Oleh : Hammaddin Aman Fatih *)
Dahsyatnya bencana hidrometeorologi yang memporakporandakan dataran tinggi tanah Gayo. Salah satunya adalah memutuskan mata rantai urat nadi penghubung tanah Gayo dengan daerah pesisir, yaitu Jalur Tajuk Enang-Enang.
Tujuh bulan berlalu, kalau boleh kita masih jujur “belum ada berubahan yang signifikan” dari hari H bencana 26 November 2026.
Jalan masih tetap seperti biasa. Kita tidak bisa juga menyalahkan kalau ada masyarakat yang mengatakan “bahwa seakan-akan seperti terbiarkan”.
Hingga muncul sosok yang bernama Syahrial, tokoh mengkoordinir masyarakat untuk bergerak dengan swadaya memperbaiki jalan tajuk Enang-Enang yang konon kabarnya donasinya tembus Rp 1 miliyar.
"Tajuk Enang" dalam tradisi Gayo merupakan nyanyian yang sarat kerinduan, ratapan, dan harapan. Makna itu terasa begitu relevan ketika masyarakat berbicara tentang Jalan Enang-Enang.
Jalan ini bukan hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga menjadi simbol kehidupan, harga diri, dan harapan masyarakat Tanah Gayo.
Jalan yang Menjadi Nadi Kehidupan
Jalan Enang-Enang bukan sekadar jalur penghubung antara pesisir Aceh dan dataran tinggi Gayo.
Bagi masyarakat Gayo, jalan ini merupakan urat nadi kehidupan yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, pariwisata, hingga mempererat hubungan sosial antarwilayah.
Ketika jalan ini rusak atau terputus akibat bencana, yang terhambat bukan hanya arus kendaraan, tetapi juga denyut kehidupan masyarakat.
Jalan Enang-Enang juga memiliki nilai sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan masyarakat Gayo.
Sejak dahulu kawasan ini dikenal sebagai tempat persinggahan para pelintas menuju dataran tinggi.
Karena itu, keberadaannya bukan hanya memiliki fungsi transportasi, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan historis yang patut dijaga sebagai bagian dari identitas Tanah Gayo.
Ketika Jalan Menjadi Persoalan Emosi
Tidak semua persoalan jalan hanya berkaitan dengan aspal, jembatan, atau alat berat. Ada kalanya sebuah jalan menyimpan begitu banyak cerita, harapan, bahkan emosi masyarakat yang bergantung padanya. Jalan Enang-Enang adalah salah satu contohnya.
Emosi masyarakat terhadap Jalan Enang-Enang lahir dari ketergantungan yang tinggi terhadap jalur tersebut. Jalan ini menjadi akses utama bagi petani mengangkut hasil panen, pedagang menjalankan usaha, pelajar menuju sekolah, pasien menuju fasilitas kesehatan, hingga wisatawan menikmati keindahan alam Tanah Gayo.
Ketika akses terganggu, masyarakat merasakan dampaknya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengherankan apabila muncul rasa kecewa, marah, cemas, bahkan frustrasi.
Namun, emosi tidak selalu bermakna negatif. Justru rasa kecewa itu sering berubah menjadi semangat gotong royong yang luar biasa.
Gotong Royong yang Menghidupkan Harapan
Dalam beberapa bulan terakhir, semangat gotong royong masyarakat memperbaiki Jalan Enang-Enang menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap kampung halaman masih sangat kuat.
Warga rela menyumbangkan tenaga, waktu, bahkan harta demi membuka kembali akses yang telah lama menjadi harapan bersama.
Semangat tersebut mencerminkan nilai luhur masyarakat Gayo yang menjunjung tinggi kebersamaan dalam menghadapi persoalan. Emosi kolektif yang lahir dari kecintaan terhadap daerah berubah menjadi energi sosial yang positif.
Namun demikian, gotong royong masyarakat tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk mengurangi tanggung jawabnya.
Infrastruktur strategis seperti Jalan Enang-Enang memerlukan penanganan teknis, perencanaan yang matang, serta dukungan anggaran yang memadai.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan harus hadir dengan solusi nyata agar masyarakat tidak terus bergantung pada upaya swadaya semata.
Komunikasi yang Menenangkan Emosi
Di sisi lain, emosi yang tidak dikelola dengan baik dapat memunculkan kesalahpahaman. Perbedaan pandangan mengenai penanganan jalan, tuntutan kepada pemerintah, maupun kritik di media sosial dapat berkembang menjadi konflik apabila lebih mengedepankan kemarahan daripada dialog.
Aspek keselamatan juga harus menjadi perhatian utama. Apabila kondisi jalan masih rawan longsor atau membahayakan pengguna, maka setiap langkah perbaikan harus dilakukan berdasarkan kajian teknis yang tepat.
Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat agar semangat gotong royong dapat berjalan seiring dengan standar keselamatan yang berlaku.
Perbedaan pandangan mengenai penggunaan jalan menunjukkan pentingnya koordinasi yang lebih baik antara warga dan instansi terkait.
Masyarakat Gayo dikenal memiliki budaya musyawarah dan semangat kebersamaan yang kuat. Nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi fondasi dalam menyikapi persoalan Jalan Enang-Enang.
Kritik kepada pemerintah merupakan bagian dari demokrasi sekaligus bentuk kepedulian warga. Namun kritik akan lebih bermakna apabila disampaikan secara santun, berbasis fakta, dan disertai usulan solusi.
Sebaliknya, pemerintah juga perlu menunjukkan empati melalui keterbukaan informasi, langkah penanganan yang terukur, serta kepastian waktu penyelesaian.
Jalan yang Menjadi Simbol Kehadiran Negara
Jalan Enang-Enang telah menjadi lebih dari sekadar infrastruktur. Ia menjadi simbol perhatian pemerintah terhadap masyarakat pedalaman, simbol keberlangsungan ekonomi, dan simbol harapan akan pemerataan pembangunan.
Karena itu, setiap persoalan yang terjadi pada jalan ini dengan mudah memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.
Harapan masyarakat sebenarnya sangat sederhana: jalan yang aman, nyaman, dan dapat digunakan sepanjang waktu.
Dengan akses yang baik, distribusi hasil pertanian menjadi lebih lancar, biaya transportasi dapat ditekan, sektor pariwisata kembali tumbuh, dan perekonomian masyarakat semakin bergerak.
Jalan yang layak juga menjadi simbol hadirnya negara dalam memenuhi hak dasar masyarakat atas pelayanan publik.
Penutup: Dari Ratapan Menjadi Harapan
Sebagaimana Tajuk Enang yang mengandung ratapan sekaligus harapan, kisah Jalan Enang-Enang juga menyuarakan hal yang sama.
Emosi masyarakat terhadap jalan ini merupakan sesuatu yang wajar karena lahir dari rasa memiliki dan ketergantungan terhadapnya.
Tantangan sesungguhnya bukan menghilangkan emosi tersebut, melainkan mengelolanya menjadi kekuatan bersama.
Ketika pemerintah, tokoh adat, akademisi, dan masyarakat mampu membangun komunikasi yang baik, emosi kolektif akan berubah menjadi modal sosial yang mempercepat pembangunan.
Jalan Enang-Enang tidak hanya menjadi penghubung antardaerah, tetapi juga menjadi penghubung antara harapan masyarakat dan hadirnya pembangunan yang berkeadilan di Tanah Gayo.
Pada akhirnya, Jalan Enang-Enang adalah cerminan bagaimana sebuah daerah diperlakukan. Ketika infrastruktur dipelihara dengan baik, masyarakat akan merasakan keadilan pembangunan.
Sudah saatnya Jalan Enang-Enang tidak lagi dikenal karena kerusakan dan ratapannya, tetapi dikenang sebagai bukti keberhasilan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun Tanah Gayo yang lebih maju, aman, dan sejahtera.
Sebab, sebagaimana pesan yang tersirat dalam Tajuk Enang, setiap ratapan selalu menyimpan harapan agar kehidupan menjadi lebih baik.
*) Penulis adalah Antropolog dan Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Permata, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.