Penjelasan Dirut PLN Soal Blackout Listrik Diwarnai Interupsi DPR
Choirul Arifin July 03, 2026 12:23 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI bersama Dirut PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, diwarnai interupsi anggota DPR.

Mereka mempertanyakan insiden matinya aliran listrik alias blackout yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Sumatera.

Interupsi disampaikan anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Gerindra, Ramson Siagian, saat Darmawan Prasodjo memaparkan program penguatan sistem kelistrikan di wilayah Jawa, Madura, dan Bali.

Ramson meminta penjelasan mengenai penyebab pemadaman listrik yang belakangan terjadi. "Interupsi. Pak dirut tolong dijelaskan pemadalaman atau blackout apa sebabnya," kata Ramson.

Interupsi tersebut sempat mendapat teguran dari pimpinan rapat, Bambang Patijaya. Sejumlah anggota dewan lainnya juga mempertanyakan alasan Ramson memotong jalannya pemaparan.

Namun, Ramson tetap meminta penjelasan dari PLN mengenai penyebab pemadaman listrik bergilir.

Menanggapi pertanyaan tersebut, pihak PLN menjelaskan bahwa pemadaman dipengaruhi keterbatasan pasokan batu bara dengan spesifikasi kalori tinggi yang dibutuhkan pembangkit listrik.

Baca juga: Listrik Padam, Dagangan Cair dan Rusak, Menteri Maman: UMKM Jadi Korban Blackout di Jawa

"Dengan adanya tambahan batubara dengan spesifikasi 4.500 keatas yang bulan Juli ini ada tambahan 1,8 juta ton dari existing kemudian bulan Agustus sampai Desember ada tambahan 3 juta existing ini tentu saja membuat sistem di jawa ini yang tadinya memang kami mengakui ada pemadaman bergilir ini sistemnya langsung meningkat," ujarnya.

PLN juga mengungkapkan, perubahan komposisi produksi batu bara nasional menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keandalan pasokan listrik.

Baca juga: Usai Blackout Sumatera, Kini Warga AS Dilanda Blackout Massal Dua Kali dalam Sepekan

"Secara volume ini batu bara produksi nasional untuk yang kalori renda dulu adalah prosentasenya lebih kecil dari kalori yang tinggi. Tetapi sejalan dengan proses waktu, maka produksi batu bara kalori yang rendah itu meningkat sedangkan produksi batu bara dengan kalori yang menengah dan tinggi semakin menurun," pungkasnya.

 

--

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.