Sosok Zain Alkhalifi, Bocah Usia 10 Tahun Juara 1 MTQH Beltim, Cita-Cita Ingin Juara Internasional
Hendra July 03, 2026 06:23 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Seorang bocah laki-laki terlihat duduk santai di deretan kursi depan Aula Kantor Camat Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Jumat (3/7/2026). 

Suasana penutupan Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadits Nabi (MTQH) Tingkat Kabupaten Belitung Timur (Beltim) 2026, terlihat ramai.

Bocah tersebut mengenakan peci hitam di kepala, dipadu kemeja batik berwarna hijau tua, khas warna dari Kafilah Kecamatan Gantung.

Sosok bocah itu bernama Zain Alkhalifi berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas 4, MIN 1 Belitung Timur. 

Meskipun masih belia, kemampuan Zain Alkhalifi tak bisa diremehkan.

Beberapa menit berselang, juri mengumumkan bahwa ia meraih Juara I Tilawah Quran Golongan Tartil Quran.

Para tamu undanganj yang hadir pun tak menyangka, kagum dengan pencapaian Zain Alkhalifi.

Mendengar namanya disebut, Zain Alkhalifi pun maju ke panggung. Raut wajahnya terlihat biasa, tak ada mimik kaget saat menerima piala yang didapatnya.

Dari atas panggung kehormatan itu, Zain Alkhalifi melemparkan senyum tipis saat dihampiri tim Posbelitung.co menghampiri untuk mengabadi momen tersebut.

"Perasaannya? Senang," ujar Zain singkat. 

Sebuah jawaban tanpa basa-basi, mencerminkan kejujuran seorang bocah.

Adapun kisah Zain hingga bisa menjadi juara bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Kisahnya dimulai dari sebuah surau di Kecamatan Gantung, tempat ia mengaji sehari-hari.

Bakat Zain pertama kali dirasakan oleh sang guru mengaji yang ia panggil Pak Eko. Melihat potensi tersebut, Pak Eko langsung mendaftarkannya untuk mengikuti seleksi di tingkat Kecamatan Gantung.

"Dulu yang nyuruh ikut lomba ini ya Pak Eko. Ada seleksi dulu di kecamatan sebelum bisa dikirim ke sini (kabupaten)," ucapnya. 

Yang cukup mengejutkan, Zain ternyata baru menekuni tilawah dan tartil secara serius sejak dua tahun lalu. Tepatnya saat ia masih berusia sekitar 8 tahun.

Selama dua tahun, di bawah bimbingan Pak Eko, Zain terus dilatih. Hari-harinya diisi oleh latihan napas dan latihan irama. 

Perjuangan itu akhirnya membawa Zain untuk kedua kalinya berada di panggung kabupaten. Ya, ajang tahun 2026 ini ternyata menjadi pembuktian kedua bagi Zain setelah tahun sebelumnya ia gagal menjadi juara. 

"Ini yang kedua kalinya ikut. Tahun kemarin sudah pernah ikut di kabupaten juga," ungkapnya. 

Pengalaman tahun lalu rupanya menjadi keuntungan bagi Zain. Saat lomba, ia mengaku tidak merasakan ketakutan sedikit pun.

"Waktu lomba kemarin? Enggak, enggak ada rasa takut atau deg-degan. Aman saja," katanya. 

Bahkan, sebelum penentuan juara, Zain sudah merasa kalau dirinya akan keluar sebagai pemenang.

Hal itu sempat ia jadikan candaan saat berkumpul bersama teman-temannya di Gantung.

"Sebenarnya aku sudah yakin dari sebelum seleksi di Gantung kalau bakal menang. Cuman waktu itu nyebutnya asal-asalan saja sama teman-teman, 'semoga nanti bisa masuk internasional'," ceritanya. 

Zain kemudian mengatakan kalau ia sempat mengira lawan-lawannya akan menggagalkan targetnya menjadi juara.

"Lawan-lawan kemarin keliatannya susah, kelihatannya berat banget. Tapi ternyata pas tampil, aku yang menang," ungkapnya. 

Kini, tantangan yang jauh lebih besar menanti di depan mata Zain. Ia harus bersiap mengikuti seleksi yang digelar LPTQ Beltim guna menentukan kuota lomba tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Oleh karena itu, Pak Eko selaku gurunya sudah memberikan PR. Ia didorong untuk menguasai tiga jenis variasi irama. 

"Kata Pak Eko, untuk persiapan ke provinsi nanti aku harus belajar tiga irama baru lagi, Jiharkah, Nahawand, sama Rost. Itu harus dilatih terus," jelasnya. 

Zain pun tidak main-main terhadap target yang akan dicapai. Ia tak mau langkahnya hanya sampai di tingkat provinsi saja.

"Targetnya nanti di provinsi Insyaallah kalau bisa juara satu lagi, mau naik terus sampai ke tingkat nasional," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.