Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Feronike Rumere
TRIBUN-PAPUA.COM, MIMIKA – Berbagai produk kerajinan tangan dan pangan lokal dari kabupaten Puncak di Provinsi Papua Tengah dipamerkan dalam Timika Inside Festival of Art (TIFA) 2026 yang digelar di halaman Gedung Eme Neme Yauware, Jalan Budi Utomo, Kabupaten Mimika, Kamis (2/7/2026).
Mengusung tema "Tong Satu Tong Kuat Bersama Indonesia, Bersama Papua TIFA Siap Menggerakkan dan Mengulik Prestasi", festival ini menghadirkan puluhan stan dari berbagai daerah.
Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah stan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Puncak yang menampilkan beragam kerajinan khas hasil karya mama-mama asli Puncak.
Baca juga: Layanan Solar SPBU Hawai Disetop, Sampah Menumpuk di Jalan Sentani
Sekretaris Dekranasda Kabupaten Puncak, Vincef Fonde Manggo, mengatakan Dekranasda Puncak baru dilantik pada 6 Desember 2025 sehingga usianya baru sekitar tujuh bulan.
"Walaupun baru tujuh bulan, kami bersyukur bisa hadir di TIFA 2026 untuk memperkenalkan hasil karya mama-mama di Kabupaten Puncak," ujarnya.
Ia menjelaskan, produk yang dipamerkan antara lain tempat tisu, bros, dompet dari kulit kayu, noken, kalung, hingga mahkota khas Papua.
Baca juga: Layanan Solar Disetop karena Gangguan Keamanan, Armada Kebersihan Lumpuh, Sampah Menumpuk di Sentani
Menurut Vincef, salah satu produk yang paling unik dibuat dari limbah buah merah yang biasanya dibuang. Melalui proses pengeringan, pewarnaan dan pengolahan yang cukup panjang, limbah tersebut diubah menjadi berbagai aksesori bernilai ekonomi.
"Kami ingin menunjukkan bahwa bahan yang dianggap sampah bisa menjadi produk bernilai jual tinggi apabila diolah dengan baik," katanya.
Selain itu, terdapat pula aksesori yang dibuat dari bunga anggrek hutan dan padi belantara yang tumbuh di kawasan pegunungan Kabupaten Puncak.
Baca juga: Piter Gusbager Minta Gereja Paling Depan Selamatkan Domba dari Miras dan Ganja
Ia mengatakan proses pembuatan kerajinan tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama karena bahan baku harus dicari langsung di hutan, kemudian dijemur, direbus, dikeringkan kembali, hingga siap dirangkai menjadi produk.
"Kalau bahan anggrek harus melalui beberapa tahapan. Setelah dijemur, direbus, lalu dijemur lagi sehingga hasilnya bisa bertahan sampai puluhan tahun," jelasnya.
Vincef mengungkapkan setiap daerah di Papua memiliki teknik merajut noken yang berbeda, termasuk Kabupaten Puncak yang memiliki ciri khas tersendiri.
Adapun harga produk yang dipamerkan bervariasi, mulai dari kalung taring babi Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, aksesori bunga anggrek sekitar Rp50 ribu, dompet dari kulit kayu mencapai Rp4 juta, sementara mahkota cenderawasih dibanderol sekitar Rp5 juta.
Untuk noken, harganya disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya, mulai dari jutaan rupiah hingga sekitar Rp8 juta untuk ukuran besar.
Baca juga: Soroti Rentetan Kekerasan di Intan Jaya, Komnas HAM Desak Presiden Evaluasi Sistem Keamanan di Papua
Ia berharap keikutsertaan Dekranasda Kabupaten Puncak dalam TIFA 2026 dapat memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus membuka peluang pemasaran bagi hasil karya mama-mama Papua.
"Masih banyak produk yang belum sempat kami tampilkan. Mudah-mudahan pada kegiatan berikutnya kami bisa membawa lebih banyak lagi hasil kerajinan khas Kabupaten Puncak," pungkasnya.(*)