Pada malam tanggal 29 Juni, sebuah ledakan dahsyat mengguncang sebuah gedung apartemen di Monako. Menurut laporan media, pengusaha Vadym Yermolaiev terluka dalam insiden tersebut. Ia berasal dari kota Dnipro, Ukraina, dan dianggap sebagai salah satu pengusaha terkaya di negeri yang carut marut oleh perang itu.
Menurut hasil penyelidikan awal, seorang pria tak dikenal meninggalkan ransel berisi bahan peledak dan pecahan logam di lobi bangunan. Ledakan itu dilaporkan melukai total tiga orang, yaitu seorang pria dan seorang perempuan berusia antara 50 hingga 60 tahun, serta seorang anak laki-laki berusia 13 tahun.
Menurut media Nice-Matin, korban perempuan kehilangan kedua kakinya akibat ledakan. Laporan media menyebutkan bahwa Yermolaiev menderita luka bakar dan luka akibat serpihan logam. Kepada wartawan, isterinya mengaku selamat karena sedang berada di tempat lain pada saat kejadian.
Menurut surat kabar Prancis Le Figaro, tim penyelidik di Monako tengah mendalami petunjuk yang mengindikasikan bahwa Dinas Keamanan Ukraina (SBU) kemungkinan berada di balik ledakan tersebut. Jaksa Agung Monako, Stephane Thibault, menyatakan pada tanggal 1 Juli bahwa para penyelidik menangani insiden ini sebagai percobaan pembunuhan. Pencarian terhadap para tersangka masih terus berlangsung.
Vadym Yermolaiev adalah pendiri grup perdagangan dan manufaktur Alef, serta salah satu pengembang properti terbesar di kota Dnipro. Ia membangun sebagian besar kekayaannya melalui investasi di bidang properti komersial dan residensial.
Selain pengembangan properti, bisnis grup ini juga mencakup manufaktur bahan bangunan, pertanian, teknologi pengelasan, pertambangan dan logistik.
Pada tahun 2020, majalah Forbes menempatkan Yermolaiev sebagai pengusaha terkaya ke-23 di Ukraina. Sebelum invasi Rusia, berbagai estimasi media menyebutkan kekayaan bersihnya mencapai lebih dari 200 juta dolar AS (sekitar Rp3,6 trilun).
Vadym Yermolaiev menukar kewarganegaraan Ukrainanya pada tahun 2017 dengan paspor Siprus. Ia mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena dirinya merasa tidak puas dengan sistem peradilan dan perpajakan di Ukraina. Pada 23 Desember 2023, Presiden Volodymyr Zelenskyy menjatuhkan sanksi personal terhadap Yermolaiev selama 10 tahun berdasarkan keputusan Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina. Sanksi tersebut mencakup 16 pembatasan terpisah, di antaranya termasuk pembekuan aset dan pembatasan transaksi keuangan.
Menurut SBU, aktivitas bisnis Yermolaiev di Krimea yang diduduki Rusia menjadi alasan penjatuhan sanksi tersebut. Dinas Keamanan Ukraina menyatakan bahwa beberapa perusahaannya tetap beroperasi setelah Rusia menduduki semenanjung itu pada tahun 2014 dan mendaftarkan ulang perusahaannya sesuai hukum Rusia. Dengan rutin membayar pajak senilai jutaan dolar kepada Rusia, perusahaan-perusahaan tersebut diduga berkontribusi secara finansial terhadap perang Rusia di Ukraina.
Salah satu perusahaan yang dikenai sanksi adalah Alef-Vinal-Crimea, yang mengelola operasi Alef-Vinal di Krimea. Alef-Vinal merupakan salah satu produsen minuman beralkohol terbesar di Ukraina, sebuah grup yang kabarnya juga dikendalikan oleh Yermolaiev. Yermolaiev telah secara terbuka membantah tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa dirinya tidak bertindak untuk kepentingan Rusia dan sanksi yang dijatuhkan kepadanya tidak berdasar.
Pada Agustus 2022, para jurnalis dari media Ukraina Ukrainska Pravda mengungkap apa yang mereka sebut sebagai "Batalion Monako". Ini merujuk pada sebuah jaringan pengusaha, politikus, dan oligarki Ukraina yang menetap di pesisir Riviera Prancis selama perang Rusia melawan Ukraina. Vadym Yermolaiev termasuk di antara nama-nama yang disebutkan dalam laporan tersebut.
Pada Agustus 2024, lembaga penyiaran Hromadske melaporkan bahwa sebuah perusahaan berbasis di Dnipro yang terkait dengan Yermolaiev telah terpilih menjadi pemasok granit pada tahap pertama pembangunan Pemakaman Memorial Militer Nasional Ukraina. Perusahaan tersebut membantah tuduhan itu. Hromadske kemudian melaporkan bahwa Yermolaiev telah mengalihkan kendali perusahaan kepada putrinya, Sofia Kononenko, sebagai upaya untuk menghindari sanksi Ukraina.
Pada Desember 2025, putra Yermolaiev, Artur, ditangkap di Siprus dan diekstradisi ke Estonia. Artur mengaku bersalah setelah didakwa memiliki keterkaitan dengan Milton Group, sebuah jaringan penipuan investasi online internasional. Akibatnya, ini juga membayar kompensasi sebesar 8,5 juta euro (sekitar Rp174 miliar) serta diganjar hukuman percobaan selama lima tahun.
Mengutip informasi dari pihak yang terlibat dalam investigasi, media Prancis dan Ukraina melaporkan bahwa Yermolaiev adalah target utama dari serangan tersebut. Namun, otoritas Monako belum mengonfirmasi hal itu secara resmi. Berbagai motif yang dibahas di media mencakup kemungkinan adanya hubungan antara Yermolaiev dengan mantan rekan bisnisnya di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, keterkaitan dengan kejahatan terorganisasi Rusia, serta kemungkinan keterkaitan dengan kasus pidana yang melibatkan putranya. Tak satu pun dari teori-teori ini yang telah dikonfirmasi secara resmi.
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Rizki Nugraha