Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Ibu rumah tangga atau IRT di Bandar Lampung ramai menjual emas perhiasan. Padahal harga menjual logam mulia dari masyarakat sedang turun.
Baca juga: Tren Jual Emas Naik di Bandar Lampung Jelang Tahun Ajaran Baru, Didominasi IRT
Ternyata desakan kebutuhan untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan hidup menjadi alasan para ibu rumah tangga di Bandar Lampung menjual emas.
Alhasil aktivitas di sejumlah toko emas di sejumlah pasar Bandar Lampung meningkat.
Toriq Maysha, penjaga Toko Mas Berkah mengungkapkan, bahwa tren masyarakat menjual emas mengalami peningkatan yang cukup tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Terutama, kata dia, bertepatan dengan SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru). "Untuk saat ini, memang lebih banyak masyarakat yang datang untuk menjual emas mereka," ujar Toriq saat diwawancarai, Kamis (2/7/2026).
Menurut Toriq, jenis emas yang paling banyak dilepas oleh masyarakat adalah dalam bentuk perhiasan siap pakai, seperti cincin dan kalung.
“Mayoritas yang jual adalah ibu rumah tangga. Alasan Utama ya sudah pasti kebutuhan mendesak untuk keluarga serta biaya pendaftaran dan perlengkapan sekolah anak,” jelasnya.
Dalam kurun waktu empat hari saja, terhitung sejak Senin hingga Kamis pekan ini, volume transaksi warga yang menjual emas di Toko Emas Berkah terbilang tinggi.
"Kalau dihitung dari Senin sampai Kamis ini, kurang lebih ada sekitar 20 sampai 30 orang yang datang menjual emasnya ke kami," ungkap Toriq.
Fenomena ini lebih ramai dibanding tahun lalu. Faktor ekonomi yang bersamaan dengan jadwal masuk sekolah disinyalir menjadi pemicu utama.
"Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini jauh lebih banyak yang menjual emasnya," kata Toriq menegaskan.
Toriq memperkirakan tren masyarakat menjual emas naik 20 persen dibandingkan tahun lalu. Padahal harga emas saat ini sedang turun dibanding bulan-bulan sebelumnya. "Sekarang harga untuk emas 24 karat itu sekitar Rp 2.250.000 per gram," ungkapnya.
Meningkatnya penjualan emas dari masyarakat juga diungkap oleh pemilik Toko Mas, Nando mengungkap bahwa mayoritas yang dijual adalah cincin, gelang dan kalung.
Menurutnya tren jual emas saat memasuki tahun ajaran baru memang sudah menjadi hal biasa. Meskipun, kata Nando, harga emas mengalami penurunan sekitar Rp100 ribu per gram dalam sepekan terakhir.
Ditambahkan Nando, transaksi pembelian kembali (buyback), toko menerapkan potongan sekitar tujuh persen dari harga jual sebagai bagian dari mekanisme perdagangan emas.
Salah satu warga yang menjual emas, Dini mengaku terpaksa menjual cincin emas miliknya karena kebutuhan yang harus dipenuhi.
"Terpaksa dijual buat keperluan. Sekarang cari uang lagi susah banget, tapi kebutuhan tetap harus dipenuhi,” ungkapnya Kamis (2/7/2026).
Menurutnya perekonomian saat ini mengharuskannya menjual cincin emasnya demi memenuhi keperluan sehari-hari.
“Kalau cincin ini tidak dijual tidak mungkin ada uangnya, di perekonomian sekarang makan tiga kali sehari saja sudah syukur,” tuturnya. ( Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)