Kolaborasi MAPALASTA Dorong Restorasi Gunung Bulu Bawakaraeng Berbasis Ekoteologi dan Kearifan Adat
Sakinah Sudin July 03, 2026 08:08 PM

Citizen Reporter: Faisal

Mahasiswa Mahasiswa Pencinta Alam Sultan Alauddin (MAPALASTA) UIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Mahasiswa Pencinta Alam Sultan Alauddin (MAPALASTA) UIN Alauddin Makassar kembali menunjukkan komitmennya dalam agenda riset nasional.

Kali ini, mereka terlibat aktif sebagai kolaborator pada Focus Group Discussion (FGD) Validasi Konsep Post-Complex Humanitarian Emergency: Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (POSTCHE-EHRF).

Kegiatan berlangsung di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), 24-25 Juni 2026.

Setelahnya, dilanjutkan penyusunan rancang tindak lanjut 6 di Rumah Adat Mandar, Benteng Somba Opu, 25-27 Juni 2026.

POSTCHE-EHRF merupakan program riset yang didanai melalui MoRA The AIR Funds LPDP Kementerian Agama Republik Indonesia periode 2025-2027.

Penelitian ini kolaborasi Kementerian Agama RI, IAIN Kendari, LPDP, IAIN Bone, Universitas Negeri Makassar, FISS, Yayasan Bumi Toala Indonesia, MAPALASTA UIN Alauddin Makassar, dan WIRPALA Politani Pangkep, dengan Dr. Andi Yaqub, M.H.I. sebagai Principal Investigator.

Keterlibatan MAPALASTA dalam riset ini menjadi komitmen kelanjutan dari observasi lapangan di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng bersama tim peneliti lintas disiplin April 2026 lalu.

Pada tahap FGD, MAPALASTA tidak hanya mengikuti proses validasi konsep EHRF, tetapi juga berperan sebagai mitra pelaksana kegiatan sekaligus memfasilitasi keterlibatan organisasi Mahasiswa Pencinta Alam  (MAPALA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai wilayah Indonesia Timur.

Melalui keterlibatan tersebut, MAPALASTA mendorong agar forum ilmiah tidak berhenti pada penyusunan kerangka akademik, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi organisasi pecinta alam kampus dalam memperkuat peran generasi muda terhadap isu konservasi, kebencanaan, kemanusiaan, dan pelestarian lingkungan.

Dalam sambutannya, Ketua LPPM IAIN Kendari, Dr. Abdul Kadir, M.Pd., menegaskan, bahwa keterlibatan pemangku adat dan tokoh agama merupakan bagian penting dalam memastikan validitas ilmiah sekaligus legitimasi sosial terhadap kerangka pemulihan yang sedang disusun.

"Kehadiran para pemangku adat dan tokoh agama merupakan inti dari keabsahan ikhtiar ilmiah yang dilakukan," kata Abdul Kadir.

"Pengetahuan lokal dan nilai-nilai spiritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam penyusunan kerangka pemulihan kawasan Bulu Bawakaraeng," ujarnya.

Gunung Bulu Bawakaraeng dipandang sebagai kawasan pegunungan yang memiliki kerentanan geomorfologis tinggi sekaligus menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang kuat. Karena itu, penelitian ini diarahkan untuk merumuskan model pemulihan kawasan pascakedaruratan yang mengintegrasikan ekoteologi Islam, pengetahuan adat, geomorfologi, dan tata kelola pelestarian.

Jalannya Forum

Sebanyak 77 peserta dan 37 peninjau mengikuti forum tersebut.

Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari pemangku adat kawasan Bulu Bawakaraeng, tokoh agama, Pemerintah Provinsi Sulsel beserta dinas teknis, BPBD, Kantor Wilayah Kementerian Agama, BBKSDA Sulsel, dan PUSDAL LH SUM.

Selain itu, dari organisasi Mahasiswa Pencinta Alam PTKIN, komunitas pecinta alam, akademisi, dan para narasumber ahli.

FGD menghadirkan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Dr. Farid F. Saenong,

Selain itu Ketua LPPM UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan Reviewer Nasional Prof. Dr. Ngainun Naim.

Mereka memberikan penguatan mengenai nilai-nilai ekoteologi dalam proses validasi konsep Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (EHRF).

Selama forum berlangsung, peserta menerapkan pendekatan Participatory Ecotheological Assessment (PEA) melalui pemaparan hasil survei lapangan, validasi data, dan diskusi pada empat domain utama, yakni biofisik dan geomorfologi, sosial-spiritual, tata kelola, serta indikator dan sistem pemantauan.

Menurut Ketua Tim Peneliti, Dr. Andi Yaqub, FGD ini menjadi ruang bertemunya berbagai bentuk pengetahuan dalam menyusun model pemulihan kawasan.

"FGD ini bukan forum akademisi yang menggurui masyarakat, melainkan ruang pertemuan berbagai bentuk pengetahuan untuk bersama-sama menyusun kerangka pemulihan yang relevan, ilmiah, dan berakar pada nilai-nilai lokal," jelasnya.

Ekoteologi, Konservasi, Jejaring, Kemanusiaan

Bagi MAPALASTA, pendekatan ekoteologi yang dikembangkan dalam riset ini akan memberikan perspektif baru upaya konservasi, tidak hanya dipahami sebagai perlindungan terhadap ekosistem, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual manusia terhadap alam.

Semangat tersebut kemudian menjadi salah satu materi yang turut didiskusikan dalam Sharing Session MAPALA PTKIN Indonesia Timur yang diinisiasi MAPALASTA pasca 2 hari rangkaian FGD.

Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman antarorganisasi pecinta alam kampus mengenai tantangan konservasi di daerah masing-masing sekaligus membahas arah penguatan jejaring dan peran MAPALA PTKIN dalam merespons isu lingkungan, kebencanaan, dan kemanusiaan di masa mendatang.

Dari proses validasi yang dilakukan, forum menghasilkan sejumlah rekomendasi penting.

Berikut diantaranya:

  • tervalidasinya komponen inti kerangka pemulihan yang mengintegrasikan ekoteologi Islam, kearifan adat, dan tata kelola pelestarian,
  • teridentifikasinya prioritas titik restorasi beserta batas etika pemanfaatan kawasan sakral,
  • tersusunnya peta aktor dan mekanisme koordinasi lintas lembaga, 
  • dirumuskannya indikator awal pemantauan pada aspek biofisik, sosial-spiritual, dan tata kelola.

Forum juga mengidentifikasi sejumlah situs dan jejak sejarah yang berkaitan dengan peradaban Islam di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai bagian dari pemetaan kawasan yang memiliki nilai sejarah sekaligus tingkat kerentanan bencana.

Bahan Rekomendasi

Seluruh hasil FGD akan menjadi dasar penyempurnaan EHRF sekaligus bahan rekomendasi bagi para pemangku kebijakan.

Sebagai tindak lanjut, MAPALASTA juga merencanakan diskusi terbuka pada akhir Juli 2026 sebagai ruang diseminasi hasil awal penelitian sekaligus memperluas dialog publik mengenai restorasi Gunung Bulu Bawakaraeng berbasis ekologi, kemanusiaan, dan ekoteologi.

Bagi MAPALASTA, keterlibatan dalam POSTCHE-EHRF tidak hanya menjadi bagian dari kolaborasi riset nasional, tetapi juga merupakan wujud komitmen organisasi dalam memperkuat tradisi keilmuan, pengabdian, dan gerakan konservasi yang berpijak pada ilmu pengetahuan, nilai-nilai kemanusiaan, serta etika lingkungan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.