Inflasi Maluku Juni 2026 Capai 3,80 Persen, Tarif Pesawat, Bensin, hingga Harga Ikan Jadi Sebab
Fandi Wattimena July 02, 2026 07:48 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y)di Maluku pada Juni 2026 mencapai 3,80 persen. 

Kenaikan ini dipicu melonjaknya harga, mulai dari tarif angkutan udara, bensin, bawang merah, hingga berbagai jenis ikan yang menjadi konsumsi masyarakat.

Data ini diperoleh BPS melalui pemantauan Harga Indeks Konsumen (IHK) di tiga daerah barometer, yakni Kota Ambon, Tual, dan Maluku Tengah. 

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengungkapkan secara IHK Maluku naik 109,81 pada Juni 2025 menjadi 113,98 pada Juni 2026. 

Tak hanya secara tahunan, tekanan harga juga terjadi dalam sebulan terakhir. 

BPS mencatat inflasi month to month (m-to-m) Juni 2026 sebesar 1,49 persen. 

Baca juga: Transportasi Udara Maluku Melambat, Penumpang Turun 19 Persen

Baca juga: Bongkar Korupsi Dana Gempa Rp. 167 Miliar: Jaksa Periksa Mantan Plt. BPBD Malteng dan Bendahara

Diikuti berbagai pihak, mulai dari pemerintah Provinsi, Kementerian terkait, hingga pihak swasta dan insan pers. 

Dalam pemaparan Maritje Pattiwaellapia, disampaikan berdasarkan data analisis BPS Maluku, Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 9 indeks kelompok pengeluaran. 

Bahwa kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi paling tinggi dengan kenaikan mencapai 9,87 persen. 

Berikut 9 kelompok pengeluaran;

  • Kelompok transportasi sebesar 9,87 persen;
  • Kelompok kesehatan sebesar 6,49 persen;
  • Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,38 persen;
  • Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,31 persen;
  • Kelompok pendidikan sebesar 2,84 persen;
  • Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,57 persen;
  • Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,06 persen;
  • Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,70 persen;
  • Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,91 persen. 

Sebaliknya, hanya dua kelompok yang mengalami penurunan indeks, yakni pakaian dan alas kaki sebesar 1,54 persen serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,08 persen.

Lebih spesifik ungkap Maritje Pattiwaellapia, lonjakan inflasi Maluku tidak hanya dipengaruhi satu komoditas, tetapi berasal dari berbagai sektor. 

Tarif angkutan udara menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan, diikuti emas perhiasan, bensin, bawang merah, ikan cakalang, beras, sigaret kretek mesin (SKM), ikan tongkol/komu, tarif angkutan laut, cabai merah, nasi dengan lauk, ikan layang/momar, mobil, ikan tuna/tatihu, tarif rumah sakit, bahan bakar rumah tangga, sepeda motor, daging ayam ras, ikan selar/kawalinya hingga biaya akademi/perguruan
tinggi. 

Baca juga: Aktivitas Transportasi Laut di Maluku Melambat, Kapal Berkurang, Penumpang Menyusut

Dominasi komoditas perikanan di daftar penyumbang inflasi menunjukkan tingginya pengaruh harga hasil laut terhadap pergerakan inflasi di Maluku. 

Sementara itu, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi. 

Yakni, kangkung, bayam, lemon, kacang panjang, sabun mandi, sabun detergen bubuk, baju muslim wanita, daun singkong, kelapa, baju anak stelan, popok bayi sekali pakai/diapers, hand body lotion, susu cair kemasan, bawang bombay, sawi hijau, terong, sandal anak, blus wanita, sepatu pria dan sagu.

Untuk inflasi bulanan Juni 2026, bensin menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar. 

Selain itu, tarif angkutan udara, bawang merah, cabai rawit, cabai merah, ikan tongkol/komu, ikan tuna/tatihu, ikan selar/kawalinya, ikan cakalang, ikan layang/momar, bawang putih, ikan asap, sepeda motor, pelumas/oli mesin, wortel, roti manis, ikan kembung/lema, makanan ringan/snack, tarif rumah sakit, hingga tahu mentah ikut mendorong kenaikan harga sepanjang Juni 2026. 

Adapun komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan antara lain ; sawi hijau, kacang panjang, kangkung, bayam, buncis, tarif angkutan laut, ketimun, emas perhiasan, daun melinjo, telur ayam ras, lemon, baju muslim wanita, mesin cuci, blus wanita, baju anak stelan, hand body lotion, terong, susu cair kemasan, pasta gigi, serta kelapa.

Dilihat dari kontribusi kelompok pengeluaran, terhadap inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil paling besar yakni 1,53 persen. 

Disusul kelompok transportasi sebesar 1,29 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,37 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,22 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,16 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,12 persen;  kelompok pendidikan sebesar 0,11 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen; serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen. 

Sementara kelompok pakaian dan alas kaki menjadi satu-satunya kelompok yang memberikan andil deflasi tahunan sebesar 0,08 persen. 

Diketahui, untuk tiga kota atau kabupaten, Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 4,03 persen dengan IHK sebesar 115,85 dan terendah terjadi di Kota Ambon sebesar 3,78 persen dengan IHK sebesar 115,06. 

Sementara untuk Maluku Tengah sebesar 3,80 persen dengan IHK sebesar 112,10. 

Dalam akhir presentasi disampaikan bahwa perkembangan inflasi ini menjadi salah satu indikator penting yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menyusun langkah pengendalian harga, terutama pada komoditas pangan dan sektor transportasi yang masih menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan inflasi di Provinsi Maluku. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.