TRIBUNPRIANGAN.COM - Keberuntungan sering jadi dambaan pola kehidupan tiap manusia.
Dalam Islam sendiri, beruntung mempunyai makna yang lebih mendalam.
Dimana kebahagiaan dinilai ketika manusia bisa menjalani kehidupan dengan baik di dunia, dan selamat di akhirat dimasukkan ke dalam surga.
Keberuntungan bukan suatu kebetulan, keberuntungan adalah sesuatu yang harus diusahakan.
Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia pun telah jauh mengajarkan rahasia menjadi manusia beruntung.
Topik ini perlu dibahas dalam penyampaian khutbah jumat mendatang, sebagai refleksi atas kebahagiaan apa yang jadi tolak ukur tiap muslim masa ini, juga sebagai patokan agar tidak melenceng dari apa yang telah ditetapakan.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 26 Juni 2026/ 11 Muharam 1448 H: Dua Akhlak Utama yang Perlu Hidup dalam Qolbu
Khutbah Pertama
الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ الْعَظِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا أَفْضَلُ الْمُرْسَلِيْنَ، اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِي الْقَلْبِ الْحَلِيْمِ وَآلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْمَمْدُوْحِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُطِيْعُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wata’ala,
Marilah kita bersyukur atas segala nikmat dari Allah Subhanahu Wata’ala, kemudian bershalawat kepada Nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Selanjutnya marilah kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat.
Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Mari kita pertahankan dan tingkatkan derajat keimanan dan ketakwaan kita di mata Allah. Mukmin sejati orang yang keimanannya telah kokoh, tertanam kuat di dalam dadanya, tidak ada ragu sedikitpun terhadap kebenaran ajaran agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad ﷺ.
Mukmin yang beruntung adalah sebagai berikut:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin (yang sebenarnya) hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang benar.” (QS: Al-Hujurat [49]: 15)
Implementasi dari sikap tidak ragu-ragu dalam mengimani Allah dan Rasulullah ﷺ adalah tidak meragukan perintah dan larangan-Nya. Senantiasa dalam kondisi siap untuk menjalankan perintah-Nya, dengan sumberdaya yang dia miliki, baik harta maupun jiwanya. Ciri kedua, adanya sambung rasa antara dirinya dengan Allah. Ada iman yang dia rasakan tatkala nama Allah disebut, sebagaimana seorang pemuda yang tergetar hatinya manakala disebut nama kekasihnya.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴿٣﴾أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh , gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya keimanan mereka bertambah, dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (QS: al-Anfâl [8]:2-4].
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman.”
Mukmin beruntung memiliki sifat-sifat yang menjadi modal untuk memperoleh kesuksesan dalam menjalani ujian kehidupan di dunia.
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” Jadi orang mukmin, tidak hanya meninggalkan segala hal yang diharamkan, tetapi juga meninggalkan segala yang tidak berguna, yang manfaatnya kecil, yang tidak tergolong amal shalih, yang tidak menambah pahala buat kita.
Orang mukmin sangat menjaga lidahnya. Tidak hanya menghindari kedustaan, menghasud, dan perkataan dosa lainnya. Mereka mengamalkan pesan Rasulullah:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR Bukhari]
وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ
“Dan orang-orang yang menunaikan zakat.” (QS: Al-Mukminun: 4)
Orang mukmin bersemangat menolong sesama dengan menyisihkan hartanya, dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, wakaf, serta hadiah.
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS:Al-Mukminun: 5)
Orang mukmin menjauhkan diri, menahan diri, dari zina. Menjaga diri untuk tidak berbuat zina akan membuat seorang mukmin mendapatkan keselamatan.
وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.”
Orang mukmin konsekuen menunaikan amanah dan janjinya. Orang mukmin pantang mengkhianati amanah dan janjinya, karena dia tahu betul bahwa amanah dan janji adalah hutang yang abadi. Jika tidak ditunaikan di dunia akan ditagih di akhirat.
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.”
Orang mukmin konsisten dan disiplin mendirikan shalat pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Apabila tiba waktu shalat maka ia akan menyegerakan diri untuk mendirikan shalat. Tidak lalai, tidak mengundurkan diri, apalagi sengaja meninggalkan shalat. Mereka juga menjaga kesempurnaannya dengan memperhatikan tata cara yang baik dan benar sesuai dengan yang dianjurkan syariat.
Demikian ciri-ciri orang-orang mukmin yang terdapat di dalam Alquran. Semoga Allah berkenan memudahkan kita untuk menerapkannya, dan menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang mukmin, muttaqin, dan mukhlishin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 26 Juni 2026/ 11 Muharam 1448 H: Sabar dan Shalat sebagai Penolong
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ، اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ،
فَأُوْصِيْنِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ،
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ أَنْتَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ،
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اللّهُمَّ أَمِتْنَا عَلَى الْإِسْلَامِ وَالْإِيْمَانِ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ
(*)