TRIBUNNEWS.COM, AS - Para pejabat Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa Israel telah merencanakan untuk membunuh para negosiator utama Iran selama pembicaraan gencatan senjata.
Demikian dilaporkan media AS The New York Times pada Kamis (2/7/2026).
Media itu mengutip pejabat Amerika yang khawatir Israel membunuh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.
Menurut laporan tersebut, pemerintahan Donald Trump sangat khawatir sehingga meminta negara-negara lain di kawasan teluk untuk memperingatkan Iran tentang kemungkinan Israel menargetkan kedua pejabat tersebut.
Para pejabat AS khawatir upaya pembunuhan setelah negosiasi dimulai secara serius pada bulan April akan mengakhiri pembicaraan dan menyulut kembali konflik.
Laporan itu menyebutkan AS mendesak Israel untuk tidak melanjutkan aksinya.
Kemudian Iran meminta jaminan dari AS, melalui perantara Pakistan dan Qatar, bahwa Israel tidak akan menargetkan tim negosiasi mereka selama pertemuan diplomatik.
Laporan tersebut merinci insiden pada bulan April lalu di mana penerbangan pulang Qalibaf dari Islamabad dialihkan ke Mashhad setelah pasukan keamanan Iran mendeteksi dua jet Israel memasuki wilayah udara Iran.
Araghchi dan Ghalibaf telah menjadi tokoh sentral dalam pembicaraan dengan AS.
Pada bulan Juni, AS dan Iran mencapai kesepakatan kerangka kerja yang dimaksudkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menetapkan dasar untuk diskusi selanjutnya tentang program nuklir Iran.
Menurut The Wall Street Journal, baik Araghchi maupun Ghalibaf telah masuk dalam daftar target Israel sejak Maret, tetapi dikeluarkan atas desakan AS setelah pembicaraan gencatan senjata dimulai.
Ghalibaf lolos dari upaya pembunuhan dua kali sejak 2025.
Perang Iran melawan AS-Israel dimulai pada 28 Februari 2026 lalu.
Dimulai dari serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior lainnya.
Di antara mereka yang tewas saat itu adalah Ali Larijani, pejabat keamanan nasional tertinggi Iran, dan Kamal Kharazi, mantan menteri luar negeri.
Keduanya dipandang sebagai pemimpin yang berpotensi lebih pragmatis yang diharapkan dapat diajak bernegosiasi oleh pemerintahan Trump.
Kedua pria itu sedang berpartisipasi dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat sebelum mereka tewas dalam serangan udara Israel.