FT USK Ujung Tombak Riset Berdampak Penyumbang PNBP
mufti July 03, 2026 03:22 AM

Dr. Ir. NASRULLAH RCL, S.T., M.T., Dosen Fakultas Teknik USK dan mantan ketua SMPT USK periode 1993-1994, melaporkan dari Banda Aceh

Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (FT USK) Banda Aceh memiliki aset besar. Aset itu berupa laboratorium (lab). Lab Teknik Kimia, Teknik Sipil, Teknik Komputer, Lab Teknik Mesin, Teknik Kebumian, penguji kualitas lingkungan, Studio Arsitektur, PWK, dan Laboratorium Alam Jantho. Semua aset ini dapat menghasilkan uang. Uang itu masuk ke kas negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksimal. Data dari USK menunjukkan bahwa pendapatan PNBP dari jasa lab FT masih rendah. Pada tahun 2023, kontribusi FT terhadap total PNBP USK dari sisi riset terapan kurang dari 5 persen. Padahal, fakultas ini memiliki lebih dari 15 lab dengan peralatan modern. Sebagian besar menganggur.

Peralatan hanya dipakai untuk praktikum mahasiswa. Pemakaiannya hanya satu atau dua kali per semester.

Kondisi ini tidak boleh berlanjut. FT harus berubah. Ia harus menjadi ujung tombak riset berdampak. Riset berdampak artinya riset yang memecahkan masalah nyata. Masalah nyata di Aceh, misalnya pencemaran air tambang, kerusakan jalan akibat banjir, atau kualitas konstruksi bangunan pascagempa. Solusi dari riset ini bisa dijual ke pemerintah daerah atau perusahaan. Hasil penjualannya menjadi PNBP.

Butuh eksekusi nyata

Visi FT USK sudah bagus. Visi itu berbunyi: Menghasilkan lulusan berkompeten dan berkarakter sosio-teknopreneur yang mampu bersaing di tingkat global. Misi fakultas juga mencakup penelitian mutakhir dan pengabdian inovatif. Namun, visi dan misi tidak akan berarti tanpa eksekusi.

Salah satu target strategis FT USK adalah menjadi pusat riset berdampak. Target ini tertulis dalam rencana strategis fakultas. Target ini juga sejalan dengan kebijakan Rektor USK, Prof  Mirza Tabrani DBA. Rektor mendorong setiap fakultas meningkatkan PNBP. Kenaikan PNBP akan meningkatkan kesejahteraan dosen, staf, dan mahasiswa melalui sistem remunerasi berbasis kinerja.

FT USK memiliki keunggulan dibandingkan fakultas lain. Ia punya Laboratorium

Alam Jantho. Lahan puluhan hektare ini bisa digunakan untuk riset pertanian presisi, uji material alam, atau konservasi sumber daya air. Lab Alam Jantho bisa disewakan ke perusahaan tambang untuk uji restorasi lahan. Bisa juga dikerjasamakan dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh untuk pelatihan pengelolaan ekosistem.

Potensi yang terbiarkan Mari kita lihat data konkret. Lab Kimia FT USK memiliki alat Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Alat ini bisa mendeteksi kandungan logam berat dalam air dan tanah. Satu kali pengujian logam berat untuk sampel air limbah dibanderol Rp500.000 hingga Rp1.000.000 di lab komersial. Jika FT USK menjalankan 100 pengujian per bulan dari perusahaan tambang atau perkebunan, pendapatan kotor mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta per bulan.

Fakta lain: Lab Teknik Sipil memiliki alat uji tekan beton dan alat uji tarik baja. Dinas PUPR Aceh tiap tahun menguji puluhan sampel material proyek infrastruktur. Selama ini, sebagian pengujian dikirim ke Medan atau pada lab swasta lainnya. FT USK bisa mengisi ceruk pasar ini. Cukup dengan mengirim surat penawaran resmi ke dinas dan kontraktor lokal.

Lab Teknik Komputer memiliki perangkat untuk uji keamanan jaringan dan uji forensik digital. Pemerintah kabupaten dan kota di Aceh sedang bertransformasi ke layanan digital. Mereka butuh uji kerentanan sistem. FT USK bisa menawarkan jasa ini dengan harga 30 persen lebih murah dari penyedia jasa eksternal.

Teori yang mendukung

Langkah ini tidak asing dalam literatur manajemen perguruan tinggi. Henry Etzkowitz memperkenalkan konsep Entrepreneurial University pada tahun 1990-an. Konsep ini menjelaskan bahwa universitas tidak hanya menyimpan pengetahuan, tetapi juga mengapitalisasi pengetahuan tersebut. Kapitalisasi pengetahuan terjadi melalui paten, lisensi, atau jasa lab.

Penelitian terbaru dari UNESCO tahun 2022 menekankan pentingnya ‘fourth mission’ universitas. Misi keempat itu adalah kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Universitas tidak cukup hanya mengajar dan meneliti. Universitas harus menciptakan lapangan kerja dan pendapatan. FT USK bisa memenuhi misi keempat ini melalui komersialisasi lab.

Teori Resource-Based View dari Barney juga relevan. Universitas memiliki sumber daya unik. Sumber daya itu adalah peralatan canggih dan ilmuwan yang kompeten. Sumber daya ini sulit ditiru oleh lab swasta karena investasi awalnya mahal. Dengan mengelola sumber daya ini secara sistematis, FT USK menciptakan keunggulan kompetitif. Keunggulan itu menghasilkan pendapatan jangka panjang.

Pengalaman kami saat mengampu mata kuliah Technopreneurship serta dalam proyek pengabdian berbasis teknologi telah menyuarakan perlunya komersialisasi riset.

Dengan demikian, FT USK ke depan perlu melakukan tiga hal. Pertama, membentuk Unit Layanan Terpadu Laboratorium. Unit ini menangani pemasaran, penjadwalan, dan penagihan jasa lab. Kedua, menetapkan tarif layanan yang kompetitif. Tarif dihitung berdasarkan biaya operasional plus margin 20 hingga 30 % . Ketiga, memberi insentif langsung kepada teknisi dan dosen. Sebanyak 40?ri PNBP lab dikembalikan ke pengelola sebagai bonus kinerja.

Skema insentif ini sudah terbukti di IPB. IPB meningkatkan PNBP dari jasa lab sebesar 150?lam dua tahun setelah menerapkan sistem bagi hasil yang adil. Contoh lain dari UGM. Pusat

Studi Lingkungan Hidup UGM menghasilkan miliaran rupiah per tahun dari jasa uji lingkungan untuk perusahaan tambang dan pabrik.

Butuh kolaborasi

FT USK tidak bisa bekerja sendiri. Ia harus berkolaborasi dengan Pemerintah Aceh. DLHK Aceh misalnya, memiliki anggaran untuk monitoring kualitas air sungai. FT USK bisa menjadi mitra resminya. Caranya, bikin perjanjian kerja sama (PKS) jangka panjang. Dalam PKS itu, FT USK menyediakan tenaga ahli dan alat. Dinas menyediakan biaya operasional.

Kolaborasi juga bisa dilakukan dengan Kadin Aceh. Kadin memiliki ‘database’ perusahaan yang butuh jasa uji lab. FT USK bisa meminta Kadin merekomendasikan Lab FT USK ke anggota kadin.

Kolaborasi dengan fakultas lain di USK juga penting. FP punya ahli di bidang tanah. FK punya ahli biologi molekuler. Gabungan keahlian ini menciptakan paket layanan komprehensif. Misalnya, paket uji dampak tambang yang mencakup tanah, air, dan kesehatan masyarakat. Harga paket ini lebih menarik bagi perusahaan besar.

Saatnya bertindak FT USK memiliki semua yang dibutuhkan. Labnya lengkap.

Sertifikasi ISO/IEC 17025:2017 juga ada dari UPT Lab Terpadu USK. Dukungan rektor yang pro-PNBP juga jelas. Calon pemimpin idealnya adalah yang paham bisnis teknologi. Satu yang kurang: keberanian untuk memulai.

Berhenti mengandalkan dana BOPTN yang terus menyusut. Mulailah mengelola lab sebagai sumber pendapatan. Jadwalkan setiap alat untuk digunakan minimal 60 jam per bulan di luar praktikum. Latih teknisi untuk melayani pelanggan eksternal dengan ramah dan cepat. Promosikan layanan melalui web dan medsos.

Jika langkah ini diambil, target 10 miliar rupiah PNBP per tahun dari FT bukanlah mimpi. Uang itu akan meningkatkan kesejahteraan civitas akademika. Dosen dan staf mendapat bonus. Mahasiswa mendapat beasiswa lebih banyak. Lab mendapat alat baru. Lingkaran positif ini hanya dimulai dari satu keputusan: menjadikan riset berdampak sebagai mesin pendapatan. FT USK harus menjadi ujung tombak. Aceh menunggu bukti, bukan slogan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.