Uskup Maumere Kenang Kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada Misa Pembuka NYD III di Gelora Samador
Gordy Donovan July 03, 2026 08:47 AM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Misa pembukaan Nusra Youth Day (NYD) III berlangsung meriah di Gelora Samador, Maumere, Kamis (2/7/2026). Perayaan tersebut sekaligus membangkitkan kenangan akan kunjungan Santo Paus Yohanes Paulus II yang memimpin Perayaan Ekaristi di lokasi yang sama 37 tahun silam.

Ribuan peserta NYD dan umat Katolik memadati Gelora Samador. Sebanyak 1.500 kursi yang disediakan panitia tidak mampu menampung seluruh peserta sehingga banyak umat mengikuti misa dengan berdiri.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, serta dihadiri ratusan imam dan para uskup dari berbagai keuskupan di wilayah Nusa Tenggara.

Dalam homilinya, Mgr. Ewaldus menjelaskan bahwa Gelora Samador memiliki nilai sejarah yang penting bagi Gereja Katolik di Flores. Ia mengingatkan bahwa 37 tahun lalu Santo Paus Yohanes Paulus II memimpin Perayaan Ekaristi di tempat tersebut saat melakukan kunjungan pastoral ke Maumere.

Baca juga: Keramahan Umat Keuskupan Maumere Bikin Kagum Peserta NYD III, Putri: Kami Dijamu dengan Baik

Peduli Kaum Muda

Menurutnya, Santo Paus Yohanes Paulus II selalu memberikan perhatian besar kepada kaum muda. Dalam kunjungan tersebut, Sri Paus juga menginap di Seminari Tinggi Ritapiret, Kecamatan Nita, serta memberkati Patung Kristus Raja di Maumere.

Uskup Ewaldus kemudian mengaitkan semangat NYD dengan euforia Piala Dunia FIFA 2026 yang sedang berlangsung di Amerika Serikat. Menurutnya, ajang olahraga terbesar di dunia itu mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, perjuangan, kerja keras, dan semangat memberikan kesaksian.

Nilai-nilai yang sama, katanya, juga dihidupi dalam Nusra Youth Day melalui kebersamaan, semangat saling belajar, berbagi pengalaman, dan membangun persaudaraan.

Ia mencontohkan sukacita para pendukung tim seperti Prancis dan Brasil saat meraih kemenangan, maupun kesedihan para pendukung Jerman dan Belanda ketika tim mereka tersingkir. Semua itu, menurutnya, harus mengingatkan bahwa perjuangan sejati adalah memperjuangkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

"Perjuangan memenangkan nilai-nilai luhur kemanusiaan adalah sebuah proses formasi iman yang tidak pernah berhenti. Formasi iman ini dijalankan secara berjenjang dan berkelanjutan," ujar Mgr. Ewaldus.

Ia menegaskan bahwa perjumpaan orang muda se-Nusa Tenggara dalam NYD menjadi kesempatan untuk membangun iman yang berkualitas sekaligus tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam homilinya, Uskup Maumere juga menyinggung tantangan era post-truth, yakni situasi ketika fakta objektif semakin kurang berpengaruh dibandingkan emosi, sentimen, dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini publik.

Menurutnya, pada era tersebut, batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi semakin kabur. Informasi lebih mudah diterima apabila sesuai dengan prasangka seseorang, sementara media sosial dan algoritma digital cenderung hanya menampilkan informasi yang sejalan dengan pandangan pengguna.

Ia juga mengingatkan bahwa saat ini siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa melalui proses penyuntingan maupun verifikasi jurnalistik.

Selain itu, Mgr. Ewaldus menyinggung pesan Paus Leo XIV mengenai perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, Paus menegaskan bahwa AI harus diarahkan demi kebaikan bersama, keadilan, solidaritas, serta tidak boleh digunakan dengan cara yang merendahkan martabat manusia.

Karena itu, orang muda diajak untuk melek teknologi tanpa menjadi budak teknologi. Mereka juga diingatkan agar selalu bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima dengan melakukan verifikasi dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

"Ingatlah dua hal ini: posting yang penting, bukan yang penting posting. Biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa," pesan Mgr. Ewaldus.

Menutup homilinya, Uskup Maumere mengangkat kisah Yesus yang membangkitkan putra tunggal seorang janda di Kota Nain sebagaimana diceritakan dalam Injil. Menurutnya, mukjizat tersebut lahir dari belas kasih Yesus terhadap penderitaan sang ibu.

"Yesus menyentuh usungan jenazah dan berkata, 'Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah.' Anak muda itu hidup kembali sebagai bukti kuasa Allah atas maut," katanya.

Mgr. Ewaldus menjelaskan bahwa peristiwa tersebut menunjukkan belas kasih Allah kepada seorang ibu yang kehilangan satu-satunya anak sekaligus menjadi tumpuan hidupnya. Belas kasih Allah, katanya, mengalahkan kepedihan manusia dan membangkitkan harapan baru bagi setiap orang.(moa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.