TRIBUNJAMBI.COM – Cape Verde menghentak dunia. Saat mungkin banyak orang belum familiar dengan negara ini, tim nasionalnya tahu-tahu sudah menahan imbang Spanyol 0-0 pada laga perdana Grup H.
Cape Verde atau Tanjung Verde atau Tanjung Hijau, negeri kepulauan di Samudra Atlantik, sekitar 570 kilometer dari pesisir barat Afrika. Awalnya tak berpenghuni sebelum orang-orang Portugis menemukannya pada tahun 1456, lalu mendatangkan budak-budak dari Afrika Barat mulai tahun 1462, permulaan adanya kehidupan di sana.
Mereka lepas dari koloni Portugal pada 5 Juli 1975, satu dari belasan negara yang merdeka pada 1970-an sebagai bagian dari gelombang dekolonisasi di Benua Hitam ketika itu.
Cape Verde bagai negara mini. Hanya 4.033 kilometer persegi, lebih kecil dari Pulau Bali yang luasnya 5.780 kilometer persegi.
Penduduknya cuma 500-an ribu jiwa, lebih sedikit dari Kota Jambi yang punya 640-an ribu jiwa, satu dari empat kota kecil skala ibu kota provinsi di Pulau Sumatra.
Tandus karena berada di lepas pantai dan terpengaruh Gurun Sahara di Afrika Utara, gurun terbesar di dunia. Sekaligus eksotis: perpaduan gugusan pulau yang terbentuk dari aktivitas vulkanik dengan satu gunung berapi aktif, Gunung Pico do Fogo di Pulau Fogo, pantai berpasir putih, hingga akulturasi budaya Afrika dan Eropa terutama Portugis.
Bagi pelancong berat, Cape Verde adalah destinasi. Wisatawan yang berkunjung ke sana mencapai 1.248.052 orang pada tahun 2025, rekor tertinggi, tumbuh 6 persen dari tahun 2024. Sektor wisata dan jasa tak ayal jadi penggerak utama roda perekonomian, selain perikanan.
Di antara aktivitas penduduk, terselip sepak bola sebagai ekspresi sosial dan hiburan. Mereka punya Campeonato Nacional de Cabo Verde, liga utama di bawah Federacao Cabo-verdiana de Futebol (FCF) atau Federasi Sepak Bola Tanjung Verde.
Federasi mereka “baru” berdiri pada tahun 1982. Gabung FIFA empat tahun berikutnya, tahun 1986, lalu dengan Confederation of African Football (CAF) atau Konfederasi Sepak Bola Afrika 14 tahun kemudian pada tahun 2000.
Peserta liga utama Cape Verde ialah klub-klub dari pulau-pulau. Mereka bersaing terlebih dahulu di babak regional. Para juara regional kemudian berkompetisi di babak gugur untuk memperebutkan juara nasional.
Baca juga: Saatnya Ikhlaskan Messi dan CR7, karena Ada…
Hiu Biru yang Melesat
Melihat grafik peringkat dunia tim-tim nasional di situs FIFA, Cape Verde perlahan merangkak sejak menjadi anggota federasi sepak bola internasional. Dari berkutat di rangking 100-an, Hiu Biru, julukan Cape Verde, menembus urutan 83 pada 18 Oktober 2006.
Momentum terbaik hadir kala perdana lolos Piala Afrika dengan melesat ke peringkat 39 pada Desember 2013. Sebagai debutan di Piala Afrika ketika itu, penampilan mereka tak terlalu mengecewakan dengan menembus perempat final. Capaian 8 besar ini berulang 20 tahun kemudian pada Piala Afrika 2023, prestasi terbaik sejauh ini di Piala Afrika.
13 Februari 2014 menjadi puncak performa Cape Verde dengan bertengger di peringkat 27 FIFA. Itu rangking terbaik sejak Blue Sharks berdiri hingga saat ini. Sejak itu, nyaris tak pernah terlempar ke peringkat 100-an, kecuali dua kali turun ke urutan 115 dan 114 pada Juli dan Agustus 2017.
Per 11 Juni 2026, Cape Verde berada di peringkat 67 FIFA. Hiu Biru di atas beberapa negara yang turut tampil pada Piala Dunia 2026, seperti Ghana, Selandia Baru, Haiti, dan Curacao.
Sebelum akhirnya pertama kali manggung di piala dunia, Cape Verde tampil cukup mengesankan di babak kualifikasi Zona Afrika: menang 7 kali, 2 kali seri, dan hanya 1 kali kalah dari total 10 pertandingan. Hiu Biru menyelesaikan kualifikasi dengan memimpin grup di atas Kamerun, tim langganan piala dunia.
Dan di Piala Dunia 2026, Cape Verde lolos dari Grup H dengan posisi runner up di bawah Spanyol. Tanjung Verde di atas kertas tidak masuk hitungan untuk melaju ke fase gugur. Selain Spanyol, ada Uruguay, tim Amerika Selatan langganan piala dunia, juga Arab Saudi yang biasa main di kompetisi sepak bola tertinggi dari Zona Asia.
Namun, perhatian segera tertuju kepada Cape Verde ketika menahan imbang Spanyol 0-0 pada laga pembuka Grup H. Mereka mengejutkan lagi saat seri 2-2 kontra Uruguay yang membuat posisi Federico Valverde dkk terjepit. Hingga pada partai terakhir grup kembali draw, 0-0 versus Arab Saudi, lolos ke babak 32 besar, sekaligus memulangkan Uruguay dan Arab Saudi.
Baca juga: Pelajaran dari Tersingkirnya Jerman dan Belanda
Diaspora Pulang Kampung
Satu di antara beberapa sosok penting permainan Cape Verde adalah Vozinha. Kiper kawakan berusia 40 tahun itu bikin 7 penyelamatan krusial melawan Spanyol. Empat bek mereka rapat, gelandang tengah disiplin menjadi penahan pertama serangan lawan.
Namun, lebih dari itu, kunci dari kekuatan Cape Verde adalah para pemain diaspora yang pulang kampung membela tanah leluhur. Dari total 26 pemain dalam skuat Piala Dunia 2026, setengah lebih, tepatnya 14 pemain, lahir di luar Cape Verde. Mulai dari Portugal, Belanda, Prancis, Amerika Serikat, hingga Republik Irlandia.
Hubungan dengan Portugal sangat dekat karena Cape Verde adalah jajahan Portugis. Ada tiga pemain yang lahir di sana: Helio Varela, bomber yang bermain di Maccabi Tel Aviv, klub Israel; Wagner Pina, bek kanan Trabzonspor, klub Turki; dan Telmo Arcanjo, sayap kanan yang merumput di Vitoria Guimaraes, Portugal. Nama pertama, Helio Varela, pencetak 1 dari 2 gol ke gawang Uruguay.
Paling banyak kelahiran Belanda, tepatnya Rotterdam. Syahdan, banyak penduduk Cape Verde berlayar, berdagang, bahkan menetap di kota pelabuhan terbesar di Negeri Kincir Angin itu. Nama-nama diaspora asal Belanda ini antara lain Sidny Lopes Cabral, Jamiro Monteiro, Garry Rodrigues, Deroy Duarte, Laros Duarte, dan Dailon Livramento.
Pengalaman bermain di klub-klub Eropa dari para diaspora tersebut berpadu dengan bakat-bakat lokal. Cape Verde menjadi cermin bagaimana negara mampu menarik orang-orang keturunan untuk mengabdi kepada negeri leluhur di pentas dunia.
Dari 14 pemain diaspora, 3 orang di antaranya menjadi andalan barisan belakang: Wagner Pina, bek kanan; Sidny Lopes, bek kiri; dan Roberto Lopes, bek tengah kelahiran di Crumlin, Republik Irlandia, yang bermain di klub Shamrock Rovers.
Lalu 3 pemain lainnya adalah tulang punggung lini tengah. Dua orang lahir di Rotterdam, Belanda, Jamiro Monteiro dan Deroy Duarte, seorang lagi Willy Semedo, lahir di Bordeaux, Prancis. Di depan, ada Dailon Livramento yang lahir di Rotterdam, Belanda.
Baca juga: Cakap-Cakap Penggemar Bola Jambi dari Piala Dunia 2026 hingga Stadion
Menantang Juara Bertahan
Pada babak 32 besar, Sabtu pagi (4/7/2026), Cape Verde menantang juara bertahan Argentina. Menarik menonton perjuangan mereka untuk lolos dari tarian mematikan tim Tango.
Tak dapat kita pungkiri, Argentina merupakan unggulan juara Piala Dunia 2026, selain Prancis, Spanyol, dan Brazil, minus Jerman dan Belanda yang sudah angkat koper.
Magis Lionel Messi yang belum pudar dengan 6 gol sekaligus top skor sepanjang masa piala dunia dengan 19 gol, striker haus gol Lautaro Martínez dan Julian Alvarez, gelandang-gelandang petarung macam Rodrigo De Paul, Enzo Fernández, dan Alexis Mac Allister, kiper “nakal” Emiliano Martínez, adalah deretan pemain yang siap mengurung Hiu Biru selama 90 menit.
Satu yang pasti, menginjak babak 32 besar adalah sejarah bagi Cape Verde. Dari negeri antah berantah ke panggung Piala Dunia yang tak cuma jadi penghibur di fase grup.
Tentu berat melawan Argentina. Peluangnya tipis, meski tetap ada. Dan, sebelum benar-benar pulang ke gugusan pulau di Samudra Atlantik, Cape Verde layak jadi teman untuk mengawali Sabtu pagi akhir pekan ini. Kita nikmati saja perlawanan mereka. (*)