Jakarta (ANTARA) - Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta berupaya menguatkan kembali industri pariwisata khususnya perhotelan melalui penyusunan rencana induk kepariwisataan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

"(Rencana Induk Kepariwisataan) yang intinya dalam jangka panjang lebih dari 10 tahun akan dibawa ke mana industri pariwisata di Jakarta," kata Ketua Subkelompok Usaha Pariwisata, Disparekraf DKI Jakarta, Syarif Hidayat dalam acara daring yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Syarif menyampaikan, industri pariwisata di Jakarta sudah mulai bangkit pasca lesu akibat pandemi COVID-19. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan berbagai strategi untuk menguatkan kembali industri tersebut, melalui kebijakan dan regulasi. Salah satunya penyusunan rencana induk kepariwisataan.

Upaya lain yang dilakukan yakni memberikan relaksasi ataupun insentif pajak barang dan jasa tertentu (PBJT) atas jasa perhotelan berupa keringanan pokok pajak.

"Kemarin (industri perhotelan) sempat lesu. Kebijakan-kebijakan dari Pemprov DKI berupa relaksasi dan insentif pajak," kata Syarif.

Dari sisi akses, Pemprov DKI juga mengintegrasikan transportasi publik di sekitar hotel dan sekitar industri pariwisata yang ada di Jakarta. Ini untuk memudahkan wisatawan bermobilisasi selama berlibur di ibu kota.

Di bidang pemasaran dan promosi, Pemprov DKI menggandeng para pemengaruh untuk mempromosikan industri-industri pariwisata di Jakarta.

"Seperti kemarin, "Mudik ke Jakarta". Wisatawan Malaysia, influencer dari Malaysia datang ke Jakarta mempromosikan ke beberapa tempat pariwisata yang ada di Jakarta," ujar Syarif.

Melalui program "Mudik ke Jakarta", Pemprov DKI bersama Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) dan Jakarta Experience Board (JXB) menjual paket liburan selama di Jakarta.

"Kami menciptakan paket-paket bundling, jadi bukan hanya hotel tapi dengan tempat-tempat rekreasi, kemudian juga dengan tempat-tempat wisata," kata Syarif.