Bintang Senegal yang Marah Besar Ancam Tak Akan Bermain Lagi untuk Tim Nasional Setelah Tersingkir dari Piala Dunia
Dewi Rahayu July 03, 2026 03:14 AM

Kampanye Piala Dunia Senegal berakhir dengan kekacauan besar setelah gelandang Villarreal, Pape Gueye, secara mengejutkan mengancam akan pensiun dari sepak bola internasional. Pemain berusia 27 tahun itu meluapkan kemarahannya di media sosial sesaat setelah tim asuhan Pape Thiaw mengalami kekalahan dramatis dari Belgia di babak 32 besar.

Ancaman pensiun mendadak ini mengguncang sepak bola Afrika. Gueye menyatakan bahwa ia tidak akan lagi membela tim nasional Senegal selama staf kepelatihan saat ini masih bertugas. Pernyataan tersebut muncul melalui unggahan di media sosial hanya beberapa jam setelah Singa Teranga tersingkir dari Piala Dunia akibat kekalahan 3-2 dari Belgia yang penuh drama.

Gueye, yang menjadi sosok penting bagi negaranya sepanjang turnamen, tidak menahan diri dalam kritiknya terhadap manajemen tim. Dalam unggahan di Instagram Story-nya, sang gelandang menulis: “Saya akan kembali untuk memberikan beberapa kata tentang eliminasi ini... tapi hari ini saya umumkan bahwa selama staf teknis ini masih ada, saya akan mengambil jeda dari tim nasional.”

Latar belakang dari pengumuman mengejutkan Gueye itu adalah kejatuhan tim yang dramatis di babak kedua. Senegal sebenarnya tampak akan melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Amerika Serikat berkat gol dari Habib Diarra dan Ismaila Sarr. Namun, situasi berubah setelah Gueye digantikan oleh Lamine Camara pada menit ke-64.

Belgia membalas dua kali dalam sepuluh menit terakhir melalui Romelu Lukaku dan Youri Tielemans untuk memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu. Kebangkitan Belgia disempurnakan pada menit ke-125 ketika Tielemans mencetak gol dari titik penalti setelah intervensi VAR. Kekalahan ini menjadi akhir pahit dari perjalanan yang awalnya penuh harapan bagi tim Afrika tersebut.

Pelatih kepala Pape Thiaw menghadapi gelombang pertanyaan terkait pengelolaan pertandingan, terutama keputusannya menarik Gueye dan sejumlah pemain kunci ketika tim masih unggul. Thiaw menegaskan bahwa pergantian tersebut bukan kesalahan taktis, melainkan karena kondisi fisik para pemain yang tidak memungkinkan mereka untuk melanjutkan permainan.

“Mereka sudah kelelahan dan tidak bisa terus bermain. Membiarkan mereka tetap di lapangan akan menjadi tindakan yang tidak profesional dari pihak kami. Kami harus mengganti mereka satu per satu,” jelas Thiaw. “Tentu saja, ketika Anda kalah setelah unggul 2-0, orang akan membicarakan pergantian pemain. Tapi Anda tidak bisa menyederhanakan semuanya hanya karena itu. Pergantian ini terutama disebabkan oleh faktor kelelahan, bukan pertimbangan taktis.”

Situasi ini menambah panjang daftar kontroversi yang melanda tim nasional Senegal. Thiaw sebelumnya sudah menuai kritik setelah final Piala Afrika melawan Maroko, di mana ia sempat memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit. Meskipun Senegal akhirnya memenangkan pertandingan tersebut di lapangan, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kemudian membatalkan hasil itu dan memberikan kemenangan sekaligus gelar juara kepada Maroko.

Menanggapi kekalahan dari Belgia, Thiaw yang tampak kecewa mengatakan: “Kami baru saja kalah dalam pertandingan yang sangat penting bagi kami. Kami ingin lolos demi rakyat Senegal, kami merasa pantas mendapatkannya, tetapi sayangnya kami tersingkir. Saya sedih, para pemain juga sedih, karena mereka benar-benar menginginkan tiket kelolosan ini.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.