Alih-alih gentar menghadapi tim peringkat kedua di dunia dan dipimpin pemain sepak bola terbaik sepanjang masa, Tanjung Verde justru menyatakan akan menikmati prospek bermain menghadapi Lionel Messi
Jakarta (ANTARA) - Tim peringkat 50 ke bawah terakhir yang mengalahkan Argentina adalah Arab Saudi, yang terjadi dalam fase grup Piala Dunia Qatar pada 22 November 2022.
Saudi menang 2-1 untuk menjadi tim pertama yang mengalahkan Argentina sejak Juli 2019 setelah Albiceleste tak terkalahkan dalam 36 laga berturut-turut.
Argentina menghadapi prospek sama seperti empat tahun silam ketika Lionel Messi cs ditantang Tanjung Verde yang berperingkat ke-64, pada babak 32 Besar Piala Dunia 2026 di Miami Stadion, Florida, Amerika Serikat, Sabtu (4/7) pukul 05.00 WIB.
Tapi kini, tim asuhan Lionel Scaloni itu lebih siap menghadapi sebuah tim kejutan, semata karena sudah melihat bagaimana sepak terjang Si Hiu Biru selama fase grup Piala Dunia 2026.
Scaloni meminta pemain-pemainnya tidak memandang sebelah mata Tanjung Verde, karena menurut dia, dari negeri 10 pulau kecil di Afrika bagian barat itu, mereka tidak datang ke Amerika Utara sebagai pelengkap. "Ini tim yang tak pernah kalah," kata Scaloni.
Tidak sekadar tak pernah kalah, Tanjung Verde juga mendapatkan tiga poin mereka setelah mengimbangi juara dunia Spanyol, mantan juara dunia Uruguay, dan Arab Saudi yang merupakan kekuatan elite sepak bola Asia.
Siapa yang tak terpesona dengan pencapaian itu, apalagi Tanjung Verde hanya negeri kepulauan kecil yang sebelumnya tak pernah mengikuti Piala Dunia.
Negeri ini tambah percaya diri, bahkan ketika harus menghadapi juara bertahan dan satu dari tiga tim yang mencapai fase gugur setelah selalu menang selama fase grup, selain Meksiko dan Prancis.
Kini, tak ada yang tak percaya diri di negeri berpenduduk 500 ribu jiwa itu. Tidak presidennya, tidak pula pemain-pemainnya. Mereka sudah menghapus kata mustahil dari kamus hidup mereka.
"Saya kira Tanjung Verde bisa mengalahkan Argentina 1-0," kata Presiden Tanjung Verde Jose Maria Neves, dalam wawancara eksklusif dengan BBC, menjelang laga 32 besar antara negara terkecil yang lolos ke fase gugur Piala Dunia melawan negara yang sudah dua kali juara dunia.
Optimisme Presiden Neves sejalan dengan keyakinan serupa dari pelatih Tanjung Verde, Pedro Leitao Brito, yang akrab disapa Bubista.
Bubista bilang, "Bagi kami tidak ada yang mustahil."
Bukan low-block biasa
Mereka percaya, perjalanan Tanjung Verdea tak akan cepat-cepat berhenti, sampai-sampai Sidny Lopes Cabral, bek sayap mereka, yakin timnya bakal juara dunia.
Mereka berhasil mengimbangi Spanyol yang memiliki xG tertinggi di Piala Duni ini dengan 8,83 yang memberondong mereka dengan 27 tembakan yang 16 di antaranya berlangsung di dalam kotak penalti.
Sukses satu poin dari La Roja membuat Tanjung Verde bermain lebih terbuka melawan Uruguay dan Arab, yang juga berperingkat lebih tinggi dari mereka.
Walau hasilnya tetap seri, Si Hiu Biru berhasil menunjukkan bahwa mereka tak cuma pandai menumpuk pemain di belakang, tapi juga bisa menyerang pada tingkat yang bisa merepotkan tim-tim lebih kuat. Uruguay yang dua kali mereka bobol adalah buktinya.
Ternyata, dalam urusan membuat peluang gol, kesenjangan antara Tanjung Verde dan Argentina tak terlalu jauh.
Albiceleste membuat total 35 peluang dari tiga laga fase grup, sedangkan The Blue Sharks mampu melepaskan 33 tembakan.
Si Hiu Biru memang kalah banyak dalam menciptakan peluang tepat sasaran, yakni 7 berbanding 15.
Tapi bagi tim liliput dari perspektif sepak bola global, pencapaian Tanjung Verde itu fantastis. Apalagi Si Hiu Biru hanya berbeda tipis dengan Argentina dalam mengancam lawan di dalam kotak penalti.
Pada aspek itu, jika angka Argentina 20, maka Tanjung Verde melakukannya 15 kali.
Data-data ini menunjukkan Tanjung Verde bukan tim blok pertahanan garis rendah biasa-biasa, karena juga memiliki kemampuan menyerang yang bisa mengubah pendulum laga condong menguntungkan mereka.
Disiplin mereka yang tinggi kala bertahan, kerja sama tim yang kuat yang terikat bak sebuah keluarga, dan penolakan untuk panik kala ditekan habis-habisan, justru membuat lawan-lawan yang lebih kuat dari mereka menjadi frustrasi.
Faktor Lionel Messi
Itu terjadi pada Spanyol dan Uruguay. Tak ada jaminan Argentina tak akan berada dalam situasi seperti dialami dua tim yang juga penuh bintang itu.
Apalagi Albiceleste akan menghadapi Tanjung Verde dengan versi upgrade, khususnya dalam hal mental dan kepercayaan diri sehingga kian menikmati debut mereka sehingga tak gugup karena tak terbebani apa-apa.
Alih-alih gentar menghadapi tim peringkat kedua di dunia dan dipimpin pemain sepak bola terbaik sepanjang masa, Tanjung Verde justru menyatakan akan menikmati prospek bermain menghadapi Lionel Messi.
Cuma, Tanjung Verde mesti tahu bahwa hasil seri mereka dari Spanyol dan Uruguay adalah karena kedua lawannya tak memiliki pemain seperti Lione Messi.
Messi adalah tautan hilang yang membuat Spanyol buntu tak bisa menaklukkan kiper Tanjung Verde Vozinha.
Sebaliknya, Argentina tak akan menghadapi tautan hilang semacam itu, karena memiliki Messi yang senantiasa tahu bagaimana mengatasi situasi buntu.
Tapi bukan soal keterampilan Messi dalam mengolah bola atau memimpin tim, melainkan caranya yang kreatif yang tak terbayangkan kebanyakan orang dalam bagaimana memecahkan kebuntuan itu.
Jika situasi buntu yang dihadapi Spanyol pada pertandingan fase grup juga dialami oleh Argentina, maka Albiceleste tak akan berakhir sesulit kedua itu itu, karena faktor Messi.
Visi bermain Messi, yang luar biasa kuat dan kesadaran taktisnya yang sangat tinggi, membuat dia selalu bisa membongkar pertahanan lawan, sekokoh apa pun pertahanan lawan itu, yang bahkan dia eksekusi dalam waktu sepersekian detik.
Itu terbukti dari gol-gol unik yang dia ciptakan saat situasi buntu, yang biasanya hasil dari kalkulasi matang nan jenial yang dia selaraskan dengan gerak tubuh, kaki, dan kepalanya.
Tapi semua skenario itu terjadi hanya jika Tanjung Verde bertanding seperti saat melawan Spanyol, dan Scaloni tak akan membiarkan Bubista menggelar denah permainan semulus sebelumnya.





