” ucapnya.

BARAK MILITER - Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein saat menengok siswa yang mengikuti penguatan karakter di Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Batalyon Artileri Medan 9, Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (3/5/2025).
BARAK MILITER - Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein saat menengok siswa yang mengikuti penguatan karakter di Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Batalyon Artileri Medan 9, Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (3/5/2025). (KOMPAS.COM/FARIDA)

Budi mengatakan, dari sisi gaya bahasa, lagu tersebut menggunakan hiperbola, ironi, humor kasar, dan bahasa sehari-hari yang sebenarnya tidak asing dalam tradisi lisan Sunda.

Menurutnya, masyarakat Sunda memiliki tradisi banyolan, heureuy, sisindiran, hingga kritik sosial yang kerap menggunakan bahasa nyeleneh.

Namun, konteksnya kini telah berubah karena karya tersebut beredar luas melalui media sosial.

“Dalam tradisi lisan Sunda, humor semacam ini memang tidak asing. Tetapi ketika masuk media sosial, lagu menjadi konsumsi publik yang lebih luas. Akibatnya, ukuran penerimaan pun berubah. Yang dulu mungkin dianggap heureuy komunitas, kini dapat dibaca sebagai bias gender, seksisme, atau kekerasan simbolik,” katanya.

Ia juga menilai, secara semiotik tubuh perempuan dalam lagu tersebut dijadikan tanda untuk mengukuhkan identitas laki-laki.

Menurutnya, pengalaman perempuan tidak dihadirkan sebagai pengalaman manusiawi, melainkan sebagai beban yang membuat tokoh dalam lagu merasa beruntung karena tidak mengalaminya.

“Maka tanda perempuan dalam lagu ini bergeser menjadi simbol kesusahan, kerepotan, atau bahan tertawaan. Inilah yang menimbulkan kritik, karena representasi semacam itu dapat memperkuat pandangan patriarkal. Laki-laki ditempatkan sebagai subjek yang berbicara, sedangkan perempuan menjadi objek yang dibicarakan,” ujarnya.

Budi Dalton juga menyebutkan makna sebuah karya tidak berhenti pada maksud penciptanya.

Dalam kajian estetika resepsi, menurutnya terdapat tiga lapisan yang perlu dibedakan, yakni maksud pengarang, struktur teks, dan penerimaan masyarakat.

“Pengarang dapat mengatakan bahwa lagu itu bersifat pribadi dan tidak bermaksud menghina. Namun teks memiliki kehidupan sendiri. Ketika liriknya menyentuh isu tubuh perempuan secara vulgar atau merendahkan, publik berhak membaca adanya bias,” katanya.

Ia pun melihat polemik yang muncul sesungguhnya memperlihatkan adanya tarik-menarik antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab etis dalam berkarya.

Budi juga mengaitkan lagu tersebut dengan konsep Panca Curiga. Menurutnya, lagu itu dapat dibaca melalui lima lapisan tafsir, mulai dari sindir, silib, siloka, simbol, hingga sasmita.

“Bila karya seni Sunda idealnya mengandung kehalusan rasa, kasaimbangan, dan penghormatan terhadap sesama, maka lagu ini berada dalam posisi ambivalen. Di satu sisi memakai bahasa Sunda dan gaya humor lokal, tetapi di sisi lain isi simboliknya dapat dianggap tidak mencerminkan etika rasa Sunda ketika candaan dilakukan dengan menyinggung martabat perempuan,” tuturnya.

Budi Dalton menambahkan, justru kontroversi yang muncul membuat lagu tersebut menarik untuk dikaji sebagai fenomena budaya.

“Kesimpulannya, ‘Lalaki Langit, Lalanang Bejat’ bukan sekadar lagu viral, tetapi teks budaya yang memperlihatkan benturan antara humor lokal, ekspresi maskulinitas, etika publik, dan kesadaran gender. Secara artistik lagu ini punya daya kejut dan mudah diingat. Namun secara etis, ia bermasalah karena membangun humor melalui pengalaman perempuan yang sensitif,” 

“Nilai akademisnya justru terletak pada kontroversinya, karena lagu ini dapat menjadi objek kajian tentang bagaimana masyarakat Sunda kontemporer menegosiasikan batas antara heureuy, kritik sosial, patriarki, dan tanggung jawab kebudayaan,” ucapnya.

(Tribunnewsmaker.com/TribunJabar.id/Putri Puspita Nilawati)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.