TRIBUNTRENDS.COM - Para peternak ayam petelur di Bali tengah menghadapi situasi sulit.
Harga telur di tingkat peternak mengalami penurunan drastis, sementara biaya produksi, terutama harga pakan, justru terus meningkat.
Ditambah lagi dengan BGN yang menghentikan sementara distribusi Program Makan Bergizi Gratis mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026 selama masa libur sekolah.
Baca juga: MBG Libur, Warga Buleleng Bali Lebih Hemat Karena Harga Bahan Pokok Turun, di Kantor DPRD Demo
Dikutip dari Tribun Bali pada 2 Juni 2026, salah satu peternak yang merasakan dampaknya adalah Putu Tedi, peternak sekaligus penjual telur asal Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli.
Ia mengungkapkan, harga telur jenis root atau campuran ukuran sedang dan besar kini hanya berada di kisaran Rp43.000 per krat berisi 30 butir.
Padahal, beberapa waktu lalu harga telur sempat menyentuh Rp52.000 hingga Rp55.000 per krat, terutama untuk pasokan ke sektor perhotelan.
Menurut Putu Tedi, penurunan harga sebenarnya sudah mulai terjadi sejak sebulan terakhir dan mencapai titik terendah dalam beberapa hari terakhir.
Ia menduga anjloknya harga dipicu oleh melimpahnya pasokan telur akibat bertambahnya jumlah peternak baru yang sebelumnya terdorong oleh tingginya permintaan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga: Isi Surat PDIP untuk BGN, Minta Nama Orang Partai Terlibat Proyek MBG, Sanksi jika Rugikan Rakyat
Banyak peternak terpaksa menjual telur dengan harga lebih murah agar stok mereka segera terserap dan tidak rusak.
Jika sebelumnya ia mampu mendistribusikan sekitar 3.000 krat telur per minggu ke pasar dan hotel di berbagai daerah di Bali, kini jumlahnya hanya sekitar 500 krat per minggu.
Di tengah merosotnya harga telur, peternak juga dibebani kenaikan harga pakan ayam.
Baca juga: Tak Setuju Dapur Dihentikan, Mitra MBG Klaim Berhasil Selamatkan Uang Negara Rp111,28 Triliun
Di sisi lain, dikutip dari Kompas.com pada 2 Juni 2026, sejumlah harga bahan pangan di Bali juga mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir, bertepatan dengan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis selama libur sekolah.
Warga Denpasar, Komang Rahayu, mengaku harga berbagai kebutuhan dapur di Pasar Badung mulai turun sejak akhir Juni.
Harga cabai rawit yang sebelumnya mencapai Rp80.000 per kilogram kini turun menjadi Rp45.000 per kilogram.
Cabai besar turun dari Rp45.000 menjadi Rp20.000 per kilogram, sementara tomat merosot dari Rp15.000 menjadi Rp8.000 per kilogram.
Harga brokoli lokal juga turun dari sekitar Rp45.000 menjadi Rp18.000-Rp20.000 per kilogram.
Sementara itu, sawi putih turun dari Rp10.000 menjadi Rp5.000 per kilogram dan edamame dari Rp25.000 menjadi Rp18.000 per kilogram.
Baca juga: Tak Setuju Dapur Dihentikan, Mitra MBG Klaim Berhasil Selamatkan Uang Negara Rp111,28 Triliun
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara distribusi Program Makan Bergizi Gratis mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026 selama masa libur sekolah.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kepala BGN Nomor 12 Tahun 2026 mengenai penyesuaian operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Wakil Kepala BGN sekaligus Juru Bicara BGN, Agustina Arumsari, mengatakan penghentian sementara dilakukan untuk standardisasi tata kelola operasional dan efisiensi penggunaan sumber daya.
BGN memperkirakan kebijakan tersebut dapat menghemat anggaran hingga sekitar Rp3 triliun selama 18 hari masa libur sekolah.
(TribunTrends/TribunnewsBogor.com)