TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Plang seng dan kayu itu berdiri kaku, menutup rapat akses utama menuju gerbang Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat.
Di baliknya, aspal jalan yang semestinya menjadi pijakan kaki ratusan murid setiap pagi, tampak menganga dan amblas.
Retakan-retakan panjang menjalar liar, merayap perlahan mendekati fondasi gerbang sekolah.
Tepat di hadapan gerbang yang meranggas itu, aliran sungai mengalir tenang. Nyaris tak ada yang mengira, jeram yang tampak damai pada Kamis (2/7/2026) siang tersebut adalah pelaku utama yang menghantam dan mengikis habis tanah penopang sekolah pada akhir tahun lalu.
Hari itu, tak ada riak tawa atau bising langkah kaki anak-anak di pekarangan. SDN 10 Lambung Bukit sedang sepi karena kalender akademik telah memasuki masa libur semester.
Baca juga: Pikap Ringsek Adu Kambing dengan Truk Tangki di Solok, Nekat Nyalip di Tikungan Cupak
Hanya cuaca terik yang menyengat, membakar pemandangan pilu atas sebuah fasilitas pendidikan yang kini kondisinya kian ringkih.
Bagi warga Lambung Bukit, petaka itu datang beruntun. Alam mengirimkan ujiannya sebanyak dua kali. Namun, hantaman banjir bandang kedua pada Desember tahun lalu menjadi pukulan paling telak yang mengubah wajah sekolah ini secara drastis.
"Bencana dua kali terjadi, namun yang membuat amblas sekolah kami itu adalah bencana yang kedua," kenang Kepala SDN 10 Lambung Bukit, Haryenti, saat berbincang di tengah suasana sekolah yang lengang, Kamis (2/7/2026).
Setengah tahun telah berlalu sejak air bah itu menyapu pemukiman dan memutus akses jalan. Selama enam bulan itu pula, para guru dan murid dipaksa berdamai dengan sisa-sisa ruang yang lolos dari amukan banjir, sembari memendam cemas yang tak kunjung padam.
Dampak terjangan air tak main-main. Dua ruangan vital kini lumpuh total dan tidak bisa lagi digunakan untuk aktivitas sehari-hari, yakni ruang kelas dua dan ruang guru.
Baca juga: Pengaspalan Lembah Anai Capai 95 Persen, Sistem Buka Tutup Berlaku hingga 15 Juli 2026
Hilangnya fasilitas ini mengacaukan ritme belajar-mengajar bagi 259 murid yang menggantungkan masa depannya di sekolah ini.
Pihak sekolah tak punya pilihan selain memutar otak agar roda pendidikan tetap berputar. Strategi pembagian waktu belajar (shift) terpaksa diterapkan.
Saat sebagian anak masuk pagi, sebagian lagi harus rela menanti giliran hingga siang hari karena ruang kelas yang tersisa tidak lagi mampu menampung seluruh murid sekaligus.
Sementara itu, para guru kini harus rela bertugas tanpa memiliki ruang kerja yang layak.
Pada satu bulan pertama pascabencana, atmosfer pendidikan di Lambung Bukit sempat limbung. Pembelajaran sempat dialihkan ke metode dalam jaringan (daring) alias belajar dari rumah selama satu minggu.
Namun, di kawasan pinggiran bukit seperti ini, layar gawai tak mampu menggantikan kehadiran guru. Metode daring terbukti tidak efektif.
Baca juga: Polisi Terapkan Buka Tutup Akibat Pengaspalan Jalan di Lembah Anai, Jalur Padang-Bukittinggi Padat
Ketika sekolah kembali dibuka untuk tatap muka, tantangan baru muncul. Karena gerbang utama terkunci oleh amblasnya jalan, anak-anak terpaksa masuk melalui jalan samping yang sempit. Ruang gerak mereka otomatis menjadi sangat terbatas.
"Awalnya rasa ingin tahu anak-anak sangat tinggi. Kami para guru harus mengawasi secara ketat agar tidak ada anak yang penasaran lalu terjatuh ke bekas longsoran itu," kata Haryenti.
Pengawasan ekstra ketat menjadi menu harian para pendidik di sini. Beruntung, setelah berjalan beberapa bulan, naluri adaptasi anak-anak bekerja.
Mereka mulai terbiasa dengan pekarangan yang tersisa, mengenali batas aman mana yang boleh diinjak dan mana yang harus dijauhi.
Namun, adaptasi fisik tidak serta-merta menyembuhkan luka psikologis. Rasa trauma dan takut itu sesungguhnya masih ada, hanya saja beralih rupa menjadi kebiasaan yang dipaksakan oleh keadaan.
Bayang-bayang air bah yang keruh dan gemuruh sungai masih membekas jelas di ingatan kolektif anak-anak.
Baca juga: Longsor Kelok 44 Tak Putus Jalur, BPBD Agam Sebut Kendaraan Masih Bisa Lewat
Ketakutan terbesar justru kerap merayap di benak para guru, pegawai, hingga kepala sekolah.
Setiap kali langit Pauh mulai mendung dan meluruhkan hujan lebat, dada mereka berdesir kencang. Ada kecemasan kolektif bahwa tanah yang tersisa akan kembali amblas dan membawa seluruh bangunan sekolah ikut runtuh.
Sebagai langkah antisipasi keselamatan, pihak sekolah telah menyusun protokol darurat mandiri. "Seandainya cuaca dinilai sudah tidak aman atau curah hujan terlalu tinggi, anak-anak langsung diminta untuk belajar di rumah," ujar Haryenti menegaskan.
Di tengah situasi serba terbatas ini, sebuah anomali yang mengharukan terjadi. Alih-alih ditinggalkan, SDN 10 Lambung Bukit justru kebanjiran peminat pada penerimaan peserta didik baru tahun ini.
Optimisme orangtua wali murid rupanya belum luntur; jumlah pendaftar bahkan melonjak hingga melebihi kuota yang disediakan.
Meski demikian, realita pahit tetap tidak bisa ditutupi. Beberapa orangtua terpaksa mengambil keputusan berat dengan memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain yang lebih jauh.
Alasan mereka pragmatis akses jalan dari rumah menuju sekolah masih banyak yang rusak parah akibat bencana setahun lalu, membuat perjalanan harian menjadi terlampau berisiko bagi keselamatan anak.
Solusi jangka panjang kini bertumpu pada rencana relokasi. Pemerintah Kota Padang dilaporkan tengah berupaya mencari lahan baru.
Proses ini berjalan alot karena di sekitar lokasi sekolah saat ini sudah tidak ada lagi fasilitas umum milik pemerintah yang tersedia, sehingga pemko harus mencari dan menegosiasikan pembelian tanah milik warga.
Enam bulan adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah ketidakpastian. Harapan besar kini digantungkan pada pundak pemerintah agar proses perbaikan atau relokasi bisa dipercepat, demi mengembalikan kenyamanan proses belajar mengajar yang hilang.
Sembari menanti kepastian dari pemangku kebijakan, para guru di SDN 10 Lambung Bukit memilih untuk terus bertahan di garis depan.
Para guru berjanji akan terus merawat dan menjaga anak-anak, memastikan bahwa di tengah pekarangan yang sempit dan ancaman longsor yang mengintai, trauma masa lalu tidak akan merebut masa depan anak-anak Lambung Bukit. (*)