Petani Madu Kelulut di HKM Berijo, Hadapi Hama Monyet Merusak Sarang Lebah
Hendra July 02, 2026 07:22 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Sepeda motor harus bekerja ekstra saat menyusuri permukaan jalan tanah merah yang berada di Dusun Tanah Tebok, Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, Kamis (2/7/2026).

Taburan batu menjadi ucapan selamat datang sebelum memasuki kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM).

Setelah beberapa menit, sebuah pondok kayu sederhana yang asri terlihat. Terlihat pula plang nama bertuliskan HKM KTH Berijo. 

Di pondok itulah, angin menerpa kedatangan Posbelitung.co. Siang itu, empat orang pria sedang duduk berbincang, satu di antaranya adalah Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) HKM (Hutan Kemasyarakatan) Berijo, Norvyandi. 

Pria berusia 39 tahun ini langsung menyapa. Di pondok, Norvyandi mulai membuka cerita tentang budidaya madu trigona atau yang dikenal warga lokal sebagai madu kelulut.

lihat foto
SIAP DIPASARKAN - Produk madu trigona atau kelulut hasil budidaya Kelompok Tani Hutan (KTH) HKM Berijo yang telah dikemas dalam botol ukuran 250 mililiter di Dusun Tanah Tebok, Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, Kamis (2/7/2026). 

"Ayo, biar enak kita lihat langsung ke dalam hutan, biar tahu bagaimana sarangnya," ajak Norvyandi, Kamis (2/7/2026).

Novryandi menerobos semak dan pepohonan rindang. Di sana, mata langsung tertuju pada deretan kotak-kotak kayu (log) mini yang menjadi rumah bagi ribuan koloni lebah tak bersengat (Trigona spp).

Norvyandi kemudian mendekati salah satu di antara log. Secara perlahan, dirinya membuka tutup bagian atas sarang untuk memperlihatkan kantung-kantung berbentuk bulat yang penuh berisi cairan madu. 

"Kami mulai intensif mengelola ini sekitar tahun 2024 lalu. Awal mulanya ini adalah program dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang punya peternakan di tempat lain, lalu mereka melihat potensi hutan di sini sangat mendukung karena sumber pakannya (nektar) melimpah," ujar Norvyandi. 

Potensi dari hutan lindung inilah yang membuat kualitas madu kelulut dari KTH Berijo begitu khas, dengan perpaduan rasa manis dan asam yang pekat.

Saat ini, pengelolaan madu kelulut di kawasan tersebut terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah kerja sama kemitraan bersama Bumdes yang awalnya memiliki 100 log dan kedua adalah unit usaha mandiri yang dimiliki serta dikelola oleh anggota kelompok HKM sendiri.

"Untuk aset Bumdes sekarang yang aktif berproduksi sisa sekitar 80 log, selebihnya kita kolaborasikan dengan milik kelompok. Dari total sarang yang ada, dalam sebulan kami bisa menghasilkan sekitar 20 sampai 30 liter lebih madu siap konsumsi," ucapnya. 

Setiap bulannya, hasil panen madu dikumpulkan. Proses pemasaran pun sudah merambah ke penjualan jeriken besar ke pengepul hingga dikemas ke dalam botol-botol kecil ukuran 250 mililiter.

"Penjualan sekarang sudah menyasar pasar online lewat e-commerce, jadi pesanan dari luar daerah sering masuk. Bahkan kalau ada kunjungan dinas atau tamu studi banding dari luar daerah seperti Lampung dan Padang, mereka pasti memborong madu ini sebagai oleh-oleh khas," ungkapnya. 

Adapun madu kelulut produksi HKM Berijo ini dibanderol seharga Rp50 ribu per botol ukuran 250 mililiter. Novryandi mengatakan harga tersebut sudah pas untuk kandungan protein dan antioksidan madu trigona yang diklaim jauh lebih tinggi dari madu biasa. 

Secara profit, KTH Berijo menerapkan sistem bagi hasil untuk menghidupi anggotanya. Setelah dipotong biaya operasional panen dan kas, sekitar 40 persen dari total omzet dialokasikan ke upah para pekerja lapangan.

Namun, budidaya ini tentu bukan tanpa kendala. Norvyandi menjelaskan bahwa tantangan terbesar mereka adalah kawanan hama berupa monyet dan tupai yang kerap merusak kotak sarang. 

"Musuh utama kami di sini ya monyet hutan. Mereka sering datang bergerombol merusak log penangkaran. Kalau sarangnya sudah pecah dan rusak diacak-acak monyet, lebah-lebah trigona ini otomatis akan kabur meninggalkan sarang, itu yang bikin kita rugi," katanya. 

Meski begitu, Norvyandi dan kawan-kawan KTH tidak pernah mau berhenti. Mereka akan terus menjaga usaha ini agar bisa terus ada. 

Norvyandi berharap agar unit usaha madu kelulut ini bisa berkembang lebih pesat, sehingga mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata. 

"Harapan saya sederhana, bagaimana hutan ini bisa terus memberikan manfaat ekonomi untuk menghidupi keluarga anggota kelompok, sekaligus menjadi berkah bagi orang banyak melalui potensi alam yang terkandung di dalamnya," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.