TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP— Memasuki musim kemarau, ketersediaan air bersih menjadi perhatian masyarakat di berbagai daerah.
Di Kabupaten Sidrap, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Saromase memastikan, pasokan air baku masih aman.
Distribusi air kepada pelanggan, tetap.
Berdasarkan data resmi terakhir dari Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan, jumlah pelanggan Perumda Tirta Saromase sebanyak 7.194 sambungan.
Tirta Saromase merupakan Perumda Sidrap bergerak di bidang pelayanan air minum.
Perusahaan ini sebelumnya bernama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Nene Mallomo.
Pada 2025, Tirta Nene Mallomo berubah menjadi Perumda Tirta Saromase melalui Peraturan Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang Nomor 1 Tahun 2025.
Saromase adalah istilah budaya Bugis. Menjadi filosofi dan slogan pembangunan Sidrap.
Saromase sering digaungkan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif dalam sejumlah kegiatan.
Slogan itu bermakna, saling memberi tanpa pamrih, berbagi dengan tulus, atau memberi dengan keikhlasan.
Rincian pelanggan PDAM di Sidrap tersebut terdiri, rumah tangga: 6.355 pelanggan; instansi pemerintah 594 pelanggan; komersial atau niaga152 pelanggan; dan Industri 93 pelanggan.
Jaringan perpipaan PDAM saat ini terkonsentrasi di kawasan perkotaan dan ibu kota kecamatan.
Di antaranya di Maritengngae, Panca Rijang, Watang Pulu, Baranti, Tellu Limpoe, Pitu Riase, Pitu Riawa, Dua Pitue, Kulo, serta wilayah perkotaan Kecamatan Panca Lautang.
Sedangkan daerah berjauhan dari jalur pipa utama masih banyak mengandalkan sumur bor, mata air, atau sistem penyediaan air minum desa (SPAM), terutama bagi masyarakat tinggal di area pegunungan.
Area pegunungan Sidrap berada di wilayah timur, Kecamatan Pitu Riase, sebagian daerah Tellu Limpoe, Dua Pitue dan Pitu Riawa.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Saromase Sidrap, Andi Hindi, mengatakan hingga awal Juli 2026 pihaknya masih mampu melayani sekitar 8.000 pelanggan di sejumlah wilayah.
Meski demikian, ia mengakui pada musim kemarau debit air di beberapa titik distribusi dapat mengalami penurunan.
Kondisi itu memengaruhi tekanan air ke rumah pelanggan.
"Alhamdulillah, kondisi air baku sampai hari ini masih aman. Pelayanan kepada sekitar 8.000 pelanggan tetap berjalan. Kalau pun ada gangguan atau tekanan air melemah di beberapa wilayah, kami minta masyarakat segera melapor agar tim teknis bisa langsung turun melakukan pengecekan di lapangan," ujar Andi Hindi, Jumat (3/7/2026).
Menurut anggota DPRD 2009 hingga 2014 itu, keluhan pelanggan tidak selalu disebabkan berkurangnya ketersediaan air baku.
Gangguan distribusi juga dapat terjadi akibat perbaikan jaringan perpipaan, proses pembersihan instalasi, maupun kendala teknis lainnya yang membutuhkan penanganan segera.
"Kalau air tidak mengalir seperti biasanya, belum tentu karena sumber air berkurang. Bisa saja ada pekerjaan perbaikan jaringan, pembersihan instalasi, atau gangguan teknis lainnya. Karena itu kami berupaya merespons setiap laporan secepat mungkin agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu terlalu lama," jelasnya.
Komitmen tersebut terlihat ketika Perumda Tirta Saromase menerima laporan dari salah seorang pelanggan, Hj Parida, warga Kelurahan Rijang Pittu, Kecamatan Maritengngae.
Maritengngae merupakan kecamatan sekaligus pusat pemerintahan Sidrap.
Rumahnya di depan Kampus Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Muhammadiyah Sidrap mengalami penurunan aliran air dibanding hari-hari sebelumnya.
Begitu menerima laporan, Andi Hindi langsung menginstruksikan tim teknis mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi jaringan perpipaan sekaligus memastikan penyebab gangguan.
Hj Parida mengapresiasi respons cepat yang diberikan petugas PDAM.
Menurutnya, laporan yang ia sampaikan tidak dibiarkan berlarut-larut sehingga masyarakat merasa diperhatikan sebagai pelanggan.
"Begitu saya menyampaikan keluhan, petugas langsung datang mengecek. Saya bersyukur karena laporan kami cepat ditindaklanjuti. Harapan kami pelayanan seperti ini terus dipertahankan sehingga masyarakat tidak khawatir ketika ada kendala," kata Hj Parida.
Respons cepat terhadap setiap pengaduan, menurut Andi Hindi, menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Ia menegaskan pihaknya tidak ingin keluhan pelanggan berhenti hanya sebagai laporan.
Hal tersebut harus diikuti tindakan nyata di lapangan agar masyarakat tetap memperoleh akses air bersih secara optimal, terutama pada musim kemarau ketika kebutuhan air cenderung meningkat. (*)
Laporan ReporterSidrap: Hardiyanti Kamaluddin