Penjelasan Lurah soal Koperasi Desa Merah Putih Dibangun di Lahan SD, Klaim Kelas Tak Terdampak
Arie Noer Rachmawati July 03, 2026 09:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di lahan SD Negeri 1 Jetis, Kabupaten Blora, Jawa Tengah sempat membuat heboh.

Lurah Jetis, Kabupaten Blora Hendro Tri Sulaksono mengklaim pembangunan koperasi di dalam area SD tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Ia menjelaskan pemanfaatan lahan sekolah dipilih setelah lokasi awal yang diusulkan dinilai tidak memenuhi persyaratan luas.

Pada awalnya pemerintah kelurahan mengusulkan pembangunan gedung koperasi di lahan bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH). 

Namun, setelah dilakukan pengecekan, lahan tersebut tidak memenuhi ukuran yang dibutuhkan.

"Awalnya kami mengusulkan di bekas jagal atau RPH. Ternyata ukurannya tidak sesuai, sehingga kami juga bingung mencari lokasi lain," kata Hendro, Kamis (2/7/2026), dikutip dari Tribun Jateng.

Menurutnya, usulan penggunaan lahan SD Negeri 1 Jetis kemudian muncul dari pihak Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah (BPPKAD).

"Saya juga sempat kaget saat rapat di Setda karena yang muncul justru SDN 1 Jetis. Saya konfirmasi, dan dijelaskan bahwa itu hanya usulan dari BPPKAD karena lahan bekas RPH tidak memenuhi ukuran. Setelah diukur, ternyata lahannya mencukupi," ujarnya.

Hendro menjelaskan lahan yang digunakan memang berada di dalam area SD Negeri 1 Jetis. 

Namun, sebelum pembangunan dilakukan, pemerintah kelurahan telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan BPPKAD.

"Memang masuk lahan SD. Tapi sudah ada komunikasi dengan Dinas Pendidikan, BPPKAD, dan pihak-pihak terkait. Jadi semuanya sudah clear," katanya.

Baca juga: Alasan Calon Pengelola Koperasi Merah Putih dan KNMP Wajib Ikut Pelatihan Militer 45 Hari

Baca juga: Calon Manajer Koperasi Merah Putih Meninggal saat Ikut Latsarmil, DPRD Jatim: Kami Sangat Sedih

Klaim Tidak Mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar

Hendro memastikan pembangunan gedung koperasi tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tersebut.

"Tidak mengganggu proses kegiatan belajar mengajar anak-anak," tegasnya.

Menurut Hendro, gedung Koperasi Kelurahan itu, dibangun di dalam lahan SDN 1 Jetis dan dikelilingi pagar.

"Awalnya bangunan koperasi berada di dalam pagar sekolah. Karena ada pembangunan, pagar akhirnya dibongkar sehingga menjadi akses jalan," jelasnya.

Meski demikian, Hendro mengaku tidak lagi mengikuti secara detail proses pembangunan karena pelaksanaannya telah menjadi kewenangan instansi lain.

"Setelah mulai dibangun, itu sudah masuk ranah Koramil, Kodim, dan pelaksana. Saya hanya sesekali memantau dari jauh," terangnya.

Terkait adanya bagian atap bangunan sekolah yang terdampak pembangunan koperasi, Hendro mengatakan hal tersebut telah dibahas bersama seluruh pihak terkait sebelum pekerjaan dimulai.

"Sebelum dibangun sudah ada pengukuran dari PU, Koramil, Dinas Pendidikan, semuanya hadir," katanya.

Baca juga: 4 Koperasi Merah Putih di Sumenep Belum Beroperasi Padahal Sudah Sebulan Lebih usai Diresmikan

Kelas Tak Terdampak

Hendro menjelaskan bangunan yang terdampak bukan merupakan ruang kelas, melainkan gudang yang sudah tidak dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.

"Itu gudang, bukan ruang kelas. Bahkan sebelumnya juga sempat diusulkan untuk penghapusan bersama bangunan lama lainnya," ujarnya.

Karena dampak pembangunan hanya mengenai sebagian kecil atap bangunan, usulan penghapusan aset daerah akhirnya tidak dilanjutkan.

"Hasil pengecekan di lapangan ternyata hanya kena sedikit bagian atas bangunan. Tidak sampai merobohkan gedung, sehingga tidak perlu mengusulkan penghapusan barang milik daerah," jelasnya.

Gedung koperasi juga dibangun berdampingan dengan musala yang berada di sisi selatan lokasi.

Menurut Hendro, pelaksana proyek memilih mempertahankan posisi musala sehingga bangunan koperasi tetap dibangun sesuai rencana.

"Kalau musala tentu tidak bisa sembarangan dipindah. Pelaksana juga tidak berani mengubahnya, sehingga tetap dibangun seperti sekarang," ujarnya.

Untuk akses menuju gedung koperasi, Hendro mengatakan sementara ini melalui sisi barat setelah pagar sekolah dibongkar.

Namun, pihaknya memastikan tidak ada akses langsung dari area sekolah menuju gedung koperasi.

"Setahu saya aksesnya tetap dari barat. Di belakang sekolah sudah tertutup tembok, jadi tidak ada akses langsung dari sekolah ke gedung koperasi," katanya.

Hendro mengaku belum mengetahui secara pasti desain akhir pembatas antara gedung koperasi dan lingkungan sekolah.

"Soal nanti ada pagar atau bagaimana saya belum tahu, untuk pembatasnya," paparnya

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.