Abaikan Kekurangan Bahan Bakar, Putin Tak Terganggu atas Serangan Ukraina ke Kilang Minyak Rusia
Tiara Shelavie July 03, 2026 03:21 PM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin dinilai tidak terganggu oleh meningkatnya serangan Ukraina terhadap kilang minyak negaranya.

Padahal, saat ini dilaporkan terjadi kekurangan bahan bakar yang parah di seluruh Rusia.

Telah dilaporkan lebih dari 50 serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan fasilitas energi lainnya di Rusia dan Krimea yang diduduki sejak Maret 2026, serangkaian serangan yang menurut para pemimpin Ukraina bertujuan untuk menekan Moskow agar mengakhiri perang.

Diperkirakan sepertiga dari kapasitas penyulingan minyak Rusia telah terputus, menurut Chris Weafer, CEO dari perusahaan konsultan Macro-Advisory.

Serangan-serangan tersebut telah menimbulkan kerusakan jangka panjang yang akan membutuhkan biaya besar untuk diperbaiki.

Meskipun terdapat sistem pertahanan udara yang signifikan yang melindungi ibu kota Rusia, sebuah kilang minyak utama di Moskow telah dihantam dua kali.

Serangan kedua pada 18 Juni 2026 menyebabkan kilang tersebut terbakar, merusak peralatan penting yang dilaporkan membutuhkan waktu hingga akhir tahun untuk diperbaiki.

Dengan produksi bensin di Rusia yang berkurang sekitar 17 persen menjadi 850.000 barel per hari, menurut statistik pemerintah, penjatahan telah diberlakukan di banyak wilayah, dan para pengendara harus mengantre selama berjam-jam untuk mengisi bahan bakar.

Krimea, yang dianeksasi secara ilegal oleh Rusia dari Ukraina pada tahun 2014, menghadapi kekurangan bahan bakar terburuk.

Penjualan bensin kepada individu telah dihentikan sepenuhnya di sana.

Baca juga: Kedubes Rusia di Stockholm Diserang Drone, Swedia Dituding Gagal Lindungi Misi Diplomatik

Putin Remehkan Dampak Serangan Ukraina

Putin memimpin pertemuan para pejabat pemerintah akhir pekan lalu untuk membahas kekurangan bahan bakar.

Dalam pernyataan yang disiarkan di televisi, ia mengakui bahwa negara itu sedang melewati "masa sulit."

Putin berjanji untuk mempercepat perbaikan fasilitas energi dan mengatakan Rusia akan mempertimbangkan untuk mengimpor bensin guna membantu menutupi apa yang ia sebut sebagai kekurangan "sementara."

Ia juga mengatakan industri persenjataan Rusia akan meningkatkan produksi sistem pertahanan udara untuk menangkis serangan Ukraina di masa mendatang.

Putin menggambarkan serangan Ukraina sebagai upaya untuk memecah belah masyarakat Rusia, menghentikan serangan Moskow, dan mencoba memaksa Kremlin untuk bernegosiasi dengan "syarat-syarat yang menguntungkan bagi lawan kita."

“Kami tidak akan memberi mereka kesempatan itu,” katanya.

Meskipun Putin mengatakan serangan jarak jauh Ukraina terhadap fasilitas minyak Rusia "sama sekali tidak berpengaruh pada situasi di garis depan," analis militer Barat mengatakan serangan jarak menengah terhadap tentara Rusia dalam beberapa bulan terakhir telah menghambat logistik militer dan memperlambat laju pergerakannya, sehingga medan perang mengalami kebuntuan.

Putin mengklaim pasukan Rusia masih terus maju di sepanjang garis depan yang panjangnya sekitar 1.000 kilometer (620 mil).

Dalam sebuah wawancara akhir pekan lalu dengan televisi pemerintah, Putin menyebutkan nama-nama desa kecil dan bahkan jalan-jalan di Ukraina.

PUTIN HADIRI RAPAT - Foto diambil dari Kantor Presiden Rusia, Kamis (19/6/2025), memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin hadir dalam pertemuan untuk membahas parameter utama rancangan Program Persenjataan Negara tahun 2027–2036 pada 11 Juni 2025.
PUTIN HADIRI RAPAT - Foto diambil dari Kantor Presiden Rusia, Kamis (19/6/2025), memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin hadir dalam pertemuan untuk membahas parameter utama rancangan Program Persenjataan Negara tahun 2027–2036 pada 11 Juni 2025. (Kantor Presiden Rusia)

Kebakaran di Kilang Minyak Utama Rusia

Pada Minggu (28/6/2026), Ukraina melanjutkan serangan drone besar-besaran terhadap Rusia.

Serangan itu membakar kilang minyak utama di Rusia selatan dan menewaskan sedikitnya dua orang.

Ukraina telah secara signifikan meningkatkan serangan jarak jauhnya terhadap industri militer dan fasilitas energi Rusia dalam beberapa bulan terakhir.

Serangan Ukraina bertujuan untuk mengurangi pendapatan Moskow dari invasi yang kini memasuki tahun kelima dan membuat Rusia merasakan konsekuensinya.

Kampanye tersebut telah mencekik pasokan bahan bakar dan pengiriman militer Rusia.

Menurut analis Barat, hal itu juga memperlambat upaya Moskow di medan perang, sehingga menambah tekanan pada Kremlin untuk duduk di meja perundingan.

“Malam ini, 'sanksi jarak jauh' kami mencapai dua kilang minyak di Rusia,” tulis Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di aplikasi pesan Telegram pada hari Minggu.

“Setiap (serangan) berarti pengurangan sumber daya yang mendukung mesin perang Rusia, dan langkah lain menuju perdamaian," jelasnya.

Baca juga: Trump Tetap Optimistis Kesepakatan Damai Rusia-Ukraina Bisa Tercapai

Dilansir AP News, puing-puing dari drone Ukraina yang jatuh memicu kebakaran di kilang minyak di Slavyansk-na-Kubani, sebuah kota di wilayah Krasnodar, Rusia, di sebelah timur Krimea yang diduduki, menurut Gubernur Veniamin Kondratyev.

Puing-puing yang berjatuhan menewaskan satu orang di Slavyansk dan melukai satu orang lainnya di desa terdekat, menurut pihak berwenang setempat.

Lokasi Slavyansk adalah salah satu kilang utama di Rusia selatan, yang memproses hampir 4 juta ton minyak mentah per tahun, menurut situs web operatornya.

Kilang ini juga merupakan sumber utama produk minyak bumi yang ditujukan untuk ekspor melalui pelabuhan Laut Hitam Rusia, termasuk bahan bakar minyak, nafta, dan bahan bakar kapal.

Foto dan video yang beredar di media sosial Rusia menunjukkan kepulan asap tebal di atas lokasi yang menurut pengguna adalah fasilitas Slavyansk.

Zelenskyy juga mengklaim bahwa kilang minyak Rusia kedua, di wilayah Yaroslavl sekitar 700 kilometer (435 mil) dari perbatasan Ukraina, terkena serangan udara pada malam hari.

Tidak ada laporan langsung dari pihak berwenang Rusia mengenai serangan Ukraina terhadap kilang minyak Yaroslavl.

Ukraina Desak Rusia Mulai Bahas Perdamaian

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menanggapi klaim Rusia baru-baru ini bahwa Amerika Serikat mundur dari apa yang disebut "semangat Anchorage", dengan mengatakan bahwa Moskow seharusnya fokus pada negosiasi yang tulus untuk mengakhiri perang.

Sybiha mengatakan, selain Rusia sendiri, tidak ada seorang pun yang sepenuhnya memahami apa yang dimaksud Moskow dengan apa yang disebut "semangat Anchorage" ketika merujuk pada hasil pertemuan puncak tahun lalu antara para pemimpin Rusia dan AS di Alaska.

"Realitas menunjukkan satu hal dengan jelas: jika 'Semangat Anchorage' itu benar-benar ada, sekarang sudah pasti mati."

"Bagi Rusia, pelajaran dari Anchorage adalah bahwa setiap rencana perdamaian yang dikembangkan tanpa Ukraina ditakdirkan untuk menjadi sekadar semangat dan menghilang," kata menteri luar negeri Ukraina, Minggu, dikutip dari Ukrainska Pravda.

"Moskow seharusnya berhenti mempercayai hal-hal gaib dan sebaliknya menanggapi proposal serius Ukraina untuk duduk di meja perundingan dan mengakhiri perang."

"Semakin lama Putin menolak untuk menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah mencapai tujuan apa pun di medan perang, semakin buruk keadaan bagi Rusia ," tambah Sybiha.

Baca juga: Intensif Serang Rusia, Drone Jarak Jauh Ukraina Nyasar dan Meledak di Turki

Pada awal Juni 2026, Kremlin menolak seruan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk mengadakan pembicaraan perdamaian baru, mengakhiri spekulasi yang berkembang bahwa negosiasi mungkin akan dilanjutkan.

Pernyataan publik sebelumnya oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, telah mengisyaratkan bahwa Moskow siap untuk berbicara.

Pernyataan-pernyataan tersebut kemudian diikuti oleh surat terbuka dari Zelensky kepada Putin, di mana ia menyerukan gencatan senjata dan pertemuan tatap muka.

Namun, Putin akhirnya menolak permintaan tersebut dan mengatakan tidak ada gunanya bertemu sampai Kyiv menarik diri dari wilayah-wilayah yang diduduki Rusia di Ukraina dan meninggalkan upayanya untuk bergabung dengan NATO.

Pada akhir Mei 2026, Rusia mengerahkan sekitar 600 drone dan 90 rudal dalam serangan terhadap Kyiv – serangan terbesar terhadap kota itu sejak 2022.

Lalu, pada pertengahan Juni, serangan Rusia menewaskan beberapa orang di ibu kota Ukraina dan merusak Kyiv-Pechersk Lavra, sebuah biara yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Ukraina kembali menuduh Kremlin menargetkan warga sipil tanpa pandang bulu dalam serangan baru-baru ini, tuduhan yang dibantah Moskow.

Karena tidak adanya pembicaraan baru, Zelensky bertemu dengan para pemimpin negara-negara yang disebut 'E3' – Inggris, Prancis, dan Jerman – di London.

Hasilnya adalah sebuah pernyataan yang menguraikan lima syarat untuk mencapai penyelesaian perang yang 'adil dan langgeng', termasuk jaminan keamanan yang 'kuat' untuk Ukraina dan persyaratan agar semua negosiasi perdamaian melibatkan Kyiv serta mitra Eropa yang lebih luas dan AS.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.