TRIBUNJATIM.COM - Wagimin (72) dibuat putus asa setelah anaknya, Tegar Saputra (25), diduga disekap selama 21 hari di gudang percetakan tempatnya bekerja di kawasan Senen, Jakarta Pusat.
Di tengah upaya mencari jalan untuk membebaskan sang anak, ia mengaku kebingungan mencari pinjaman uang hingga sempat berniat menjual sebidang tanah di kampung.
Tangis haru pecah ketika Tegar akhirnya kembali ke rumah dan memeluk ayahnya setelah terbebas dari dugaan penyekapan tersebut.
Kepada Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, yang mengunjungi kediamannya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Wagimin menceritakan beratnya perjuangan selama anaknya belum pulang.
Menurut Wagimin, ia sempat diminta menyiapkan uang Rp50 juta sebagai syarat agar Tegar dibebaskan.
Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu memenuhi permintaan tersebut.
Ia mengaku sudah berusaha mencari pinjaman ke berbagai pihak.
Bahkan, ia berniat menghubungi kakaknya di Jawa untuk menjual sebidang tanah milik keluarga demi memperoleh uang yang dibutuhkan.
Meski begitu, rencana tersebut tak kunjung terealisasi.
"Saya angkat tangan sudah. Daripada saya cari ke sana kemari, saya mau hubungi kakak saya di Jawa. Ada tanah sedikit saya jual, karena lagi kepepet. Enggak punya duit juga," ujar Wagimin saat ditemui di kediamannya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (1/7/2026), dikutip dari Tribun Jakarta.
Menurut Wagimin, awalnya ia mendapat kabar anaknya bersama rekan-rekannya diminta mengganti kerugian perusahaan hingga ratusan juta rupiah.
Ia mengaku bingung mencari uang dalam jumlah tersebut karena sehari-hari hidup dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan sebagai penjual es kelapa.
Wagimin mengaku sempat berkeliling mencari pinjaman ke berbagai tempat.
"Saya hari Senin pergi cari pinjaman ke sana kemari. Pulangnya sampai jam 12 malam. Karena enggak dapat juga, akhirnya saya angkat tangan," ucapnya.
Baca juga: Akhir Nasib Pemilik Diminta Lansia untuk Tebus Dompetnya yang Hilang Rp 1 Juta di Sragen
Baca juga: Frida Driver Taksi Online Diperas Rp 65 Juta untuk Tebus Mobil yang Dicuri, Curigai Pesan Misterius
Ia mengatakan sempat menyampaikan kepada pihak perusahaan apabila anaknya memang bersalah, maka proses hukum sebaiknya ditempuh.
"Saya bilang, kalau anak saya salah, silakan jalur hukum. Biar dijalani," katanya.
Menurut Wagimin, selama proses tersebut, pihak perusahaan beberapa kali mendatangi rumahnya untuk menanyakan kesanggupan keluarga membayar uang yang diminta.
Ia menyebut kedatangan pertama dilakukan oleh mandor bersama pemilik perusahaan.
Pada pekan berikutnya, dua orang mandor kembali datang saat keluarganya sedang menggelar tahlilan.
"Pertama mandornya sama bosnya datang. Minggu kedua, dua mandor datang lagi ke rumah. Waktu itu saya sedang tahlilan karena ada keluarga yang meninggal," ujarnya.
Meski tidak mengaku mengalami kekerasan fisik, Wagimin mengatakan dirinya terus didesak agar segera mengupayakan pembayaran.
"Ancaman sih enggak, cuma dia maksa saja. 'Bisa enggak ngurusin sih, Pak?' katanya. Mintanya secepatnya," ujar Wagimin.
Ia mengaku hanya bisa pasrah karena memang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi tuntutan tersebut.
"Saya bilang, saya enggak punya apa-apa. Lebih baik saya angkat tangan. Kalau anak saya salah, ya tanggung jawab," tuturnya.
Baca juga: Polisi Bongkar Duduk Perkara Bentor Arifin Hilang dan Harus Tebus Rp 1 Juta, Slamet yang Minta Ganti
Selain itu, Wagimin mengaku sangat terpukul ketika mengetahui anaknya sempat dipermalukan di lingkungan rumah.
"Saya dengar anak saya diarak dan dipermalukan di sini. Untung datangnya malam," katanya.
Kini, Wagimin berharap seluruh pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai hukum yang berlaku.
"Saya inginnya dia dihukum seadil-adilnya saja. Perbuatan dia apa, harus dijalani," ujarnya.
Menurut Wagimin, tindakan yang dialami anaknya merupakan bentuk ketidakadilan terhadap masyarakat kecil.
"Ini namanya memeras rakyat kecil. Orang kecil disiksa. Saya cuma minta keadilan," pungkasnya.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com