Mesin Baru Jadi Andalan, Suparma Bidik Lonjakan Produksi Kertas 2026
Wiwit Purwanto July 02, 2026 07:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - PT Suparma Tbk (SPMA) membukukan kinerja positif sepanjang lima bulan pertama 2026 dengan realisasi penjualan bersih mencapai Rp1.172,8 miliar atau 39,1 persen dari target tahunan Rp3 triliun.

Capaian ini ditopang kenaikan volume produksi dan penjualan di tengah ekspansi kapasitas yang terus berjalan.

Kinerja Operasional dan Strategi Ekspansi

Direktur PT Suparma Tbk, Hendro Luhur, menyampaikan bahwa target penjualan 2026 naik 7,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp2.740,7 miliar.

Dalam public expose daring, ia menjelaskan bahwa volume penjualan kertas telah mencapai 92.960 metrik ton atau 36,5 persen dari target 255.000 MT, sementara produksi berada di level 97.994 MT atau 39,2 persen dari target 250.000 MT.

“Pada 6 Februari 2025 Suparma telah menandatangani kontrak pembelian mesin utama PM 11 dengan supplier mesin kertas dari Finlandia senilai EUR 6,35 juta. Kami berencana menggunakan internal kas sebesar 6 juta Dolar AS untuk mendanai proyek tersebut, sedangkan sisanya sebesar 17 juta Dolar AS akan didanai oleh bank rekanan Suparma dalam bentuk fasilitas kredit investasi. MK 11 ini direncanakan akan berproduksi komersial pada triwulan keempat tahun 2026,” jelas Hendro.

Baca juga: BEI Gelar Public Expose Live 2026 untuk Perkuat Transparansi Pasar Modal

Ia menegaskan bahwa kehadiran Mesin Kertas No.11 (MK 11) akan menambah kapasitas terpasang hingga 27.000 MT dan menjadi motor penguatan produksi ke depan.

Kinerja 2025 dan Arah Penguatan Struktur Modal

Sepanjang 2025, SPMA mencatat pertumbuhan penjualan bersih 0,41 persen menjadi Rp2.740,7 miliar, didorong kenaikan volume penjualan sebesar 2,5 persen menjadi 235,1 ribu MT. Produk Kraft dan Duplex menjadi penopang utama pertumbuhan masing-masing 5,5 persen dan 1,5 persen.

Laba kotor juga meningkat 5,23 persen menjadi Rp434,4 miliar, dengan margin naik ke 15,9 persen dari sebelumnya 15,1 persen pada 2024. Namun, beban operasional turut meningkat seiring kenaikan biaya penjualan, administrasi, serta gaji dan upah.

Baca juga: Kinerja Keuangan MDKA 2025 Melesat, Tambang Emas Pani Mulai Produksi

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), emiten ini memutuskan tidak membagikan dividen tunai meski laba komprehensif 2025 naik 1,6 persen menjadi Rp104,8 miliar.

Dana dialokasikan untuk penguatan modal, pengembangan usaha, serta investasi mesin dan fasilitas pendukung, termasuk proyek RDF, de-inking machine, hingga instrumen Quality Assurance.

Perseroan juga menetapkan pembagian dividen saham maksimal 1.230.095.230 lembar dengan rasio 100:30, yang ditujukan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus meningkatkan likuiditas saham di pasar.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.