Jonathan Tah Buka Suara Soal Kegagalan Penalti yang Menyebabkan Jerman Tersingkir dari Piala Dunia
Agus Firmansyah July 03, 2026 01:43 PM

Jonathan Tah akhirnya angkat bicara mengenai beban psikologis akibat kegagalannya mengeksekusi penalti yang memastikan tersingkirnya Jerman secara mengejutkan dari Piala Dunia 2026. Bek Bayern Munich itu menjadi pemain yang gagal menuntaskan tugas dari titik putih, dan laporan kemudian mengungkap bahwa sejumlah rekan setimnya enggan maju dalam momen penuh tekanan tersebut.

Mimpi buruk di New Jersey

Tah akhirnya berbicara tentang momen yang membayangi kariernya itu, mengakui bahwa kegagalannya mengeksekusi penalti penentuan melawan Paraguay telah berputar di pikirannya “ribuan kali.” Bek berusia 30 tahun itu, yang maju sebagai penendang keenam, menjadi sosok yang tidak beruntung dalam adu penalti tersebut setelah tendangannya melambung di atas mistar, sebelum tendangan sukses Jose Canale dari Paraguay memastikan kemenangan 4-3 dalam adu penalti, usai hasil imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu.

Melalui media sosial untuk menyalurkan emosinya, bintang Bayern Munich itu terbuka mengenai dampak mental dari kekalahan tersebut. “Penalti yang gagal itu sudah berulang kali melewati pikiranku, dan aku mencoba berkali-kali membayangkan bola itu masuk ke gawang,” tulis Tah di akun Instagram-nya. “Namun kenyataannya bola itu tidak masuk. Dan itu sangat menyakitkan. Aku sangat kecewa dan sedih karena kami tersingkir dari turnamen. Sejujurnya, aku masih belum benar-benar menyadarinya sepenuhnya.”

Keberanian di tengah minimnya relawan

Meski kegagalannya menjadi sorotan utama, muncul laporan yang menyebutkan adanya kurangnya kepemimpinan di skuad Jerman saat adu penalti berlangsung. Menurut laporan BILD, ketika pemain-pemain senior lainnya ragu untuk menjadi penendang keenam, Tah — yang belum pernah mengambil penalti dalam karier profesionalnya — justru dengan berani menawarkan diri untuk maju pada momen penuh tekanan tersebut.

Kurangnya inisiatif dari skuad itu mendapat kritik dari legenda penjaga gawang Oliver Kahn, yang menegaskan bahwa “tim besar tidak mencari relawan” dalam situasi semacam itu. Terlepas dari hasilnya, Tah menegaskan bahwa ia tidak akan bersembunyi di masa depan, dengan mengatakan: “Aku akan mengambilnya lagi lain kali! Dengan keyakinan penuh dan kepercayaan diri untuk mencetak gol bagi Jerman. Kali ini tidak berhasil, tetapi itu tidak akan menghentikanku untuk mencoba lagi di kesempatan berikutnya. Kami sebagai tim akan terus melangkah, dan aku juga akan terus maju, apa pun yang terjadi!”

Kontroversi VAR menambah frustrasi Jerman

Adu penalti tersebut sebenarnya bisa dihindari jika keputusan kontroversial pada masa perpanjangan waktu berpihak kepada Jerman. Tah sempat mengira dirinya telah mencetak gol kemenangan lewat tendangan di menit-menit akhir, namun wasit menganulirnya karena dugaan pelanggaran yang dilakukan Waldemar Anton terhadap penjaga gawang. Julian Nagelsmann tampak sangat marah di pinggir lapangan dan dalam wawancara setelah pertandingan, ia menyebut keputusan wasit itu sebagai “sebuah skandal.” Nagelsmann menilai kontak yang terjadi sangat minim dan merasa timnya dirampas dari gol kemenangan yang sah sebelum akhirnya harus menghadapi adu penalti.

Dukungan mengalir untuk bintang Bayern

Meski banyak kritik dialamatkan pada performa tim secara keseluruhan, Tah menerima dukungan luas dari komunitas olahraga. Bintang NBA Dennis Schroder, mantan rekan setim Granit Xhaka, serta mantan pemain tim nasional Jerman, Cacau, termasuk di antara mereka yang mengirimkan pesan dukungan di media sosial.

Klubnya, Bayern Munich, juga menunjukkan dukungan terhadap bek tengah mereka dengan membalas unggahan Tah: “Kata bangga saja tidak cukup.” Sementara Jerman memasuki masa refleksi mendalam setelah tersingkir di babak 32 besar, keberanian Tah untuk memikul tanggung jawab menunjukkan bahwa ia masih menjadi bagian penting dari rencana masa depan DFB.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.