Dari Pasar Burung ke Destinasi Wisata, Ini Sejarah Pasar Ngasem
Hari Susmayanti July 03, 2026 09:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM – Pasar Ngasem kembali ramai di media sosial.

Beragam unggahan yang menampilkan suasana pasar dengan deretan kuliner tradisional, jajanan khas, hingga lokasinya yang berada di dekat kawasan wisata Taman Sari membuat pasar ini kembali ramai dikunjungi, terutama saat musim liburan.

Bagi sebagian orang, Pasar Ngasem mungkin dikenal sebagai tempat berburu makanan khas Yogyakarta. 

Namun, jauh sebelum menjadi destinasi wisata kuliner seperti sekarang, pasar ini memiliki sejarah panjang yang membuatnya menjadi salah satu pasar tertua di Kota Yogyakarta.

Pasar Ngasem berada di Kalurahan Patehan, Kemantren Kraton, tidak jauh dari kompleks Taman Sari dan Keraton Yogyakarta. 

Letaknya yang strategis menjadikan pasar ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus kawasan bersejarah di Kota Gudeg.

Sejarah Pasar Ngasem bermula pada masa pemerintahan Hamengku Buwono II sekitar awal abad ke-19. 

Sejumlah sumber menyebutkan pasar ini mulai berkembang sekitar tahun 1809 setelah kawasan yang sebelumnya berupa danau atau genangan air di sekitar Taman Sari mengalami perubahan fungsi menjadi permukiman dan pusat aktivitas masyarakat. 

Nama "Ngasem" sendiri diyakini berasal dari banyaknya pohon asem yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut.

Pada masa awal perkembangannya, Pasar Ngasem berfungsi layaknya pasar tradisional yang memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. 

Namun, seiring berjalannya waktu, pasar ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan burung dan berbagai satwa peliharaan hingga dikenal luas sebagai Pasar Burung Ngasem.

Keberadaan pasar burung tersebut bukan tanpa alasan. 

Dalam budaya Jawa, memelihara burung memiliki nilai tersendiri dan bahkan termasuk salah satu simbol kelengkapan hidup seorang laki-laki Jawa. 

Tradisi inilah yang membuat perdagangan burung di Pasar Ngasem berkembang pesat hingga menjadi salah satu yang terbesar dan paling terkenal di Yogyakarta.

Baca juga: Apa Bedanya Nasi Mawut, Magelangan, dan Nasi Ruwet? Simak Penjelasannya

Direlokasi 2010

Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai pasar burung, pasar Ngasem mulai berubah pada 2010. 

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta merelokasi para pedagang burung dan satwa ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) yang berada di Jalan Bantul, Bantul. 

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya penataan kawasan wisata Taman Sari agar lebih tertata, nyaman, dan mendukung pelestarian kawasan cagar budaya.

Sebelum relokasi dilakukan, kondisi Pasar Ngasem dinilai sudah tidak lagi memadai. 

Area pasar yang padat, lahan parkir yang terbatas, penataan kios yang kurang teratur, hingga persoalan kebersihan akibat aktivitas jual beli satwa menjadi beberapa pertimbangan utama pemerintah. 

Melalui relokasi tersebut, diharapkan aktivitas perdagangan satwa dapat berlangsung di lokasi yang lebih memadai, sementara kawasan Pasar Ngasem dapat dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata budaya di sekitar Taman Sari.

Transformasi tersebut membawa perubahan besar terhadap fungsi Pasar Ngasem. 

Jika dahulu identik dengan kicauan burung dan deretan kios penjual satwa, kini pasar ini lebih dikenal sebagai pusat kuliner tradisional yang tetap mempertahankan nuansa khas Yogyakarta. 

Berbagai jajanan tradisional, makanan rumahan, hingga aneka minuman khas dapat dijumpai di sepanjang area pasar, menjadikannya salah satu tujuan wisata kuliner yang banyak dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.

Popularitas Pasar Ngasem pun kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir setelah banyak konten di media sosial menampilkan suasana pasar yang khas. 

Letaknya yang berada di dekat Taman Sari, Keraton Yogyakarta, dan Alun-Alun Kidul membuat banyak wisatawan memilih mampir ke Pasar Ngasem untuk menikmati sarapan atau berburu kuliner setelah mengunjungi destinasi wisata di sekitarnya.

Kondisi tersebut turut menghidupkan kembali aktivitas ekonomi para pedagang sekaligus memperkenalkan Pasar Ngasem kepada generasi yang mungkin tidak lagi mengenalnya sebagai pasar burung.

Meski fungsi dan tampilannya telah berubah, Pasar Ngasem tetap menyimpan jejak sejarah yang panjang. 

Dari sebuah kawasan yang pernah menjadi pasar burung legendaris hingga kini berkembang sebagai destinasi wisata kuliner dan budaya.

Pasar Ngasem menunjukkan bagaimana sebuah ruang publik dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas sejarah yang dimilikinya.

Kini, pengunjung yang datang ke Pasar Ngasem tidak hanya disuguhi berbagai pilihan kuliner tradisional, tetapi juga dapat merasakan suasana khas kawasan Keraton Yogyakarta. 

Bangunan pasar yang berada di lingkungan cagar budaya, serta aktivitas masyarakat dan pedagang, menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan pusat kuliner modern. 

Keberadaan Pasar Ngasem juga melengkapi daya tarik wisata di kawasan Taman Sari.

Setelah mengunjungi bekas taman kerajaan tersebut, banyak wisatawan memilih berjalan kaki menuju Pasar Ngasem karena lokasinya yang berdekatan.

Hal ini membuat pasar tidak hanya berfungsi sebagai tempat berjualan, tetapi juga menjadi ruang singgah bagi wisatawan yang ingin menikmati kuliner sekaligus melihat kehidupan masyarakat setempat.

Di sisi lain, semakin banyaknya unggahan mengenai Pasar Ngasem di media sosial turut memperkenalkan pasar ini kepada generasi muda.

Jika dahulu pasar ini lebih dikenal sebagai pusat perdagangan burung, kini banyak orang mengenalnya sebagai destinasi wisata kuliner yang menawarkan beragam makanan tradisional dengan harga yang terjangkau. 

Popularitas tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana media sosial berperan dalam mengenalkan kembali kawasan-kawasan bersejarah kepada masyarakat luas.

Meski demikian, nilai utama Pasar Ngasem bukan hanya terletak pada ragam kulinernya. 

Sejarah panjang yang dimiliki pasar ini menjadi pengingat bahwa setiap sudut Kota Yogyakarta menyimpan cerita yang berkaitan dengan perkembangan kota, budaya, dan kehidupan masyarakatnya. 

Oleh karena itu, keberadaan Pasar Ngasem tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai bagian dari warisan sejarah yang patut dikenal dan dilestarikan oleh generasi mendatang.

(MG- Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.