SRIPOKU.COM – Konten kreator asal Palembang, Cek Dev, mengunggah pesan haru untuk mengenang 40 hari wafatnya dr. Myta Aprilia Binti Khadriatul Azmi.
Dalam unggahan di media sosial, pemilik nama asli Devi Silviana ini mengaku masih sulit menerima kepergian dokter muda tersebut.
Melalui akun media sosial miliknya @kulinersumsell, Cek Dev menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian dr. Myta Aprilia.
Dikutip dari foto yang diunggahnya tersebut, Cek Dev tampak berziarah langsung ke makam almarhumah yang berlokasi di Muara Dua, Kabupaten OKU Selatan.
Kondisi makam dr. Myta Aprilia terlihat dipenuhi dengan hamparan bunga yang sangat lebat dan berwarna-warni.
Di atas pusara, tampak berbagai jenis bunga seperti mawar merah yang dirangkai dalam buket besar, bunga matahari berwarna kuning cerah, serta hamparan bunga pikok putih, biru, dan ungu yang menutupi hampir seluruh permukaan makam.
Selain itu, berdiri sebuah papan ucapan berbentuk hati berwarna merah muda dan putih dengan tulisan "Mengenang 40 Hari Wafatnya Anak Kami Tercinta dr. Myta Aprilia Azmi", lengkap dengan foto almarhumah semasa hidup.
Cek Dev sendiri terlihat berpose di samping makam, menyentuh rangkaian bunga tersebut dengan ekspresi wajah yang penuh duka dan kerinduan.
Dalam unggahannya, ia mengaku hingga kini masih tidak percaya bahwa dr. Myta telah berpulang untuk selama-lamanya.
"Mengenang 40 Hari adek kami Myta.Sampe sekarang yuk'an masih dak percayo Mit. Kalu Myta sudah pergi selamonyo ninggalin kami disini," tulisnya.
Cek Dev juga mengungkapkan bahwa dirinya kerap menangis saat mengenang sosok dr. Myta.
Ia mempertanyakan mengapa kepergian itu harus terjadi begitu cepat, namun akhirnya berusaha mengikhlaskan karena meyakini semuanya merupakan ketetapan terbaik dari Yang Maha Kuasa.
"Kadang yuk'an nangis dewekk, kok biso? ngapo harus myta? Dengan berjalanyo waktu kami semua harus ikhlas , semua sudah rencana Allah..," lanjutnya.
Di akhir unggahan, Cek Dev mengajak seluruh pengikut dan masyarakat untuk menyelipkan doa terbaik bagi almarhumah dr. Myta Aprilia.
"SELAMAT JALAN KESAYANGAN KAMI , AL FATIHAH (Myta Aprilia Binti Khadriatul Azmi) ," tulisnya disertai emoji berdoa.
Unggahan yang emosional tersebut langsung menuai simpati mendalam dari ribuan warganet.
Banyak netizen yang membanjiri kolom komentar dengan ucapan belasungkawa, doa agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik, serta dukungan moril bagi keluarga agar diberikan ketabahan dalam menghadapi ujian ini.
Baca juga: Viral Pesan Suara Terakhir dr Myta yang Diduga Meninggal Akibat Beban Kerja Berat: Aku Gak Kuat
Sebelumnya, duka mendalam menyelimuti dunia medis tanah air atas berpulangnya dr. Myta Aprilia Azmi, dokter lulusan Universitas Sriwijaya (Unsri) yang menghembuskan napas terakhirnya usai menjalani program internship di Jambi.
Sebuah rekaman suara pilu yang beredar menjadi bukti kuat betapa beratnya beban kerja yang harus dipikul para dokter muda ini.
"Astri aku mau minta tolong, minta tolong jadi kalau dari jadwal kan Astri ini ya, libur ya? Aku mau minta tolong gantikan jadwal aku yang pagi ini... Aku gabisa, ga kuat Astri," suara dr. Myta terdengar bergetar saat meminta bantuan rekannya untuk menggantikan jadwal jaga pada 15 April 2026 lalu.
Siapa sangka, ucapan "ga kuat" tersebut menjadi isyarat terakhir sebelum kondisi kesehatannya menurun drastis hingga akhirnya meninggal dunia di RSUP Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang pada Jumat (1/5/2026).
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung bergerak cepat melakukan investigasi terkait pola kerja dokter magang (internship) di Kuala Tungkal, Jambi.
Hasilnya mengejutkan sekaligus memprihatinkan. Praktik di lapangan ditemukan sangat menyimpang dari regulasi.
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kemenkes, Yuli Farianti, mengungkap bahwa para dokter magang di wilayah tersebut sama sekali tidak mendapatkan hari libur.
"Hari libur minimal itu satu hari setiap minggu. Kalau kejadian di Kuala Tungkal, tidak pernah ada hari libur. Sabtu sampai Minggu mereka tetap masuk," tegas Yuli dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026).
Bahkan pada hari Minggu, para peserta magang tetap diwajibkan melakukan visite bangsal dan sering kali harus menunggu Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) hingga berjam-jam atau justru mengerjakan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab DPJP tersebut.
Sesuai aturan, jam kerja maksimal adalah 40 jam per pekan. Namun, Kemenkes menemukan adanya penyalahgunaan aturan toleransi penambahan waktu 20 persen.
Dokter pendamping kerap berdalih penambahan beban kerja diperlukan demi mengejar "target kinerja".
Kondisi ini membuat para dokter magang merasa tertekan. Mereka terpaksa bekerja di luar batas kemampuan fisik karena takut penilaian kinerja mereka tidak terpenuhi, yang berisiko pada kelulusan program internship mereka.
Langkah Tegas Kemenkes: Hapus Aturan Tambahan 20 Persen
Menanggapi tragedi ini, Kemenkes mengambil langkah radikal untuk mengevaluasi program internship secara nasional.
Aturan toleransi penambahan waktu kerja akan segera dihapus dari regulasi.
"Besok tidak ada lagi kata-kata penambahan waktu 20 persen. Tepat 40 jam per minggu, tidak diperkenankan penambahan jam kerja maupun perubahan pola kerja," tegas Yuli Farianti.
Kemenkes juga menyoroti kegagalan peran dokter pendamping yang tidak menyusun jadwal jaga secara semestinya.
Ke depan, pengawasan terhadap dokter pendamping akan diperketat guna memastikan tidak ada lagi pemadatan jadwal jaga dengan alasan apa pun.
Kepergian dr. Myta yang telah menjalani tugas di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal sejak Agustus tahun lalu, menyisakan luka mendalam bagi kedua orang tuanya, Khadriatul dan Okta.
Meski harus merelakan putri tercinta, mereka berharap agar kejadian ini menjadi momentum perbaikan sistem kesehatan di Indonesia.
Orang tua dr. Myta menekankan agar sistem dokter internship yang sudah ada terus diperbaiki agar hak-hak dokter muda terlindungi.
"Kami berharap agar sistem dokter internship yang sudah baik ini makin membaik ke depannya, sehingga tidak ada lagi 'Myta-Myta' selanjutnya," ujar mereka dengan tegar.