Bandarlampung (ANTARA) - Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ahmad Munawir mengatakan bahwa pihaknya akan terus berupaya memperkuat pengawasan perdagangan ilegal satwa liar di Provinsi Lampung salah satunya melalui pelabuhan.

"Salah satu lokasi yang sangat penting dalam pengawasan dan pencegahan perdagangan ilegal satwa liar adalah di pelabuhan, dan di Provinsi Lampung ada dua pelabuhan yang penting sekali untuk pencegahan dan pengawasan ini yakni di Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Panjang," ujar Ahmad Munawir di Bandarlampung, Kamis.

Ia mengatakan area pelabuhan menjadi salah satu area yang rawan menjadi lokasi perdagangan satwa yang memerlukan pengawasan ketat.

"Banyak sekali kegiatan perdagangan satwa melalui pelabuhan, meski banyak yang legal tapi banyak juga yang ilegal seperti yang disampaikan satu tahun saja kita bisa mencegah perdagangan ilegal satwa liar hampir 1.000 satwa. Oleh karena itu Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Panjang jadi prioritas untuk melakukan pengawasan," katanya.

Dia menjelaskan pengawasan tersebut dilakukan dengan berbagai pihak terkait baik dari unsur pemerintah, swasta, dan berbagai pihak terkait.

"Satu tahun ini di Pelabuhan Bakauheni pengawasan dilakukan dengan bantuan dari unit anjing pelacak satwa liar yang bekerjasama dengan Prancis, ini dilakukan sebab modus penyelundupan satwa liar ini semakin canggih, dan kami sangat terbantu dengan ini," ucap dia.

Menurut dia, pihaknya pun akan terus memperkuat pengawasan perdagangan dan peredaran ilegal satwa liar di Pelabuhan yang ada di Lampung yang merupakan pintu gerbang menuju Pulau Sumatera.

"Sepanjang tahun 2025-2026 ini Kementerian Kehutanan telah berhasil menggagalkan berbagai upaya perdagangan satwa liar, seperti penggagalan pengiriman sisik trenggiling sebesar tiga ton di Pelabuhan Tanjung Priok. Dan yang menjadi perhatian khusus kami adalah dari pelabuhan logistik serta kontainer yang keluar masuk, oleh karena itu perusahaan di sektor t​​​ransportasi dan logistik memiliki posisi strategis memutus rantai perdagangan ilegal satwa liar melalui Pelabuhan," tambahnya.

Menurut dia, sebab jaringan perdagangan ilegal satwa liar sangat tergantung dengan logistik untuk mengirimkan barang selundupan, bila perusahaan transportasi dan logistik menerapkan sistem pengawasan yang kuat serta membangun budaya zero tolerance terhadap perdagangan satwa liar maka akan mengurangi perdagangan ilegal satwa liar di daerah.

Tanggapan tambahan dikatakan Senior Manager Program Wildlife Trade and Policy WCS Indonesia Sofi Mardiah.

"Sekarang ini banyak modus penyelundupan melalui bus, mobil pribadi, dan kurir pengiriman yang melalui pelabuhan jadi ini yang terus diantisipasi terutama di Lampung," ujar Senior Manager Program Wildlife Trade and Policy WCS Indonesia Sofi Mardiah.

Ia melanjutkan untuk meningkatkan pengawasan dengan kerjasama Kementerian Kehutanan, dan perusahaan logistik asal Prancis pihaknya pun akan memperluas pengoperasian unit anjing pelacak satwa liar ilegal di Pelabuhan Pajang sebagai pelabuhan logistik.

"Ke depannya kita akan coba untuk pengawasan di Pelabuhan Panjang sebagai Pelabuhan peti kemas dan banyak container disana, dan kami sedang mengurus perizinannya. Dan kita akan rotasi bergantian tiga anjing pelacak dalam satu kali operasi," ujar Sofi Mardiah.

Diketahui sebelumnya sejak 2024 kerjasama antara Kementerian Kehutanan, CMA CGM Group, dan WCS Indonesia telah melakukan 39 operasi gabungan yang berhasil menyelamatkan 957 satwa dari perdagangan ilegal, dan 770 satwa telah dilepasliarkan kembali ke alam.