Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Aktivitas transportasi laut di Maluku menunjukkan tren melambat sepanjang Mei 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat penurunan terjadi pada jumlah kunjungan kapal, penumpang yang berangkat, hingga volume barang yang diangkut melalui pelabuhan-pelabuhan di Maluku.
Meski demikian, aktivitas bongkar barang justru mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya.
Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengatakan sepanjang Mei 2026 jumlah kunjungan kapal di seluruh pelabuhan utama maupun pelabuhan pengumpul tercatat sebanyak 866 unit.
Perlambatan paling terasa terjadi di pelabuhan utama.
BPS mencatat jumlah kunjungan kapan melalui Pelabuhan Utama Yos Sudarso Ambon hanya mencapai 249 unit atau turun cukup tajam sebesar 24,32 persen dibanding bulan sebelumnya.
Baca juga: Bongkar Korupsi Dana Gempa Rp. 167 Miliar: Jaksa Periksa Mantan Plt. BPBD Malteng dan Bendahara
Baca juga: Soal Protes Tapal Batas TN Manusela, DPRD Maluku Tengah Bakal Temui BPKH
Sementara itu, tujuh pelabuhan pengumpul mencatat 617 kunjungan kapal atau turun tipis 1,44 persen dibanding April 2026.
Penurunan kunjungan kapal terjadi di hampir seluruh pelabuhan pengumpul.
Hanya Pelabuhan Amahai , Tulehu, dan Dobo yang masih mampu mencatat peningkatan.
Sebaliknya, Pelabuhan Tual menjadi daerah dengan penurunan kunjungan kapal paling besar pada Mei 2026 yakni mencapai 8,80 persen.
Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kondisi transportasi laut Maluku belum sepenuhnya pulih.
Jumlah kunjungan kapal masih turun 12,08 persen dibanding Mei 2025 yang saat itu mencapai 985 unit menjadi 866 unit.
Penurunan terbesar secara tahunan terjadi di Pelabuhan Namlea sebesar 33,33 persen, disusul Pelabuhan Bula 13,04 persen, Pelabuhan Tual 11,63 persen, dan Pelabuhan Tulehu 6,63 persen.
Disisi lain, tiga pelabuhan justru berhasil mencatat pertumbuhan kunjungan kapal.
Pelabuhan Dobo menjadi yang tertinggi dengan kenaikan sebesar 29,03 persen, disusul Pelabuhan Saumlaki sebesar 12,24 persen, dan Pelabuhan Amahai sebesar 8,04 persen.
Tak hanya kapal yang berkurang, mobilitas masyarakat melalui jalur laut juga ikut mengalami perlambatan.
Sepanjang Mei 2026, jumlah penumpang yang berangkat dari seluruh pelabuhan di Maluku hanya mencapai 84,047 orang atau turun 9,90 persen dibanding April 2026 yang mencapai 93,280 orang.
Pelabuhan utama Yos Sudarso Ambon masih menjadi pintu keberangkatan terbesar dengan 37,916 penumpang berangkat.
Namun dibandingkan bulan sebelumnya, jumlah itu turun cukup dalam, yakni 20,68.
Sementara tujuh pelabuhan pengumpul justru mencatat kenaikan tipis.
Jumlah penumpang yang berangkat mencapai 46.131 orang atau naik 1,44 persen dibanding April 2026.
Meski demikian, beberapa pelabuhan tetap mengalami penurunan jumlah penumpang berangkat.
Pelabuhan Tual menjadi daerah dengan penurunan tertinggi sebesar 23,11 persen, disusul Pelabuhan Amahai sebesar 19,62, Pelabuhan Bula sebesar 16,61 persen, dan Pelabuhan Dobo sebesar 5,34 persen.
Jika dibandingkan Mei 2025, jumlah penumpang yang berangkat juga turun 3,06 persen dari 86,704 orang menjadi 84.047 orang.
Penurunan terbesar secara tahunan terjadi di Pelabuhan Bula yang mencapai 27,69 persen, dari 1.271 penumpang pada Mei 2025.
Tak hanya penumpang, volume barang yang diangkut melalui jalur laut pun belum sepenuhnya pulih.
Sepanjang Mei 2026, total barang yang dimuat melalui seluruh pelabuhan di Maluku mencapai 94,01 ribu ton.
Angka tersebut turun 9,65 persen dibandingkan April 2026 yang mencapai 104,05 ribu ton.
Menariknya, kondisi di Pelabuhan Utama Yos Sudarso Ambon justru berbeda.
Pelabuhan Yos Sudarso mencatat lonjakan barang muatan hingga 50,53 persen, menjadi 30,11 ribu ton.
Namun, peningkatan tersebut belum mampu menutup penurunan yang terjadi di tujuh pelabuhan pengumpul.
Volume barang muat di tujuh pelabuhan pengumpul tercatat hanya 63,90 ribu ton atau turun 23,97 persen dibanding April 2026,
Penurunan terjadi hampir di seluruh pelabuhan, kecuali Pelabuhan Amahai yang melonjak 74,76 persen dan Pelabuhan Bula yang meningkat 49,13 persen.
Sementara penurunan terbesar terjadi di Pelabuhan Namlea yang enjlok 50,70 persen dengan total barang muatan hanya 5,35 ribu ton.
Jika dibandingkan Mei 2025, penurunan barang muat bahkan jauh lebih tajam, yakni mencapai 91,16 persen dari 1.063,21 ribu ton menjadi hanya 94,01 ribu ton.
Pelabuhan Bula menjadi wilayah dengan penurunan paling drastis, yakni mencapai 99,07 persen.
Volume barang muat turun dari 977,17 ribu ton pada Mei 2025 menjadi hanya 9,09 ribu ton pada Mei 2026.
Di tengah perlambatan aktivitas pelayaran tersebut, aktivitas bongkar barang justru menunjukkan tren berbeda.
BPS mencatat total barang yang dibongkar melalui seluruh pelabuhan di Maluku mencapai 207,37 ribu ton pada Mei 2026 atau meningkat 10,38 persen dibanding April 2026 yang sebesar 187,88 ribu ton.
Peningkatan terutama ditopang oleh Pelabuhan Utama Yos Sudarso Ambon.
Volume barang bongkar di Pelabuhan utama mencapai 85,09 ribu ton atau melonjak 66,76 persen dibanding bulan sebelumnya.
Sementara itu, tujuh pelabuhan pengumpul membongkar 122,28 ribu ton barang atau turun 10,65 persen dibanding April 2026.
Pelabuhan Saumlaki menjadi daerah dengan kenaikan bongkar barang tertinggi, yakni sebesar 27,85 persen.
Sebaliknya, penurunan terbesar terjadi di Pelabuhan Tulehu yang turun 31,97 persen dengan total barang bongkar sebanyak 9,78 ribu ton.
Meski secara bulanan mengalami peningkatan, jika dibandingkan dengan Mei 2025 aktivitas bongkar barang masih menunjukkan kontraksi cukup dalam.
Total barang yang dibongkar turun 66,46 persen dari 618,21 ribu ton pada Mei 2025 menjadi 207,37 ribu ton pada Mei 2026.
Penurunan terdalam terjadi di Pelabuhan Bula yang mencapai 98,97 persen, dari 445,59 ribu ton pada Mei tahun lalu. (*)