Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus judi online hingga pinjaman online ilegal marak di kondisi masyarakat Indonesia saat ini, termasuk Jawa Barat.
Polda Jabar mencoba mendorong pendekatan edukatif dalam upaya pencegahan judol dan pinjol ilegal melalui karya seni, salah satunya dengan mendukung produksi film 'Menang untuk Kalah' yang mengangkat dampak sosial dari praktik-praktik semacam itu.
Kapolda Jabar, Komjen Rudi Setiawan hadir langsung di Hotel Savoy Homann, Kamis (2/7/2026) malam. Kata Rudi, penyelesaian judol dan pinjol ilegal tak cukup hanya lewat penegakan hukum, melainkan perlu edukasi ke masyarakat guna mencegah masyarakat terjerumus ke praktik yang merugikan.
Baca juga: Lawan Pinjol Ilegal & Judi Online, Jateng Perkuat Literasi Keuangan hingga Desa
"Judol bisa dimainkan kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Dampaknya bahkan sudah masuk ke seluruh lapisan masyarakat. Judol sering memberikan kemenangan di awal untuk menarik minat pemain. Tapi, berakhir pada kekalahan, kerugian finansial, sampai kehancuran kehidupan pelakunya," kata Komjen Rudi.
Kapolda menyoroti keterkaitan antara judol dengan pinjol ilegal. Menurutnya, banyak masyarakat yang akhirnya memanfaatkan pinjol ilegal untuk menutupi kerugian akibat bermain judol.
“Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang memiliki keinginan. Ketika ingin memenuhi keinginan itu dengan cara instan, sebagian orang menganggap judol sebagai solusi. Saat mengalami kekalahan, mereka kemudian beralih ke pinjaman online. Akhirnya terjebak dalam lingkaran yang semakin sulit keluar,” katanya.
Berdasarkan data Polda Jabar, berbagai konflik sosial yang ditangani kepolisian memiliki keterkaitan dengan judol maupun pinjol ilegal. Kondisi itu mendorong kepolisian memperkuat langkah preventif melalui edukasi kepada masyarakat.
Komjen Rudi juga meminta masyarakat perlu didorong agar lebih bijak memanfaatkan teknologi digital serta mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sehingga tidak mudah tergoda oleh praktik-praktik yang merugikan.
Kolaborasi dengan insan seni menjadi salah satu cara efektif menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Dari kerja sama itu lahirlah film Menang untuk Kalah produksi Para Films yang mengangkat realitas sosial mengenai dampak judol dan pinjol ilegal.
Dia berharap film itu dapat ditonton masyarakat luas sehingga mampu meningkatkan kesadaran publik sekaligus menjadi bagian dari upaya menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat di Jawa Barat.
Baca juga: Tersapu Arus K-Pop, Pelestarian Sastra Sunda Kini Harus Dikemas Lewat Video dan Film
Film Menang untuk Kalah, Rudi menceritakan lahir dari obrolan ringan bersama Alfarizi yang merupakan seorang seniman yang dikenalnya.
Pembahasan itu terjadi setelah Polda Jabar mengungkap kasus perjudian di kawasan Kosambi yang sempat menjadi perhatian publik.
Menurutnya, Jawa Barat tidak memberikan ruang bagi segala bentuk perjudian karena praktek tersebut menjadi pemicu berbagai persoalan sosial di masyarakat.
Film tersebut menggambarkan berbagai dampak yang dialami korban, mulai tekanan akibat penagihan utang, kehancuran ekonomi keluarga, konflik rumah tangga, hingga perjuangan untuk bangkit dari keterpurukan.
Kapolda Jabar menilai cerita yang diangkat merupakan cerminan berbagai kasus yang selama ini ditemukan di lapangan.
“Film ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa mengalami kehancuran akibat judol dan bagaimana tekanan yang dialami korban ketika diteror penagih pinjol ilegal. Semua itu merupakan kenyataan yang terjadi di masyarakat,” ujarnya.
Film Menang Untuk Kalah turut dibintangi sejumlah aktor Indonesia, termasuk aktor senior Surya Saputra. Kehadiran para pemeran diharapkan mampu memperkuat penyampaian pesan moral kepada masyarakat mengenai bahaya judol dan pinjol ilegal.
Dia berharap film tersebut dapat dipublikasikan secara luas dan menjadi salah satu media edukasi yang efektif dalam mendukung upaya pencegahan judi online serta pinjaman online ilegal di tengah masyarakat.(*)
Baca juga: Samo Rafael dan Shanna Shannon Hidupkan Romansa Basil-Elma dalam Film ‘Dan Bandung’