TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Kematian I Nyoman Cita (50) alias Nyoman Colik masih menyisakan tanda tanda atau masih misterius.
Selain ditemukan dengan sejumlah luka di tubuhnya, keluarga juga mengatakan perhiasan emas yang biasa dikenakan korban hilang.
Jasad warga asal Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung ditemukan meninggal di aliran Sungai Bubuh, tepatnya di selatan jembatan Bypass Ida Bagus Mantra perbatasan Desa Takmung dan Desa Negari, Kamis (2/7) pagi.
Sebelumnya, pria yang diketahui Pemilik Warung Lawar Godel di seputaran jalan Bypass Ida Bagus Mantra itu dilaporkan hilang oleh keluarganya, Rabu (1/7) malam.
Baca juga: Kronologi Nyoman Cita Hilang Semalaman, Ditemukan Meninggal di Tukad Bubuh Klungkung Bali
Keluarga juga mengungkapkan kalung yang dipakai Nyoman Cita seberat 70 gram hilang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung I Putu Widiada mengatakan, pihaknya menerima laporan warga hilang di aliran Tukad Bubuh pada Rabu (1/7) malam. Informasi keluarga awalnya Nyoman Cita sempat mandi di aliran Tukan Bubuh di Dusun Lepang, Desa Takmung.
“Informasi pihak keluarga, almarhum (Nyoman Cita) sempat mandi di Sungai,” ungkapnya, Kamis (2/7).
Setelah menerima informasi kehilangan warga, pihak BPBD Klungkung bersama aparat kepolisian, TNI dan warga sempat melalukan pencarian dengan menyisir alur sungai. “Pencarian kemarin bersama warga sampai jam 02.00 dini hari. Lalu kami lanjutkan pencarian pagi tadi (kemarin),” jelas Widiada.
Sekitar Pukul 07.00 Wita, petugas yang melanjutkan pencarian, menemukan jenazah Nyoman Cita mengambang di aliran sungai. Tepatnya di selatan jembatan, di sisi barat Kantor KPU Klungkung.
Baca juga: Jenazah Pria yang Hilang di Sungai Klungkung Ditemukan Penuh Luka, Polisi Selidiki Dugaan Kekerasan
“Informasi dari tim tadi, ada luka di bagian perut jenazah. Tapi untuk memastikan penyebab luka tersebut, tentu harus dilakukan autopsi. Saat ini janazah sudah kami evakuasi ke RSUD Klungkung,” ungkap Widiada.
Kasi Humas Polres Klungkung, Iptu I Dewa Nyoman Alit Purnawibawa mengatakan, korban sebelumnya dilaporkan belum pulang ke rumah setelah mandi di alur Sungai Bubuh di kawasan perumahan Pesona Lepang pada Rabu (1/7).
Petugas yang tiba di lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi jenazah. Dari pemeriksaan awal, korban ditemukan dalam posisi telungkup dengan luka robek pada bagian pinggang belakang sisi kiri dan kanan serta pada bagian depan perut.
Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Klungkung untuk menjalani identifikasi, visum, serta pemeriksaan forensik guna memastikan penyebab kematian.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, keterangan saksi, dan olah TKP, polisi menduga korban meninggal dunia setelah mengalami luka robek sebelum akhirnya hanyut di aliran sungai. Polisi juga menyebut luka yang ditemukan pada tubuh korban diduga merupakan akibat tindak kekerasan.
Polres Klungkung juga terus berupaya mengusut kasus kematian warga Nyoman Cita. Untuk mengungkap penyebab kematian korban, polisi menyisir aliran sungai guna mencari barang bukti yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut.
Kasat Reskrim Polres Klungkung, AKP Reno Chandra Wibowo, mengatakan pencarian difokuskan pada pakaian korban yang hingga kini belum ditemukan.
Saat dievakuasi, korban ditemukan mengambang tanpa mengenakan busana.
“Anggota kami masih menyisir aliran sungai untuk mencari baju, celana, hingga pakaian dalam korban. Sampai sekarang pakaian tersebut belum ditemukan di sekitar lokasi,” kata Reno.
Selain pakaian, penyidik juga telah mengamankan telepon seluler korban yang ditemukan di tepi sungai dalam kondisi masih menyala. Di sekitar lokasi juga ditemukan satu sandal jepit yang diduga milik korban. Seluruh temuan itu kini menjadi bagian dari barang bukti yang sedang dianalisis.
Penyidik juga mendalami hilangnya kalung emas yang menurut keterangan keluarga hampir selalu dikenakan korban.
Saat jenazah ditemukan, kalung tersebut sudah tidak ada. Tak hanya itu, polisi juga tidak menampik adanya luka menyerupai bekas jeratan pada leher korban. Temuan tersebut kini menjadi salah satu fokus penyelidikan.
“Ada luka jerat di leher. Apakah itu berkaitan dengan dugaan perampasan kalung atau penyebab lain, masih kami dalami melalui pemeriksaan forensic,” kata Reno.
Sejauh ini, Satreskrim Polres Klungkung telah memeriksa sejumlah saksi, mulai dari keluarga korban, warga di sekitar lokasi, hingga pekerja di warung susu milik korban.
Sementara itu, adik korban, I Ketut Buda Ana mengatakan, keluarga menyetujui proses autopsi karena melihat adanya luka-luka pada tubuh korban yang dinilai tidak wajar. Mereka berharap pemeriksaan forensik dapat mengungkap penyebab pasti kematian korban.
“Kami setuju dilakukan autopsi karena ada luka-luka di tubuh korban. Selain itu, ada dugaan tindak kekerasan dan perhiasan korban juga hilang,” ujarnya, Kamis (2/7).
Menurut Buda Ana, perhiasan yang diduga hilang berupa kalung emas seberat sekitar 70 gram beserta liontin emas Antam. Selama ini korban memang dikenal sering mengenakan perhiasan emas tersebut saat beraktivitas. “Sementara cincinnya masih ada,” jelasnya.
Ia menceritakan, sebelum dinyatakan hilang, korban sempat berpamitan kepada istrinya pada Rabu (1/7) sore. Saat itu korban mengaku sedang penat. Istrinya sudah menduga, korban berada di kawasan alur sungai di dekat Peumahan Pesona Lepang. Namun hingga sekitar pukul 20.00 Wita, korban belum juga pulang ke rumah.
Anak korban kemudian menghubungi Buda Ana untuk membantu mencari keberadaan ayahnya. “Kata anaknya, bapaknya belum pulang. Lalu saya dihubungi untuk ikut mencari,” katanya.
Keluarga kemudian mendatangi lokasi yang diduga sering dikunjungi korban, yakni alur sungai di sekitar Tukad Bubuh, tepatnya di jalan menuju perumahan Pesona Lepang. Di tepi sungai, mereka menemukan sepeda motor korban masih terparkir dalam kondisi terkunci.
Di sekitar lokasi juga ditemukan telepon seluler milik korban, sementara pakaian yang dikenakan korban tidak ditemukan. Sehari kemudian, Kamis (2/7) pagi korban ditemukan meninggal dunia mengambang di aliran Tukad Bubuh, dengan sejumlah luka robek di bagian pinggang dan perut.
Sementara itu, berdasarkan hasil autopsi Tim Kedokteran Forensik RSUP Prof Ngoerah Denpasar, korban dipastikan tewas akibat luka tusuk benda tajam. Dokter Forensik RSUP Prof Ngoerah, dr. Ida Bagus Putu Alit, DMF. Sp.F, mengungkapkan jenazah korban tiba di rumah sakit pada Kamis (2/7) siang hari tanpa mengenakan pakaian.
“Jenazah itu memang dikirim dengan tidak berpakaian, ditemukan di air. Diterima di Forensik RSUP Prof Ngoerah jam 12.15. Langsung dimasukkan kantong jenazah dan langsung autopsy,” jelas, dr. Alit dikonfirmasi Tribun Bali usai melakukan autopsi, Kamis (2/7).
Dari pemeriksaan luar dan dalam, tim dokter forensik menemukan sejumlah luka fatal pada tubuh korban. Dokter spesialis forensik ini membeberkan adanya empat luka tusuk di area punggung dan perut, serta tanda kekerasan lain di area leher.
“Luka-luka itu ada luka tusuk. Itu sebanyak empat luka tusuk. Jadi yang di punggung kanan satu, punggung kiri dua, dan di perut depan. Nah, kemudian ada juga luka lecet dan luka memar di leher,” bebernya.
Ia menegaskan bahwa penyebab utama kematian pria asal Banjarangkan tersebut adalah pendarahan hebat akibat rusaknya organ dalam yang dipicu oleh senjata tajam (sajam).
“Sebab kematiannya adalah luka tusuk di punggung kiri, yang menyebabkan kerusakan organ dalam dan pendarahan. Luka tusuk didominasi ya karena benda sajam,” katanya.
Saat disinggung mengenai perkiraan waktu kematian korban, dr. Alit enggan membeberkannya secara mendetail demi kelancaran proses penyelidikan kepolisian dan mencegah pelaku kabur atau memanipulasi alibi.
“Kalau waktu kematiannya lebih baik jangan disampaikan, karena pelakunya bisa mengalihkan alibi. Ndak boleh kita sampaikan. Nanti pihak polisi saja yang boleh,” tuturnya.
Saat ini, proses autopsi telah selesai dilakukan dan jenazah telah diserahterahkan kepada pihak keluarga yang sudah menunggu di rumah sakit sejak siang. Jenazah korban langsung dipulangkan ke kampung halamannya di Klungkung.
“(Keluarga) sudah menunggu di sini karena setelah serah terima jenazah, langsung dibawa ke Klungkung atau mungkin dititip dulu sambil mencari hari baik,” pungkasnya.
Sosok Periang dan Pekerja Keras
Duka mendalam masih dirasakan keluarga dari I Nyoman Cita alias Nyoman Colik yang ditemukan meninggal di aliran Sungai Bubuh di Perbatasan Desa Takmung dan Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Kamis (2/7). Pihak keluarga tidak menyangka, Nyoman Cita meninggal dengan cara tragis, ditemukan telungkup dengan tubuh penuh luka terbuka di aliran Sungai Bubuh.
Di mata orang-orang terdekatnya, selama ini Nyoman Cita dikenal sebagai sosok yang ramah dan periang. “Dia itu orangnya ramah sekali, lucu. Banyak dia punya temen. Suka bercanda dia,” ujar keponakan I Nyoman Cita, I Gede Agus Joni Arta, Kamis (2/7).
Dengan kepribadian tersebut, pihak keluarga meyakini Nyoman Cita tidak memiliki musuh atau masalah dengan orang lain. Pihak keluarga justu curiga, I Nyoman Cita menjadi korban perampokan.
Terlebih perhiasan emas yang sehari-hari digunakan oleh Nyoman Cita raib. Ditambah luka terbuka pada tubuh Nyoman Cita, yang diduga akibat dari senjata tajam.
Pihak keluarga tidak menampik, dalam kesehariannya I Nyoman Cita kerap menggenakan perhiasan emas.
“Pada leher juga ada luka seperti jeratan, kemungkinan kalung itu ditarik. Itu juga yang membuat keluarga curiga dan memutuskan untuk autopsy,” ungkap Joni Arta.
Selain merupakan sosok yang ramah, Nyoman Cita yang populer di panggil Nyoman Colik juga dikenal sosok pekerja keras dan ulet bekerja. Ia merupakan pemilik salah satu warung lawar sapi (godel) terkenal di kawasan Bypass Ida Bagus Mantra di Desa Negari.
Bahkan usahanya terus berkembang, sampai saat ini ia memiliki usaha catering.
Sebelum usaha catering dan lawar sapinya berkembang seperti sekarang, Nyoman Cita sempat usaha membuat lauk pauk seperti serombotan. Lalu menjualnya langsung ke rumah-rumah. Bahkan ia juga sempat membuat usaha menjual kosmetik.
“Ia sosok pekerja keras. Tekun sekali bekerja, ia merintis usaha dari nol,” ungkap Joni Arta.
I Nyoman Cita meninggalkan seorang istri, Ni Wayan Yeni dan tiga orang anak. Istrinya masih tampak syok dan terus menangis saat berada di intalasi pemulasaraan jenazah RSUD Klungkung.
Sementara untuk pemakaman dari jenazah I Nyoman Cita, pihak keluarga masih menunggu proses autopsi yang dilakukan pihak forensik di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar. (*)