TRIBUNSTYLE.COM - Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sudah lama punya reputasi sebagai salah satu gunung dengan jalur pendakian paling menantang di Indonesia.
Pemandangan savana, kaldera megah, Danau Segara Anak, hingga panorama matahari terbit dari ketinggian membuat Rinjani jadi destinasi impian banyak pendaki. Namun di balik pesonanya, Rinjani juga kerap diberi cap “kejam”, terutama bagi pendaki pemula.
Lalu, benarkah Gunung Rinjani seseram itu untuk orang yang baru mulai naik gunung?
Pertanyaan itulah yang belakangan ramai dibahas, seiring munculnya konten yang menyoroti karakter jalur pendakian Rinjani dan kekhawatiran banyak orang sebelum berangkat ke sana.
Baca juga: Uniknya Gumbang Ganang, Obel-Obel, Sambelia, Lombok Timur, NTB, Paket Komplet dari Sawah hingga Laut
Rinjani memang bukan gunung yang bisa dianggap enteng, tetapi bukan berarti pemula sama sekali tak punya peluang untuk menaklukkannya. Kuncinya justru ada pada persiapan, pemilihan jalur, kondisi fisik, dan cara mengenali medan sejak awal.
Secara umum, pendakian Gunung Rinjani terkenal karena trek yang panjang, perubahan elevasi yang cukup ekstrem, serta kontur jalur yang menuntut stamina. Beberapa bagian jalurnya didominasi tanjakan panjang, jalur tanah berpasir, hingga area menanjak yang terasa menguras tenaga, terutama menjelang puncak.
Inilah yang membuat banyak pendaki menyebut Rinjani “kejam”. Sebutan itu sebenarnya lebih mengarah pada tingkat tantangan medannya, bukan karena gunung ini mustahil didaki oleh pendaki baru.
Bagi pemula, tantangan terbesar biasanya bukan hanya soal tinggi gunung, melainkan kombinasi antara durasi perjalanan, cuaca dingin, tenaga yang terkuras, serta ritme jalan yang harus dijaga sejak awal.
Baca juga: Wisata Alam Samongkat di Batudulang, Batulanteh, Sumbawa, NTB: Sungai Jernih & Masuknya Gratis!
Jika datang tanpa latihan fisik, tanpa perlengkapan memadai, atau tanpa memahami karakter jalur, pendakian Rinjani memang bisa terasa berat. Sebaliknya, jika persiapan dilakukan dengan benar, gunung ini tetap bisa dinikmati secara aman dan lebih terukur.
Ada beberapa jalur resmi pendakian Gunung Rinjani yang umum digunakan pendaki, seperti Sembalun, Senaru, Aik Berik, Timbanuh, Torean, dan Tetebatu. Masing-masing punya karakter yang berbeda.
Jalur Sembalun misalnya, terkenal dengan savana luas dan trek yang relatif terbuka, tetapi tetap menuntut tenaga besar karena pendaki akan menghadapi tanjakan panjang menuju Plawangan Sembalun hingga puncak.
Sementara jalur Senaru identik dengan suasana hutan yang lebih teduh dan kerap dipilih untuk perjalanan menuju Danau Segara Anak. Ada pula jalur Torean yang belakangan populer karena menawarkan lanskap dramatis, meski tetap perlu kewaspadaan ekstra karena medannya punya tantangan tersendiri.
Buat pendaki pemula, memilih jalur tidak bisa asal ikut-ikutan. Jalur yang terlihat indah di media sosial belum tentu paling cocok untuk kemampuan fisik sendiri. Karena itu, calon pendaki sebaiknya mencari tahu detail jalur, durasi perjalanan, titik camp, hingga kebutuhan logistik sebelum memesan tiket.
Selain memahami jalur, pendaki pemula juga wajib memberi perhatian besar pada kesiapan fisik. Rinjani bukan tipe pendakian yang nyaman dijalani hanya dengan modal semangat.
Latihan jalan kaki rutin, jogging, naik-turun tangga, atau latihan beban ringan untuk kaki dan punggung sangat membantu tubuh beradaptasi dengan trek panjang. Daya tahan napas dan kekuatan kaki akan sangat terasa manfaatnya saat menghadapi tanjakan panjang maupun jalur menurun yang licin setelah hujan.
Persiapan mental juga tidak kalah penting. Banyak pendaki gagal menikmati Rinjani karena sejak awal membangun ekspektasi yang terlalu ringan. Padahal, ritme mendaki gunung tinggi membutuhkan kesabaran, kemampuan mengatur tenaga, dan kemauan untuk mendengar kondisi tubuh sendiri.
Mendaki terlalu cepat, memaksakan diri, atau menyepelekan istirahat justru bisa memperbesar risiko kelelahan di tengah perjalanan.
Dari sisi operasional, pendakian Gunung Rinjani diatur oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). Pendaki tidak bisa datang begitu saja tanpa registrasi, karena sistem kunjungan kini dilakukan secara lebih tertib demi menjaga kuota dan kelestarian kawasan.
Jam pelayanan registrasi atau check-in dibuka setiap hari pukul 07.00–15.00 WITA di pintu masuk resmi masing-masing jalur pendakian. Calon pendaki juga wajib melakukan booking online terlebih dahulu melalui aplikasi resmi e-Rinjani. Sistem ini diterapkan agar jumlah pendaki lebih terkontrol dan pengalaman pendakian bisa berjalan lebih aman.
Untuk tarif masuk, wisatawan nusantara dikenakan biaya Rp 5.000 per orang per hari pada hari kerja dan Rp 7.500 per orang per hari saat akhir pekan atau tanggal merah. Sementara wisatawan mancanegara dikenai tarif Rp 150.000 per orang per hari pada hari kerja dan Rp 225.000 per orang per hari saat akhir pekan.
Biaya tersebut merupakan tiket masuk kawasan taman nasional, sehingga total pengeluaran pendaki biasanya akan bertambah sesuai durasi pendakian, kebutuhan logistik, hingga penggunaan jasa pemandu atau porter.
Di luar tiket masuk, calon pendaki juga perlu memperhitungkan perlengkapan dasar seperti jaket hangat, jas hujan, sepatu trekking yang layak, sleeping bag, headlamp, sarung tangan, dan stok air minum yang cukup.
Barang-barang ini bukan pelengkap gaya, melainkan kebutuhan utama untuk bertahan nyaman di jalur yang panjang dan cuaca pegunungan yang mudah berubah.
Jadi, apakah Gunung Rinjani “kejam” untuk pemula? Jawabannya: bisa terasa kejam jika didatangi tanpa persiapan, tetapi tidak harus menakutkan bila diperlakukan dengan serius.
Rinjani memang bukan gunung santai untuk coba-coba, namun juga bukan tempat yang tertutup bagi pendaki baru. Selama tahu kemampuan diri, memilih jalur dengan bijak, melatih fisik, dan mematuhi aturan pendakian, pengalaman mendaki Rinjani justru bisa jadi salah satu perjalanan paling berkesan.
(TribunTravel.com/TribunStyle.com/Farah Aulya)