Bangunan Unik Bergaya Eropa di Klaten Ini Ternyata Mudah Dikunjungi, Begini Akses Menuju Jolontoro
Candra Isriadhi July 03, 2026 07:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Bangunan bersejarah Jolontoro di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, menjadi salah satu destinasi yang menarik perhatian para pencinta sejarah maupun wisatawan.

Lokasinya yang berada di tengah hamparan persawahan justru menambah daya tarik bangunan peninggalan masa kolonial tersebut.

Untuk menuju Jolontoro, pengunjung dapat mengakses kawasan Joho melalui jalur utama Kecamatan Prambanan.

WISATA KLATEN - Jolontoro bangunan irigasi era kolonial yang tersisa di Klaten.
WISATA KLATEN - Jolontoro bangunan irigasi era kolonial yang tersisa di Klaten. (Instagram/@kabarklaten)

Setelah memasuki wilayah desa, perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan perkampungan hingga menuju area persawahan tempat bangunan bersejarah itu berada.

Meski berada di tengah areal persawahan, akses menuju Jolontoro relatif mudah dijangkau menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dari area parkir atau jalan desa, pengunjung hanya perlu berjalan kaki beberapa saat untuk menikmati bangunan tua yang membentang di tengah sawah.

Sesampainya di lokasi, pengunjung akan langsung disambut pemandangan bangunan batu yang memanjang dengan konstruksi kokoh.

Baca juga: Sosok Mufli Budi Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Lulusan D3, S1 Tak Selesai

Sekilas, bentuknya menyerupai bangunan bergaya Eropa sehingga kerap membuat wisatawan penasaran saat melihatnya untuk pertama kali.

Masyarakat setempat mengenal bangunan tersebut dengan nama Jolontoro.

Bangunan ini telah menjadi saksi perjalanan sejarah wilayah Joho sekaligus peninggalan penting dari masa kolonial Hindia Belanda.

WISATA KLATEN - Jolontoro bangunan irigasi era kolonial yang tersisa di Klaten.
WISATA KLATEN - Jolontoro bangunan irigasi era kolonial yang tersisa di Klaten. (Instagram/@kabarklaten)

Nama Jolontoro sendiri memiliki makna yang cukup menarik.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti jalan air atau saluran air.

Penamaan itu berkaitan erat dengan fungsi bangunan pada masa lalu.

Dahulu, Jolontoro digunakan sebagai saluran air utama yang mengalirkan air untuk mendukung aktivitas perkebunan tebu pada era kolonial.

Keunikan bangunan ini juga terlihat dari ukurannya yang tidak biasa.

Jolontoro membentang sepanjang kurang lebih 700 meter melintasi area persawahan di wilayah Joho, menjadikannya salah satu peninggalan sejarah yang masih berdiri kokoh dan menarik untuk dikunjungi hingga saat ini.

Baca juga: Rumah Angel Lelga Kemalingan, Pelakunya Ternyata ART Sendiri, Topi Branded hingga Vitamin Hilang

Meski sebagian bangunan kini sudah tidak lagi utuh akibat faktor usia dan minimnya perawatan, sisa-sisa konstruksinya masih memperlihatkan kualitas pembangunan khas masa kolonial yang terkenal sangat kokoh.

Bangunan ini dibuat menggunakan susunan batu dan semen tanpa lapisan plester pada permukaannya.

Teknik konstruksi tersebut membuat tekstur batu masih terlihat jelas hingga sekarang dan justru menjadi salah satu ciri khas yang membedakannya dari bangunan modern.

Ketebalan dindingnya pun terbilang luar biasa, mencapai sekitar 100 sentimeter.

WISATA KLATEN - Jolontoro bangunan irigasi era kolonial yang tersisa di Klaten. (Instagram/@kabarklaten)

Sementara itu, tinggi bangunan bervariasi mulai dari sekitar 20 sentimeter hingga tiga meter, mengikuti kontur tanah dan kebutuhan sistem pengairan pada masa itu.

Melihat bentuk konstruksinya yang besar dan memanjang, tidak sedikit pengunjung yang mengabadikan bangunan ini sebagai latar belakang foto karena tampilannya yang unik dan memberikan nuansa klasik ala bangunan-bangunan peninggalan Eropa.

Di balik kemegahan konstruksinya, Jolontoro memiliki peran yang sangat penting pada masa lalu.

Bangunan ini dibangun sebagai bagian dari sistem irigasi untuk mengalirkan air ke perkebunan tebu yang menjadi pemasok bahan baku Pabrik Gula Gondang Winangoen, salah satu pabrik gula bersejarah di Klaten.

Keberadaan saluran air ini menjadi penunjang utama aktivitas perkebunan sehingga produksi tebu pada masa itu dapat berjalan dengan baik.

Namun, seiring perubahan zaman dan perkembangan teknologi pengairan, fungsi Jolontoro mulai ditinggalkan.

Bangunan tersebut kini sudah tidak lagi digunakan sebagai saluran irigasi.

Selain karena sistem pengairan telah berubah, biaya perawatan bangunan yang cukup besar juga menjadi salah satu alasan mengapa Jolontoro tidak lagi difungsikan seperti dahulu.

Meski demikian, keberadaan bangunan ini masih menjadi pengingat penting akan sejarah panjang industri perkebunan dan sistem irigasi pada masa kolonial di Klaten.

Dengan bentuk bangunan yang unik, konstruksi yang masih terlihat kokoh meski telah berusia puluhan tahun, serta nilai sejarah yang melekat di dalamnya.

Jolontoro menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang menarik untuk dikunjungi sekaligus dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari warisan budaya di Kabupaten Klaten.

(Tribunnewsmaker.com/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.