Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Pusaka keris Kyai Jaran Bigar dijamas di halaman Kantor Bupati Karanganyar, Jumat (3/7/2026).
Diketahui, empu pembuat pusaka keris Kyai Jaran Bigar berjumlah dua orang dengan latar belakang berbeda.
Dua empu keris Kyai Jaran Bigar tersebut adalah Thoufik Pamudi Nugroho (34) dan Intan Anggun Pangestu (32).
Thoufik Pamudi Nugroho merupakan seorang empu yang belajar secara otodidak, sedangkan Intan Anggun Pangestu merupakan empu perempuan dari jalur akademisi.
Saat ditemui awak wartawan, Thoufik Pamudi Nugroho mengaku sebelum menjadi empu, dirinya merupakan kolektor keris dan benda pusaka lainnya.
"Awal mula tertarik, saya hanya pemerhati keris, lama-lama jadi kolektor, koleksi terus dijual," kata Thoufik, Jumat (3/7/2026) dini hari.
Thoufik menuturkan awal pandemi Covid-19 membuat aktivitasnya sebagai kolektor pusaka menjadi terhambat.
Sehingga pada tahun 2019, ia tertarik menjadi seorang empu di Besalen Sanakrida Brajangga, Kampung Beningsari, Kelurahan Bejen, Kabupaten Karanganyar.
"Saat pandemi, saya kesusahan jual beli pusaka, sehingga saya tertarik menjadi empu," kata dia.
Ia mengatakan mempelajari ilmu pembuatan keris secara otodidak.
Hingga tahun 2024, ia bersama empu perempuan bernama Intan Anggun Pangestu (32) membuat pusaka Kyai Jaran Bigar di Pendopo RM Said, Rumdin Bupati Karanganyar.
"Saya, Empu Intan Anggun Pangestu, dan masyarakat membuat pusaka Kyai Jaran Bigar di Pendopo RM Said, Rumdin Bupati Karanganyar. Bersama Empu Intan Anggun Pangestu, kami menyelesaikan pusaka itu selama enam bulan, lalu diserahkan ke Rumdin Bupati untuk dijamas," kata dia.
Terpisah, Intan Anggun Pangestu, empu perempuan pembuat pusaka Kyai Jaran Bigar, mengatakan telah mempelajari ilmu keris dan pusaka sejak 2018.
Dia mengatakan menjadi seorang empu melalui jalur akademik di ISI Solo.
"Saya belajar keris secara akademik di ISI tahun 2018-2022, kemudian berlanjut di dunia perkerisan hingga saat ini," kata Intan.
Dia mengaku terjun ke dunia keris karena iseng.
Saat itu, ia mendapat tawaran beasiswa pendidikan ilmu keris di ISI Solo dan mengambilnya.
Baca juga: Jamasan Pusaka Rumdin Bupati Karanganyar, Dua Keris Kyai Pamot dan Kyai Jaran Bigar Dibersihkan
"Awalnya iseng, karena ada tawaran beasiswa belajar di dunia keris, jadi saya berminat," kata Intan.
Ia menuturkan proses regenerasi empu perempuan cukup sulit karena profesi ini didominasi laki-laki.
Ia mengatakan hal itu menjadi tantangannya untuk mencetak empu perempuan selain dirinya.
Sebagai informasi, sebelumnya ada empu perempuan, yaitu Nyi Sombro dari Kerajaan Pajajaran dan Ika Arista dari Desa Aeng Tong-tong, Sumenep, Madura, Jawa Timur.
"Tantangannya membuat regenerasi selanjutnya, karena dunia perkerisan itu sangat-sangat eksklusif dan kebanyakan ranahnya laki-laki." kata dia. (*)