POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Angin sepoi-sepoi berhembus ke sebuah gazebo kayu yang berdiri di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) KTH Berijo, Dusun Tanah Tebok, Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, Kamis (2/7/2026).
Gazebo itu sendiri ialah aset milik Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung Timur yang dibangun beberapa tahun lalu.
Keberadaannya menjadi bukti sebuah era di mana kawasan hutan kemasyarakatan ini pernah menjadi satu di antara primadona wisata yang terkenal di Kecamatan Damar.
Untuk mencapainya, siapa pun harus melewati jalanan tanah merah yang berbatu. Cukup sulit, namun akan terbayar begitu sampai di pondok HKM Berijo, tempat di mana hutan alami membentang hijau.
Di pondok itulah Ketua HKM Berijo, Norvyandi (39) duduk. Ia kemudian bercerita terkait pengalamannya beberapa tahun lalu, saat kawasan itu kerap dikunjungi ratusan wisatawan.
"Dulu, sekitar tahun 2025 awal, tempat ini sempat kita buka dan proyeksikan sebagai destinasi ekowisata unggulan. Wah, kalau diingat-ingat, awal dibuka itu suasananya ramai sekali," ujar Norvyandi saat berbincang bersama Posbelitung.co, Kamis (2/7/2026).
Norvyandi lalu menceritakan seberapa ramai pengunjung yang memadati kawasan hutan Tanah Tebok saat akhir pekan. Setiap hari Sabtu dan Minggu, ratusan orang dari berbagai daerah datang untuk menikmati kesejukan alam.
Para pengunjung saat itu datang untuk menyusuri jalur setapak di bawah rindangnya pohon hingga melihat dari dekat penangkaran madu kelulut.
Namun, saat itu KTH Berijo ternyata dihadapkan pada permasalahan regulasi. Pihak pengelola tidak diperbolehkan menarik tarif tiket masuk kepada para pengunjung yang datang lantaran belum keluarnya izin pungutan daerah.
"Waktu ramai dulu, pengunjung masuk secara sukarela saja. Kita tidak berani mungut tarif karena perizinan dari atas belum ada. Jadi, siapa yang mau memberi sumbangan sukarela untuk kebersihan silakan, kalau tidak pun tidak apa-apa," ucapnya.
Seiring berjalannya waktu, tak adanya biaya masuk akhirnya berdampak pada minimnya biaya perawatan fasilitas. Ditambah lagi, perlahan tingkat kunjungan wisatawan mulai merosot tajam hingga akhirnya mati total.
Pun dari pantauan terkini Posbelitung.co, kondisi di lapangan menunjukkan aktivitas ekowisata di HKM Berijo benar-benar sunyi. Gazebo kini sepi dari aktivitas pelancong.
"Kalau sekarang bisa dilihat sendiri, posisinya begini, tidak ada pengunjung lagi yang datang ke sini," ungkap Norvyandi.
Selain perizinan tadi, Norvyandi mengatakan ada faktor lain yang membuat wisata ini terbengkalai, yakni masalah kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).
"Kendala lain juga kami sebenarnya ada di internal SDM pengurus. Kami belum bisa fokus ke pembinaan dan pengembangan manajemen pariwisata karena kepengurusan sendiri masih tertatih-tatih. Makanya, wisata ini kurang berjalan," katanya.
Karena itulah, Norvyandi bersama kelompok KTH memilih lebih fokus mengoptimalkan peluang ekonomi lain, seperti budidaya madu trigona dan perkebunan mandiri warga.
Lebih lanjut, Norvyandi juga mengatakan pihaknya tidak pernah memutus komunikasi dengan pemerintah daerah. Koordinasi terus dilakukan kepada dinas-dinas terkait, mulai dari Dinas Kehutanan hingga Dinas Pariwisata guna mencarikan jalan keluar bagi masa depan HKM Berijo.
Baginya, hutan ini menyimpan potensi luar biasa yang belum digarap maksimal, mulai dari potensi perkebunan buah, budidaya madu, hingga suplai air bersih yang mengalir melimpah sepanjang tahun bagi warga desa sekitar.
Norvyandi pun berharap kepada pemerintah daerah agar ada pendampingan bagi kemajuan SDM petani hutan di desanya. Ia ingin kawasan ini kembali hidup, memberikan manfaat ekonomi yang mandiri, serta menjadi warisan bagi masyarakat Desa Burung Mandi.
"Harapan kami ada sinergi yang kuat ke depan agar potensi alam di sini, terutama sumber air dan wisatanya, bisa kembali dikelola dengan baik dan legal. Intinya, ada kemajuan yang berkesinambungan bagi kesejahteraan penduduk di desa kami," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)