TRIBUNNEWS.COM - Drama terbaru di Piala Dunia 2026 terjadi dalam pertandingan Portugal vs Kroasia babak 32 besar di Stadion Toronto pada Jumat (3/7/2026) pagi.
Gol penyeimbang kedudukan 2-2 Kroasia atas Portugal yang dicetak oleh Gvardiol di penghujung waktu tambahan babak kedua atau pada menit ke-90+12 dianulir oleh wasit.
Kejadian itu bermula dari umpan Perisic yang mengarah ke sisi tengah kotak penalti. Bola kemudian diperebutkan oleh Igor Matanovic dengan salah satu pemain Portugal.
Tapi, kedua pemain tersebut tidak ada yang berhasil mendapatkan bola yang kemudian lepas ke arah pemain terakhir Mario Pasalic di dekat tiang dekat sisi kiri.
Bola mengenai Pasalic dan memantul ke sisi tengah lapangan yang kemudian disontek oleh Gvardiol.
Posisi Pasalic sebenarnya tidak berada dalam offside apabila bola diterima langsung dari umpan silang Ivan Perisic. Sebab, ia bergerak setelah Perisic melepaskan bola.
Namun, hasil peninjauan VAR menunjukkan bahwa sebelum bola sampai ke Pasalic, bola lebih dulu menyentuh kepala Igor Matanovic.
Sentuhan inilah yang mengubah titik umpan dalam proses penilaian offside.
Dalam aturan offside, posisi pemain dinilai pada saat rekan setim terakhir memainkan atau menyentuh bola.
Dari tayangan ulang biasa, sentuhan Matanovic memang nyaris tidak terlihat. Akan tetapi, VAR dibantu Connected Ball Technology (CBT) yang tertanam di dalam bola untuk memastikan setiap kontak yang terjadi.
Sensor di dalam bola merekam perubahan gerak (percepatan) saat terjadi kontak dengan Matanovic, sehingga momen sentuhan dapat diidentifikasi secara presisi.
Data itu kemudian disinkronkan dengan rekaman video sehingga wasit dapat memastikan bahwa sentuhan memang terjadi.
Karena titik umpan berubah menjadi saat Matanovic menyentuh bola, posisi Pasalic saat itu sudah berada di depan garis pertahanan Portugal.
Itulah sebabnya gol Gvardiol akhirnya dianulir karena offside.
Teknologi ini bekerja dengan prinsip yang mirip UltraEdge atau Snickometer dalam kriket, yakni menggunakan sensor untuk memastikan apakah benar terjadi kontak antara bola dan pemain.
Bedanya, Snickometer mengandalkan mikrofon untuk menangkap suara benturan bola, sedangkan CBT menggunakan sensor yang tertanam di dalam bola untuk mendeteksi perubahan geraknya.
Connected Ball Technology merupakan teknologi yang dikembangkan FIFA bersama adidas dengan menanamkan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) di dalam bola pertandingan.
Sensor ini bekerja hingga 500 kali per detik (500Hz) untuk merekam posisi, kecepatan, percepatan, serta momen ketika bola disentuh pemain.
Data tersebut dikirim secara real-time ke ruang operasi VAR, lalu dipadukan dengan sistem pelacakan pemain berbasis kamera di stadion.
Kombinasi kedua teknologi ini membantu wasit menentukan momen sentuhan bola secara presisi, sehingga keputusan offside semi-otomatis dapat diambil lebih cepat dan akurat.
Selain offside, teknologi ini juga membantu menganalisis insiden lain seperti dugaan handball, penalti, atau bola keluar lapangan dengan menyediakan data sentuhan bola yang sangat rinci.
Tujuannya adalah meningkatkan akurasi keputusan wasit sekaligus menghadirkan transparansi yang lebih baik kepada penonton.
Pandangan Pengamat soal Peran Teknologi bagi Wasit
Pembahasan mengenai peran teknologi dan kinerja perangkat pertandingan juga sempat mengemuka dalam podcast Super Taktik Tribunnews yang menghadirkan Anwar Hamid, konten kreator Analis Kampung Sebelah, serta football enthusiast Agung Iqbal Ramadhan.
Keduanya menilai kehadiran teknologi menjadi langkah positif bagi perkembangan sepak bola modern.
Menurut Anwar Hamid, penggunaan VAR dan Semi-Automated Offside Technology menjadi kemajuan yang patut diapresiasi karena mampu meningkatkan akurasi pengambilan keputusan di lapangan.
"Penggunaan VAR dan Semi-Automated Offside Technology sebagai instrumen yang tepat dan menjadi sarana pembelajaran yang baik, termasuk bagi wasit lokal di Indonesia," kata Anwar dalam podcast yang direkam di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Pandangan serupa disampaikan Agung Iqbal Ramadhan. Menurutnya, kehadiran teknologi juga mengubah cara publik memandang kepemimpinan pertandingan.
"Sekarang kita tidak lagi hanya berbicara tentang wasit sebagai individu, tetapi tentang tim wasit. Ada asisten wasit, VAR, hingga kamera real-time yang semuanya bekerja bersama membantu mengambil keputusan," kata Agung.
Menurut Agung, teknologi yang tersedia saat ini sudah sangat mumpuni untuk membantu perangkat pertandingan mengambil keputusan secara objektif.
"Kalaupun masih ada satu atau dua kesalahan kecil, itu tetap sesuatu yang manusiawi. Justru di situlah letak keindahan sepak bola. Selalu ada ruang bagi drama dan perdebatan, seperti yang pernah melahirkan momen-momen ikonik semisal Gol Tangan Tuhan," tambahnya.
Laga Portugal kontra Kroasia menjadi bukti bahwa teknologi kini memegang peran penting dalam sepak bola modern.
Meski keputusan akhir tetap berada di tangan wasit, dukungan sistem seperti Connected Ball Technology dan Semi-Automated Offside Technology membantu memastikan setiap keputusan diambil berdasarkan data yang lebih akurat.
(Tribunnews.com/Sina)