Hewan Tapir Muncul di Pemukiman Lampung, Jangan Dibunuh karena Nyatanya Takut Manusia
soni yuntavia July 02, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, menjelaskan, munculnya tapir di kawasan pemukiman Mesuji, Lampung umumnya dipengaruhi karena lapar dan perubahan kondisi habitat akibat aktivitas manusia.

Baca juga: Lampung Jadi Jalur Paling Rawan Peredaran Satwa Liar Ilegal 

"Satwa liar keluar dari habitatnya biasanya karena beberapa faktor. Bisa karena pakan di habitatnya berkurang akibat kerusakan hutan, bisa juga karena mengikuti mangsa atau dipengaruhi musim kemarau sehingga mencari sumber makanan di luar kawasan hutan," katanya,  saat diwawancarai seuisai acara kementerian kehutanan, WCS Indonesia, dan CMA CGM Perkuat kemitraan logistik untuk memberantas perdagangan ilegal satwa liar, Kamis (2/7/2026).

Karena itu, dia mengimbau masyarakat tidak melukai maupun membunuh satwa liar yang masuk ke kawasan permukiman, termasuk tapir yang belum lama ini dilaporkan muncul di wilayah Mesuji, Lampung.

Ia menegaskan, satwa liar pada dasarnya menghindari manusia. 

Karena itu, masyarakat diminta tidak bereaksi dengan cara memburu atau memasang jerat saat menemukan satwa dilindungi.

"Kalau ada satwa liar keluar, jangan dibunuh, jangan dijerat, jangan dilukai. Pada prinsipnya satwa itu takut dengan manusia. Mereka keluar karena kondisi tertentu," ujarnya.

Ahmad menjelaskan, konflik antara manusia dan satwa liar juga dapat dipicu berkurangnya populasi satwa mangsa akibat perburuan.

"Misalnya yang diburu bukan harimaunya, tetapi rusa atau babi hutan yang menjadi makanannya. Akhirnya predator kesulitan mencari makan dan bisa keluar ke wilayah permukiman," jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat segera melaporkan keberadaan satwa liar kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) apabila menemukan satwa dilindungi.

"Jangan ditangani sendiri, apalagi kalau satwanya berbahaya. Segera laporkan ke petugas BKSDA agar ditangani oleh orang yang memiliki kompetensi," katanya.

Selain membahas konflik satwa liar, Ahmad Munawir juga menyoroti upaya pencegahan perdagangan satwa ilegal di Lampung. 

Menurutnya, Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Panjang menjadi dua titik prioritas pengawasan karena kerap menjadi jalur peredaran satwa liar.

Dalam setahun terakhir, kata dia, petugas berhasil menggagalkan penyelundupan hampir 1.000 satwa liar melalui pengawasan bersama sejumlah instansi.

Untuk memperkuat pengawasan, Kementerian Kehutanan bersama para mitra kini memanfaatkan anjing pendeteksi satwa liar yang mampu menemukan satwa meski disembunyikan dengan berbagai modus.

"Modus penyelundupan sekarang semakin canggih. Satwa bisa disembunyikan di dalam pipa, botol minuman, dan tempat lainnya. Kehadiran anjing pendeteksi sangat membantu petugas menemukan satwa yang tersembunyi," ujar Munawir. 

Ia juga mengajak komunitas pecinta burung berkicau menggunakan burung hasil penangkaran, bukan hasil tangkapan dari alam, demi menjaga kelestarian populasi satwa di habitatnya.

"Kalau penangkaran berkembang dengan baik, maka pengambilan burung dari alam akan semakin berkurang. Itu yang terus kita dorong bersama komunitas," pungkasnya.

( Tribunlampung.co.id )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.