Cerita Rayhan dan Cahya Soal Piala AFF: Dulu Cuma Penonton, Kini Bela Timnas Indonesia
Hasiolan Eko P Gultom July 03, 2026 07:30 PM

Cerita Rayhan dan Cahya Soal Piala AFF: Dulu Cuma Penonton, Kini Bela Timnas Indonesia

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suasana di N Brand Experience Center, SCBD, Jakarta, Jumat (3/7/2026) mendadak kental aroma Timnas Indonesia.

Bukan cuma dipenuhi pembahasan mengenai target Timnas Indonesia di Piala AFF 2026, di sela diskusi yang diadakan Badan Timnas Indonesia, dua pemain muda Timnas Indonesia, Cahya Supriadi dan Rayhan Hannan, juga membawa awak media yang hadir kembali bernostalgia.

Jauh sebelum nama mereka dipanggil pelatih John Herdman, keduanya hanyalah anak-anak yang larut dalam euforia Piala AFF.

Mereka duduk di depan televisi, bersorak setiap kali Timnas Indonesia bertanding, menyimpan mimpi yang saat itu terasa begitu jauh.

Kini, mimpi itu bukan lagi sekadar angan.

Beberapa hari lagi, Cahya dan Rayhan akan memulai pemusatan latihan bersama skuad Garuda sebagai bagian dari persiapan menuju Piala AFF 2026.

Dari penonton, mereka berubah menjadi pelaku utama yang akan berjuang membawa Indonesia mengejar gelar pertama di turnamen paling bergengsi Asia Tenggara tersebut.

Bagi Cahya Supriadi, kenangan yang paling membekas selalu kembali kepada Piala AFF 2010.

Kala itu, Timnas Indonesia mampu membius jutaan pecinta sepakbola Indonesia.

Di bawah mistar, sosok Markus Horison menjadi pahlawan sekaligus idola bagi Cahya kecil.

Ia mengingat betul bagaimana dirinya sangat menginginkan jersey kiper Timnas bermotif polkadot yang dikenakan Markus. Sayangnya, keinginan sederhana itu tidak pernah terwujud.

“Yang paling saya ingat adalah Piala AFF 2010. Saat itu saya mengidolakan Markus Horison. Saya bahkan sangat ingin membeli jersey kiper Timnas yang bermotif polkadot, tetapi waktu itu tidak kesampaian,” kenang Cahya.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa bertahun-tahun kemudian ia justru mengenakan lambang Garuda di dada, bukan sebagai suporter, melainkan sebagai penjaga gawang Timnas Indonesia.

“Alhamdulillah, sekarang saya justru bisa memakai jersey Timnas secara langsung. Dulu hanya bermimpi memilikinya, sekarang saya bisa mengenakannya sebagai pemain Timnas,” ujarnya dengan senyum.

Cerita serupa datang dari Rayhan Hannan.

Bagi pemain milik Persija itu Piala AFF 2010 juga menjadi titik awal lahirnya mimpi besar.

Rayhan masih mengingat bagaimana atmosfer turnamen kala itu begitu luar biasa hingga dirinya dan sang adik memiliki jaket bertema Piala AFF 2010.

Dari jaket sederhana itulah lahir sebuah janji masa kecil.

"Saya dan adik saya bahkan punya jaket Piala AFF 2010. Waktu itu saya pernah berkata kepada adik saya, Suatu hari nanti semoga kita bisa bermain untuk Timnas,” ucap Rayhan.

Mimpi itu terus tumbuh seiring berjalannya waktu.

Pada Piala AFF 2016, Rayhan menikmati aksi para pemain idolanya.

Enam tahun berselang, saat Piala AFF 2022 digelar di Indonesia, ia memilih datang langsung ke Stadion untuk menyaksikan penampilan Witan Sulaeman dan Egy Maulana Vikri.

Saat melihat kedua pemain tersebut bertanding, sebuah harapan kembali muncul di benaknya.

“Saat itu saya berpikir, semoga suatu hari nanti saya bisa bermain bersama mereka. Alhamdulillah sekarang impian itu terwujud,” ujarnya.

Kini, Rayhan tidak lagi berada di Tribun. Ia berbagi ruang ganti, menjalani latihan, dan memperjuangkan target yang sama bersama para pemain yang dahulu hanya bisa ia saksikan dari bangku penonton.

Bagi anak Harry Salisbury itu Piala AFF bukan sekadar sebuah turnamen sepakbola.

Kompetisi itu menjadi alasan mengapa seorang anak berani memiliki mimpi yang lebih besar.

“Piala AFF menjadi salah satu turnamen yang membuat saya berani bermimpi lebih tinggi. Semoga nanti akan ada anak-anak lain yang memiliki mimpi seperti saya dan termotivasi untuk mengejarnya,” pungkasnya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.