TRIBUNPEKANBARU.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sorotan publik setelah blak-blakan membahas berbagai persoalan yang tengah menjadi perhatian publik.
Purbaya hadir sebagai narasumber dalam podcast milik Denny Sumargo.
Selama wawancara berlangsung, Purbaya terlihat antusias menjelaskan pandangannya mengenai berbagai kebijakan dan arah pembangunan nasional.
Di sisi lain, Denny Sumargo yang akrab disapa Densu juga tampak aktif melontarkan pertanyaan dan tanggapan sepanjang percakapan.
Perbincangan semakin menarik ketika topik bergeser membahas sosok Presiden Prabowo Subianto.
Purbaya secara terbuka memuji Prabowo sebagai pemimpin yang cerdas dan mudah menerima berbagai masukan dari para menterinya.
Menurutnya, Presiden Prabowo juga memiliki sikap kritis dan kemampuan analisis yang baik dalam mengambil keputusan.
Karena karakter tersebut, Purbaya menilai Prabowo tidak pernah gegabah dalam menentukan kebijakan negara.
Tanggapan Denny Sumargo terhadap pujian tersebut kemudian memicu perbincangan menarik yang menjadi perhatian publik di media sosial.
"Dia (Prabowo) orang pintar, cepat sekali adjust-nya, ada menteri ngomong A 'pak saya gini gini', presiden tiba-tiba marah 'kamu kenapa lama banget? kamu saya suruh kenapa kamu minta waktu setahun lagi?'.
(kata menteri) 'pak saya enggak minta setahun'. (Kata Prabowo) kamu kan tadi minta studi kelayakan lagi, itu kan minimal setahun'," ungkap Purbaya, dilansir TribunnewsBogor.com dari Youtube Denny Sumargo, Jumat (3/7/2026).
Baca juga: Wako Pekanbaru Sampaikan Rekomendasi dalam Rakernas APEKSI ke-18, Program MBG Tetap Dilanjutkan
Setelah kenal beberapa lama, Purbaya meyakini bahwa Prabowo adalah sosok yang pintar.
Terlebih, dipastikan oleh Purbaya, Prabowo ingat ucapan para menterinya, termasuk soal angka.
"Jadi di situ saya tahu, presiden itu pintar banget, ingat angka-angka yang kita sebutkan, jadi habis itu saya enggak berani ngibul, kalau jelek kita ngomong aja biar dia ambil keputusan, dia itu orang pintar," imbuh Purbaya.
Mendengar ucapan Purbaya tersebut, Densu tampak heran.
Densu lantas bertanya kenapa Prabowo bisa tertipu oleh mantan Kepala BGN Dadan Hindayana.
Seperti diketahui, Dadan Hindayana ditangkap oleh Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi Makan Bergizi Gratis ( MBG) pada 3 Juni 2026 lalu.
Terkait hal tersebut, Purbaya menjawabnya singkat.
"Tapi kok bisa (Prabowo) dikibulin si pak Dadan?" tanya Densu.
"Bukan dikibulin, dia (Prabowo) tahu, dia (Prabowo) hatinya baik," jawab Purbaya.
"Maaf ya pak Presiden ya," timpal Densu sembari melihat ke arah kamera.
"Pak presiden hatinya baik," pungkas Purbaya.
"Yang enggak dipercaya juga tetap aja dia (Prabowo) baik. Karena saya pernah memecat orang, ya karena dia baik enggak jadi dipecat, padahal dia tahu kesalahan orang itu," sambungnya.
Sebelum didesak mahasiswa untuk hentikan MBG, Presiden Prabowo menyatakan bakal mengurangi anggaran.
Terkait hal ini, Menkeu Purbaya mengatakan akan mengikuti apapun keputusan Presiden Prabowo Subianto.
"Kita ikutin keputusan Bapak Presiden," ujar Purbaya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Hanya saja, terkait besaran pengurangan anggarannya, Purbaya belum bisa berkomentar.
Dia meminta publik menunggu tindak lanjut dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang mengenai program MBG usai anggaran dikurangi.
"Nanti kita tunggu dari Bu Nanik seperti apa ya," imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, memastikan bakal ada pengurangan anggaran MBG.
"Bukan pemangkasan ya, tapi dari hasil perhitungan, kita meyakini akan ada pengurangan kebutuhan anggaran dari Program MBG ini,” kata Prasetyo usai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Gizi Nasional (BGN) akan menghitung anggaran MBG.
"Jadi, dari proses penataan nanti akan bisa kita hitung dengan lebih cermat sesungguhnya anggaran yang dibutuhkan untuk Program MBG ini totalnya menjadi berapa," kata Prasetyo.
Per tahun 2026, anggaran MBG telah ditetapkan sebesar Rp 268 triliun.
( Tribunpekanbaru.com / Tribunmedan )